Mohon tunggu...
Uli Hartati
Uli Hartati Mohon Tunggu... Blogger

A wife, mommy of 2 boys, working mom also as a blogger Contact me : WA 089627103287 Email uli.hartati@yahoo.com Blog http://ulihape.com IG dan Twitter @ulihape

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bersedia Hidup Susah?

2 Maret 2016   16:44 Diperbarui: 2 Maret 2016   17:59 412 3 2 Mohon Tunggu...

Tak muluk-muluk yang penting mau diajak hidup susah.

Begitulah kebanyakan kaum adam menambahkan kategori untuk mencari seorang istri.
Lantas ada komentar "mau nikah kok ngajak anak orang hidup susah?"

Iya, siapa yang mau hidup susah ? Namun sejatinya keinginan itu memang wajib diutarakan. Dan aku percaya bahwa impian setiap pria adalah memberikan kebahagiaan bagi pasangannya, ingat loh ya impian. Dan bagiku memang "kemauan untuk hidup susah ini harus di tanyakan kepada pasangan kita. Toh hidup ini kata nenek moyang kita bak roda pedati (ingat ini selagi roda pedati itu bulat) kadang up kadang down , sukur-sukur bisa selalu ditengah. Dan tentunya pertanyaan "maukah hidup senang denganku?" sudah barang tentu bukan pertanyaan menantang untuk di jawab, karena apa? Karena hidup enak, hidup berkecukupan itu gak ribet, gak butuh skill, ga butuh teori untuk melakoninya. Tapi ketika pertanyaannya bersediakah hidup susah ? Maka ngejawabnya saja sudah harus mikir.

 [caption caption="Dokumentasi Pribadi"][/caption]

Aku mungkin hanyalah salah satu perempuan yang diajak untuk hidup susah. Jelas! karena memang calon suamiku tak memiliki harta warisan, pekerjaan juga biasa saja dengan gaji dibawah UMR. Bahkan Papaku sampai memberi nasihat karena beliau khawatir aku akan hidup susah. Aku disuruh berpikir matang-matang dengan keputusanku. Teori ekonomi rumah tangga juga dijabarkan dengan jelas. Namun saat itu aku dihadapkan dengan pilihan yang tak menarik "bersedia hidup susah" atau "hidup senang?".

Beruntung Allah memberiku hidup yang enak selama bersama orangtua, tak kaya sekali tapi paling tidak pulang pergi sekolah diantar jemput naik mobil pribadi. Aku berteman dengan banyak orang kaya alias anak pejabat. Which is terkadang aku bermimpi berada diposisi mereka, namun sering kali justru mereka sangat bahagia melihat kehidupanku "enak kali li hidup mu" dan dari hal ini aku selalu berkesimpulan bahwa "uang bukan segalanya", toh mereka yang berduit saja ingin bertukar posisi denganku.

Lalu kejombloanku yang akut (menikah saja umur 33 tahun) banyak memberi gambaran bahwa hidup berumah tangga itu mau kaya atau tidak selalu ada masalahnya, bahkan ketika seorang teman yang di garasinya ada 8 jenis mobil, toh masih datang kehadapanku dengan derai air mata ? karenanya memang dari awal aku tak memberi kategori "pria mapan" sebagai pasangan hidupku, meski ada dalam harapan...

Yup, aku mau hidup susah ! dan jawaban itu membuat calon suamiku bahagia, namun tetap ada syaratnya bahwa kesusahan ini jangan ditambah derita dengan pengkhianatan, sekali terjadi maka "kelar hidup kita", kesepakatan tercapai.

Susah kah aku ? Iya , menderita ? Tidak

Bisa dibilang hidupku mengalami penurunan gaya hidup, tapi tak mengapa karena aku masih bisa bahagia. Diawal menikah kami menumpang dirumah peninggalan orang tua suami, dan didalam rumah itu ada 3 Kepala Keluarga, ribet? TIDAK, aku bahagia bisa bersama, tugas rumah menjadi sangat sedikit karena keburu diborong dengan kakak-kakak ipar. Ada 7 bulan lamanya aku menumpang disana, sampai akhirnya mamak menawarkan bantuan untuk membelikan rumah, meski bantuan itu datang dari orang tua tetap saja itu cara Allah menolong kita bukan ? Akhirnya aku dan suami sekarang bisa berteduh disebuah rumah cicilan.

 [caption caption="Poto Keluargaku"]

[/caption]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN