Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Kelemahan Dasar Atheis Ketika Mereka Dibawa ke Ranah Persoalan Metafisik

7 Maret 2020   07:55 Diperbarui: 7 Maret 2020   17:58 454 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kelemahan Dasar Atheis Ketika Mereka Dibawa ke Ranah Persoalan Metafisik
Image: Newsweek

Seorang polisi memberhentikan pengendara mobil yang ketahuan melanggar rambu lalu lintas.dengan sopan sang polisi lalu menyapa sang pengendara :'selamat pagi,maaf anda kami berhentikan karena telah melanggar aturan lalu lintas karena mengemudikan kendaraan sambil melamun memikirkan utang utang...'

Sontak sang pengemudi kaget,lalu balik bertanya kepada pak polisi :'pak saya memang melanggar rambu lalu lintas tapi darimana bapak tahu bahwa saya tengah melamun memikirkan soal hutang ...'

Itu hanya anekdot lucu lucu an tentang sesuatu yang dapat disebut melanggar batas kaidah pengetahuan.bahwa sang pengemudi melanggar rambu lalu lintas secara kaidah keilmuan itu adalah bukti empirik otentik tetapi bahwa si pengemudi disebut tengah melamun memikirkan soal utang utang maka itu adalah wilayah non empirik,wilayah metafisik yang tak bisa diklaim sepaket sebagai 'bukti empirik'.karena bukan bukti empirik otentik maka pernyataan pak polisi tentang 'mengemudi sambil melamun memikirkan utang utang' dapat disebut sebagai hanya asumsi yang kebenarannya tidak bersifat pasti

Nah sekarang analogi diatas dapat kita gunakan ketika kita masuk kedalam ranah dunia sains untuk melihat sampai sejauh mana sains dapat bekerja atau sampai mana wilayah yang masih dapat ditelusur oleh sains dan mana wilayah yang sudah berada diluar jangkauan sains

Sebagaimana kita ketahui sains adalah ilmu fisik dan kekuasaannya hanya berada sebatas di wilayah dunia fisik.sebagai contoh, sains dapat memastikan seseorang masih hidup ataukah sudah mati.tapi sains tidak dapat menelusur apa yang terjadi sesudah seseorang itu mati.bila,ada saintis yang mengatakan bahwa setelah mati ruh seseorang itu masih berada di sekitar tubuhnya maka sejatinya itu bukan kepastian berdasar sains tapi hanya sekedar asumsi belaka,dan pernyataan sejenis itu tak bisa disebut sebagai pernyataan sainstifik tetapi hanya berdasar pandangan pribadi belaka

Sebagaimana analogi diatas bahwa peralatan yang dimiliki polisi hanya dapat menangkap pelanggaran pelanggaran lalu lintas yang bersifat fisik-lahiriah-nampak mata tetapi sebab awal dari terjadinya pelanggaran fisik tersebut yang bersifat non fisik seperti melamun itu sama sekali diluar kekuasaan polisi untuk memastikannya

Nah dalam wilayah sains pun kejadian yang analoginya ibarat polisi yang menuduh 'melamun memikirkan utang' tersebut itu bisa banyak terjadi !

Banyak saintis yang masuk ke wilayah metafisik dan lalu tergoda mengeluarkan statement statement yang bersifat metafisik tapi seolah dengan masih mengatasnamakan sains seolah pernyataannya itu adalah pernyataan sainstifik padahal sejatinya hanya pandangan pribadi sang saintis belaka.

Bila kita menyimak para saintis terkemuka seperti Einstein,Steven Hawking atau Richard Dawkins maka ketiganya banyak bicara masalah ketuhanan,bahkan Hawking dan Dawkins membuat buku yang banyak menyinggung masalah ketuhanan,apakah kegiatan mereka masuk wilayah metafisik itu masih bisa disebut kegiatan sains ? tentu saja tidak.ketika mereka mulai masuk ke wilayah metafisika sejatinya mereka sudah tak bisa lagi membawa bawa sains karena itu merupakan kegiatan diluar sains dan hanya bersandar pada pandangan pribadi masing masing

Apakah buku 'God delusion' adalah buku sains ? tentu saja pasti bukan,tapi buku yang berisi pandangan pribadi Dawkins terhadap masalah ketuhanan

Karena sebagaimana analogi diatas perangkat kepolisian tak punya alat untuk masuk ke wilayah pelanggaran yang bersifat non fisik seperti pengemudi melamun, stress,berkhayal dlsb.kecuali sebatas mengetahui pelanggaran yang bersifat fisik belaka maka sains tidak memiliki peralatan ilmiah untuk masuk ke dunia metafisik dan lalu membuat rumusan rumusan yang bersifat metafisik

Sains pun tidak memiliki peralatan ilmiah untuk menghakimi deskripsi deskripsi metafisik yang lahir dari agama.jadi kalau ada yang membenturkan sains dengan agama karena pernyataan agama yang bersifat metafisik seperti soal keberadaan Tuhan,alam akhirat,saitan,malaikat dlsb.maka itu bukan benturan antara sains dengan agama tapi benturan antara pandangan pribadi dengan agama yang seolah mengatas namakan sains

Karena sains tak memiliki peralatan ilmiah untuk bisa merumuskan Tuhan itu ada atau tak ada,kehidupan akhirat itu ada atau tak ada,ruh itu ada atau tidak ada dlsb.

Bila sains menemukan fakta bahwa ada mekanisme di lingkungan alam semesta tempat manusia tinggal sebagaimana dinyatakan oleh Newton dan lalu berdasar temuan itu ada orang yang merumuskan bahwa Tuhan itu ada maka sejatinya itu bukan rumusan sainstifik tapi rumusan akali atau rumusan rasional.atau dengan kata lain seseorang merumuskan keberadaan Tuhan berdasar melihat fakta empirik itu karena ia menggunakan akal fikirannya-menggunakan hukum logika yang menyatakan bahwa wujud terdesain mutlak harus berasal dari adanya sang pendesain,bukan menggunakan dalil atau hukum sains,bukan berdasar dalil hukum fisika secara langsung

Demikian pula di sisi lain,pernyataan Einstein bahwa 'Tuhan itu tidak memiliki sifat personal' (memiliki perasaan seperti manusia) atau pernyataan Hawking bahwa hukum gravitasi tak memerlukan campur tangan Tuhan itu adalah pernyataan berdasar pandangan metafisis masing masing dan sama sekali bukan pernyataan sainstifik

Nah yang menjadi masalah besar adalah ketika pernyataan pernyataan saintis ternama itu sampai ke ranah publik,maka publik awam yang tak bisa kritis-yang tak faham hakikat serta batasan sains malah menyangka pernyataan pernyataan mereka itu sebagai sikap sains serta pernyataan sainstifik !

Padahal dalam pergulatan metafisis antara theis dan atheis sains itu sebenarnya menempati posisi yang bisa disebut netral karena sains tak lebih dari sekedar ilmu fisik,tapi ia bisa ditafsir ke kiri atau ke kanan atau bahkan mungkin 'ke barat-timur-utara dan selatan' oleh masing masing pribadi manusia berdasar kacamata sudut pandang serta visi-misi dan tujuannya

Orang yang ingin menyeret sains ke ranah atheisme misal maka mereka berupaya menafsir sains berdasar cara pandang ideologi materialisme ilmiah. maka lahir rumusan yang misal menyebut fikiran itu sebagai 'materi' dan menolak keberadaan roh atau hal hal spiritual dalam diri manusia. lalu kegiatan berfikir pun ditafsir sebagai kegiatan unsur kimiawi yang ada dalam tubuh berlawanan dengan pandangan theis yang memandang kegiatan berfikir sebagai kegiatan ruhaniah

Bahkan yang ekstrem ada yang memparalelkan sains dengan pandangan nihilis seolah nihilisme itu pandangan sains,padahal tak ada hasil penelitian di laboratorium secanggih apapun yang hasilnya adalah rumusan bahwa nihilisme itu benar,karena nihilisme itu adalah pandangan filosofis satu kaum tertentu dan sama sekali bukan pandangan sainstifik

Sebagaimana halnya tak ada eksperiment penelitian di laboratorium tercanggih yang hasilnya dapat merumuskan Tuhan itu ada atau tak ada,kehidupan sesudah mati itu ada atau tak ada.kalau ada saintis yang membuat pernyataan pernyataan metafisis dengan memakai kacamata atau prinsip empirisme maka intinya itu adalah hanya asumsi-fikiran meraba raba

Solusi keluar dari permasalahan rumit ini

Nah sebab itu jalan keluar dari permasalahan ilmiah ini adalah,bahwasanya ketika manusia mulai masuk ke ranah metafisik maka mereka tak boleh lagi membawa prinsip-dalil-rumusan sainstifik sebagai acuan utama kecuali bila hanya sebagai alat bantu untuk memperkuat argument

Ketika manusia masuk wilayah metafisik maka perangkat ilmiah yang dibawa seharusnya bukan prinsip sainstifik-prinsip empirisme tetapi prinsip rasionalitas.karena prinsip serta metodologi rasionalitas itu memiliki peralatan ilmiah yang lebih fleksibel dalam hal menganalisis serta menyelesaikan persoalan persoalan metafisis

Prinsip empirisme itu memiliki kaidah ilmiah mutlak harus berdasar bukti empirik langsung, ini yang menyebabkan metodologi empirisme tidak bisa dijadikan acuan utama ketika dibawa berselancar ke dunia metafisik. sedang prinsip rasionalitas memiliki kaidah ilmiah yang TIDAK mutlak harus berdasar bukti empirik langsung.itu sebab metodologi rasionalitas bisa dibawa berselancar secara lebih leluasa ke wilayah metafisik

Dan ini yang dilakukan oleh kaum theis sesuai anjuran kitab suci mereka bahwa manusia harus menggunakan akal untuk merumuskan fenomena fenomena fisik yang ditangkap dunia inderawi

Artinya idealnya pergumulan atau real duel pandangan theis-atheis itu seharusnya terjadi di ring atau matras wilayah rasionalitas bukan di ring atau matras wilayah empirisme

Tetapi itulah,disini kita mulai melihat kelemahan argument atheis-materialist ketika mereka dibawa ke ranah persoalan metafisik mereka  sulit dibawa menggunakan sarana instrument logika- prinsip rasionalitas karena mereka balik lagi dan balik lagi tetap menggunakan prinsip serta metodologi empirisme untuk menelaah persoalan persoalan keilmuan yang sudah masuk wilayah metafisis

Ketika berhadapan dengan deskripsi kitab suci tentang hal gaib-metafisis mereka tetap selalu meminta bukti empirik langsung untuk bisa dipandang atau dianggap sebagai 'valid secara ilmiah' padahal deskripsi kitab suci itu prinsip dasarnya berdasar iman bukan berdasar fakta empirik langsung.tapi iman itu secara keilmuan tidak berdiri diatas 'lahan kosong' karena ia berkaitan dengan fakta empirik dan rasionalitas sehingga ia dapat didekati baik oleh prinsip sains maupun oleh logika, artinya bukan berdasar ilusi yang tidak ada dalam kenyataan

Contoh,iman terhadap pengadilan akhirat itu berdasar fakta empirik di alam dunia bahwa di dunia ini ada benar-salah,baik-buruk, kebaikan-kejahatan,amal baik-amal buruk yang semua mustahil dapat terbalaskan secara sempurna di alam dunia sehingga menurut prinsip logika-prinsip kausalitas, logis bila lalu Tuhan mendesain adanya pengadilan akhirat

Tapi itulah kelemahan atheis adalah se logis atau se konstruktif apapun argument logika theis atau argument ilmu teologi tetap mereka tolak mentah mentah karena yang mereka pegang (termasuk ketika masuk ke wilayah metafisik) adalah tetap prinsip empirisme yang meniscayakan bukti empirik langsung.artinya sulit membawa mereka bermain logika di wilayah metafisika,bahkan logika ligika kaum theis itu sering disebut 'hanya asumsi-dogma-omong kosong metafisik' hanya karena tidak menyertakan bukti empirik langsung

Mereka itu kukuh selalu berpegang pada prinsip empirisme-prinsip berdasar pengalaman indera walau dibawa berselancar ke persoalan metafisis tapi anehnya mereka ogah kalau di sebut sebagai kaum yang tidak menggunakan akal nya.malah mereka sering mengklaim  sebagai kaum rasional dan menuduh kaum theis sebagai kaum yang tidak menggunakan nalar-rasio karena mempercayai sesuatu yang tidak bisa dibuktikan langsung secara empirik

Selidik punya selidik ternyata mereka memparalelkan prinsip rasionalitas dengan prinsip empirisme,bagi mereka yang rasional-yang maduk kedalam nalar = yang nampak mata.

Ini sebenarnya adalah sebuah penjungkir balikkan sekaligus penghianatan terhadap prinsip dasar keilmuan.karena prinsip empirisme dan prinsip rasionalisme itu dua konsep ilmu yang substansinya harus dibedakan,demikian pula metodologi empirik dengan metode rasional.prinsip empirisme mutlak harus berdasar bukti empirik langsung dan prinsip rasionalisme TIDAK mutlak harus berdasar bukti empirik langsung.kalau rasionalitas di konsep mutlak harus berdasar bukti empirik langsung maka tak akan ada perbedaan substansial antara empirisme dengan rasionalisme yang dulu ditengahi Immanuel kant itu

Sadarkah atheis terhadap kekeliruannya dalam memahami prinsip rasionalitas dan dalam menafsirkan makna rasionalitas ketika mereka menghakimi iman kaum theis ?

Padahal Tuhan menjadikan akal itu sebagai pelapis kelemahan dunia indera karena pengalaman dunia indera itu teramat sangat terbatas sehingga tak bisa dijadikan parameter ilmiah apalagi ketika membahas persoalan yang sudah diluar wilayah pengalaman dunia indera.maka wajar kalau lalu akal yang mengambil alih posisi sebagai pimpinan-acuan ketika manusia masuk ke wilayah metafisik.walau kemampuan akal pun tetap terbatas sehingga di level tertinggi ada kitab suci sebagai panduan agar akal tidak salah jalan

Dengan kata lain intinya,kita bisa menangkap adanya ketidak wajaran, keganjilan bila diteropong dengan prinsip keilmuan-prinsip logika apabila ketika manusia masuk ke ranah metafisik-membahas masalah masalah metafisik dan mencoba mencari rumusan rumusan metafisik tapi yang jadi acuan utama malah pengalaman dunia indera-prinsip empirisme,bagaimana bisa ?

VIDEO PILIHAN