Mohon tunggu...
Uli Hartati
Uli Hartati Mohon Tunggu... Blogger

A wife, mommy of 2 boys, working mom also as a blogger Contact me : WA 089627103287 Email uli.hartati@yahoo.com Blog http://ulihape.com IG dan Twitter @ulihape

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Aku dan Tradisi Menyambut Ramadhan

9 Mei 2019   20:07 Diperbarui: 9 Mei 2019   20:19 0 2 0 Mohon Tunggu...
Aku dan Tradisi Menyambut Ramadhan
By ulihape

Sehari sebelum kami sahur, sore harinya dari dapur akan tercium aroma yang sangat wangi. Aroma pandan berpadu dengan aneka bunga dan potongan jeruk purut selalu membuat aku yakin bahwa besok kami sudah berpuasa. Aroma khas ini sampai kini selalu hadir dalam penciumanku setiap menjelang Ramadhan.

Ya, dulu sewaktu aku masih kecil tradisi mandi balimau adalah tradisi yang keluargaku lakukan menjelang Ramadhan. Sehabis Ashar kami akan mandi bersama terkadang ke sungai atau cukup di rumah saja. Rempah khas yang sudah dimasak sebagai biang wangi untuk disiramkan ketubuh pada bilasan terakhir adalah ciri khas mandi balimau. Kalau calon manten pernah mandi rempah, nah begitulah tradisi mandi balimau menjelang Ramadhan yang kerap kami lakukan.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan bertambahnya ilmu Agama, entah kapan tepatnya mamak sudah tidak mengadakan lagi ritual mandi balimau kesukaanku. Kalau dipikir-pikir memang agak aneh sih ya hehe kan ceritanya kita sedang menyambut bulan penuh kemuliaan lalu kenapa kita pergi mandi bareng ke tempat terbuka dengan segala kebahagiaan duniawi? 

Tak jarang juga ada budget khusus untuk melakukan ritual menyambut Ramadhan, yah paling enggak memasak makanan istimewa jadi memang kesannya ada kesia-siaan disana meski yangs edang menjalani tidak merasa demikian.

Saat ini aku bekerja di sebuah perkebunan yang berada di Aceh dan salah satu tradisi menyambut puasa biasanya karyawan di perkebunan kami akan mengajukan "pinjaman Meugang", artinya mereka mengajukan dipinjamkan sejumlah dana untuk menyambut Ramadhan dengan sebutan "Meugang". Meugang yang aku lihat lebih kepada berbagi makanan seperti rendang, gulai kambing ke orang-orang tercinta seperti orang tua, mertua, anak-anak yatim. Tapi kenapa harus berhutang ? Namanya juga tradisi, begitu mereka menjawabnya.

Kini aku telah memiliki anak, suami dan ternyata setelah aku bebas dari segala ritual menyambut bulan Ramadhan aku masih berhadapan dengan tradisi dari pihak keluarga suami. Sebagai orang Sunda ternyata keluarga Suami juga menyambut bulan Ramadhan dengan Munggahan, jadi setiap keluarga memasak ayam baik di opor atau digoreng yang harus diantarkan ke mesjid/musholla untuk dinikmati bersama-sama selepas Ashar lalu dilanjutkan dengan saling memaafkan.

Sejak menjadi istri dan Ibu alhamdulillah aku enggak bikin tradisi apapun menyambut Ramadhan, bahkan sekedar memasak menu istimewa pun tidak. Ziarah kubur memang kerap kami lakukan untuk menyampaikan salam rindu, Ramadhan mungkin adalah bulan yang dinanti dan dirindu seluruh umat muslim. Karenanya mengunjungi makam kami yakini bisa membawa bahagia bagi yang sudah mendahului kami.

Rasul Menyambut Ramadhan

Pernah aku bertanya ke guru Agama, apakah tradisi seperti mandi balimau itu ada pada Zaman Rasul ? Jawabannya tidak, ternyata Rasul menyambut Ramadhan dengan cara yang berbeda, namun setelahnya dengan keberagaman umat islam apalagi di Indonesia maka tradisi menyambut bulan Ramadhan sangat beraneka ragam mengikuti budaya masing-masing daerah.

Rasul dalam menyambut bulan Ramadhan dengan memperbanyak do'a, memperbanyak ibadah puasa di bulan Sya'ban dan menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan karena mengetahui banyaknya kebaikan bagi umat manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2