Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung wiraswasta

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Iman, yang Dibentengi dan yang Diberi Pedang

11 Februari 2019   21:25 Diperbarui: 12 Februari 2019   05:46 57 3 0
Iman, yang Dibentengi dan yang Diberi Pedang
Images : www.pinterest.com/andykaczynski

Iman-Keyakinan 'yang dibentengi' adalah sikap terhadap keyakinan yang cenderung defensif, ketika berhadapan dengan pandangan atau keyakinan yang berlawanan cenderung tertutup dan membentengi diri dengan system yang ada dalam agama yang memang sebagian berfungsi sebagai benteng iman. menjadikan kepatuhan terhadap ajaran agama sebagai pengawal setia iman. tidak terbuka serta tidak bersikap meladeni tantangan tantangan

Orang dengan sikap iman seperti ini misal cenderung enggan membaca buku buku atau tulisan atau pemikiran kaum atheis karena disamping dipandang tidak berguna dalam alam bawah sadarnya ada ketakutan hal itu akan mengguncang iman nya.ia cenderung menyukai bentuk iman yang nyaman tanpa guncangan. demikian pula dengan bentuk pemikiran pemikiran lain yang kontradiksi dengan konsep agama maka ia cenderung menutup diri sebagai bentuk pertahanan alami

Tapi 'keyakinan yang diberi pedang' artinya adalah keyakinan yang terbuka terhadap segala tantangan.iman yang ofensip-bersifat  agresip dalam menghadapi musuh musuhnya.iman yang diberi bekal untuk melawan para penantangnya ! Orang beriman yang selalu tertarik mempelajari pemikiran pemikiran orang orang yang berbeda pandangan atau keyakinan termasuk pemikiran pemikiran atheistik.Ia memberi iman nya nalar yang selalu diasah dan selalu ready untuk berhadapan dengan lawan lawannya.keyakinan dasar dari seorang yang memiliki iman ofensip adalah bahwa segala bentuk kemunkaran dan kebatilan itu tak akan musnah dari muka bumi kecuali dilawan-bukan dihindari apalagi ditakuti,termasuk yang paling utama adalah kebatilan yang berlandaskan pemikiran-ideologi-filosofi sebagai tantangan yang paling berat dan paling besar.maka seorang dengan iman yang ofensif selalu menikmati tantangan dan tidak takut dengan guncangan iman beda dengan iman defensif yang selalu ketakutan dengan hal hal yang berlawanan dengan imannya

Orang yang memiliki iman ofensip juga memiliki keyakinan dasar bahwa kebenaran Ilahiah yang terkonsep dalam agama itu bersifat hakiki dan tak bisa diruntuhkan oleh siapapun dengan cara bagaimanapun maka dengan berbekal keyakinan itu ia berani terbuka terhadap tantangan yang berasal dari musuh musuhnya.

Misal ketika ada tantangan dari orang yang berada diluar iman berupa pertanyaan ; 'mengapa agama tak boleh di kritik' ? Atau 'bolehkah mempertanyakan kebenaran agama' ?

Maka bagi orang dengan iman defensif itu adalah bentuk pertanyaan yang tidak menyenangkan dan 'menakutkan' dan ia cenderung akan menarik diri dari membahasnya.ia menarik diri dari pertanyaan seperti itu dengan prinsip bahwa menurutnya kebenaran agama adalah kebenaran Ilahi yang tak perlu dipertanyakan dan apalagi di kritik

Tetapi bagi seorang dengan iman ofensip ia mencari jalan untuk memberi jawaban terbaik terhadap pertanyaan seperti itu sehingga sang penanya dapat puas dengan jawaban yang diberikan.termasuk ketika lawan menyerang dengan mengatas namakan nalar-logika maka ia tak akan menghadapinya dengan dogma yang masih 'mentah' melainkan akan menghadapinya dengan dalil nalar pula,karena berhadapan dengan serangan yang mengatas namakan nalar harus dihadapi dengan dalil nalar pula

Seorang ateis misal,disamping suka menyerang iman dengan menggunakan dalil sainstifik (yang sudah di bingkai pemikiran tertentu) juga suka menyerang dengan mengatas namakan logika.seolah mereka lah 'kaum rasional',tetapi seorang ber iman tentu tak boleh balik menyerang dengan memuntahkan ayat ayat kitab suci secara langsung karena itu akan sia sia-tak efektif,melainkan harus balik menyerang menggunakan dalil dalil logika kembali

Tetapi bagaimana kita menyikapi fakta adanya iman yang dibentengi dan yang diberi pedang itupun harus berkeseimbangan.ketika anak anak kita kita doktrin dengan ajaran agama maka artinya kita menanam dalam fikiran mereka suatu yang akan menjadi bibit bagi keyakinannya kelak dan katena masih 'mentah' maka kita harus menjaga keyakinan anak anak didik kita itu dengan jalan membentengi fikiran mereka dari fikiran fikiran yang bisa merusak iman apakah itu yang datang dari fikiran ateistik,pluralistik,liberalistik,materialistik dlsb.mungkin kita aksn menjauhkan buku buku atau bacaan yang berisi pemikiran ateistik

Tetapi apakah kehidupan selalu stagnan dan apakah iman juga selalu stagnan tanpa perubahan ? Tentu tidak,anak didik kita juga harus dilatih menghadapi tantangan ketika mereka sudah diperkirakan memiliki peralatan untuk melawan. karena musuh iman termasuk utamanya yang berupa pemikiran akan makin nampak besar justru apabila itu dibiarkan termasuk di biarkan menyerang tapi tanpa melakukan perlawanan

...........

Agama dapat menjadi berhala ?

Agama dapat menjadi semacam berhala bagi fikiran kala ia dijadikan pengungkung keyakinan atau dijadikan alat untuk membentengi fikiran dari berhadapan dengan tantangan tantangan alami nya.ketika agama dituntut untuk direkonstruksi agar dapat mengetahui konstruksi yang membangunnya maka sebagian orang beriman justru menganggapnya sebagai suatu yang sakral dan tidak boleh diganggu gugat kebenarannya. 

Padahal Tuhan mengaruniakan akal fikiran justru untuk membedah serta menggambarkan konstruksi kebenaran Ilahiah yang ada dalam agama,dan itu bisa dimulai dari membuat pertanyaan pertanyaan menantang,misal; betulkah Tuhan itu ada dan bagaimana memahami keberada annya ? mengapa dalam agama ada konsep pengadilan akhirat ?

Tema 'mempertanyakan ulang keyakinan' atau 'mempertanyakan kebenaran agama' merupakan tema yang sering diangkat kaum atheis ketika berhadapan dengan teis,mereka sering beranggapan kaum teis sebagai kaum yang memiliki 'keyakinan buta' tapi tema demikian kalau mau di dalami justru suatu yang dikonsep oleh Tuhan sendiri sebagai suatu ajaran yaitu ajaran 'berfikir'.Tuhan yang menurunkan firman tapi Tuhan pula yang menyuruh manusia memeriksa ulang kebenarannya,artinya Tuhan sendiri tak menyukai klaim keyakinan tanpa pemahaman argumentatif.keyakinan yang ber kualitas adalah keyakinan yang dilandasi ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan berawal dari bertanya atau pertanyaan pertanyaan

Dengan melatih nalar menghadapi tantangan 'mempertanyakan agama' atau 'mempertanyakan ulang keyakinan' maka disamping manusia bisa memperoleh jawaban yang lebih tuntas yang ber efek lebih memperkuat iman,juga melatih nalar orang beriman dalam mempersiapkan diri menghadapi para penantangnya

Keyakinan bukan suatu yang secara mulus dapat diantar begitu saja hingga ke pintu gerbang sorga.diperjalanan ia akan bertemu dengan tantangan tantangan yang tidak selalu ringan dan bahkan seringkali mengguncang

Ada orang yang  nyaman dengan keyakinannya karena merasa di bentengi oleh seperangkat hukum-aturan moral-ajaran ritual.ia pun sering secara langsung bahkan tanpa analisis-tanpa beradu argumentasi menolak hal hal lain yang berlawanan dengan keyakinannya.nalar-logika seperti tak perlu lagi dimainkan karena sebagai gantinya toh dogma dogma sudah cukup sebagai pengawal keyakinan

Tetapi masalah terjadi ketika tantangan itu sudah hadir didepan mata dan sulit untuk mengelak dan tantangan itu seolah olah menggedor gedor nalar untuk terbangun dari tidur panjangnya.maka dogma dogma yang selama ini tersimpan di ruang steril dan nampak sudah dalam kondisi beku terpaksa dibongkar kembali untuk verifikasi ulang.keyakinan pun seolah di stel ke titik nol kembali, bukan untuk membunuhnya tetapi untuk memperkuatnya kembali. ibarat rumah kecil yang rentan gempa dibongkar untuk diganti konstruksinya dengan struktur yang tahan gempa

......

Ateisme,pluralusme,sekularisme,liberalisme,empirisme,saintisme,dan filsafat kontemporer pada umumnya senantiasa hadir sebagai penantang abadi iman, memaksa pemilik iman menggunakan senjata nalarnya kalau ia mampu dan cukup percaya diri atau sebaliknya menyelusup bersembunyi dibalik naungan dogma dogma menghindari 'perang baratayuda' dengan pemikiran pemikiran manusia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2