Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Memiliki otak tetapi tidak memiliki hati ?

8 Januari 2015   23:27 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:31 379 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memiliki otak tetapi tidak memiliki hati ?
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Manusia dalam artian yang sebenar benarnya adalah makhluk yang terbatas, itu adalah suatu hal yang pasti, sebab itu manusia tak akan bisa mengetahui sesuatu hal-obyek secara keseluruhan-menyeluruh, kecuali bagan per bagannya.tetapi ada peralatan berfikir dalam diri manusia yang dapat menangkap ESSENSI dari keseluruhan,dan peralatan itu adalah hati'.semua obyek yang pada awal mulanya masuk kedalam persepsi pengalaman dunia inderawi ibarat bahan mentah yang seabreg abreg jumlahnya untuk kemudian masuk kedalam mekanisme proses berfikir dalam otak-untuk dianalisa-diorganisasikan dalam bentuk konsep konsep dan lalu tahap terakhir adalah mengerucutkannya dalam bentuk essensi demi essensi, dimana essensi dari segala suatu yang ada tersimpan dalam hati itu mengkristal menjadi 'keyakinan'.disini kita dapat melihat peran sentral dari hati dalam proses berfikir-mencari ilmu-menelusur problem kebenaran karena titik akhirnya terletak dalam hati,terlepas dari apakah itu berakhir dengan keyakinan atau keraguan atau ketidak yakinan

Demikian juga dengan pengetahuan tentang Tuhan,manusia tak akan dapat mengetahui Tuhan secara keseluruhan,100 persen, ibarat sebuah ember yang mustahil bisa menampung seisi air lautan samudera, pengetahuan manusia tentang Tuhan dibatasi oleh definisi definisi yang ditemukan oleh akal fikirannya dan atau yang dideskripsikan oleh kitab suci.tetapi hati manusia dapat menangkap-mendalami serta menghayati hal hal yang essensial tentang Tuhan tanpa manusia harus mengenali keseluruhannya tentang Tuhan.contoh lain,kita tidak akan mengetahui seseorang secara utuh-menyeluruh-100 persen sebab selalu ada hal hal yang tersembunyi dari diri seseorang yang tak dapat kita ketahui,tetapi dengan pengetahuan yang seadanya-terpotong potong-tidak menyeluruh tentang seseorang kita dapat menangkap hal yang ESSENSIAL perihal orang itu,dan itu bisa terjadi karena kita memiliki 'hati'

Itulah keistimewaan dari hati sebagai perangkat berfikir yang dimiliki manusia dimana hati memiliki kapasitas-keluasan yang melebihi kapasitas otak,analoginya ibarat perbedaan antara keluasan samudera lautan dibandingkan dengan danau dimana samudera lautan dapat menampung material termasuk makhluk air yang lebih banyak-beragam yang tak dapat tertampung dalam sebuah danau.dimana keduanya, otak dan hati memiliki peran tersendiri baik dalam struktur proses berfikir maupun dalam pemahaman manusia terhadap konstruksi ilmu dan 'kebenaran'.otak manusia tempat memikirkan hal hal yang bersifat teknis-matematis-systematis dan semua itu yang melahirkan ilmu ilmu empirik dan logic,tetapi ujungnya akan bermuara pada hati dimana hati akan menyimpan essensi dari semua yang dipikirkan oleh otak dalam bentuk pengertian-pengertian.artinya 'tahu' itu bisa jadi merupakan hasil persepsi serta prosesing yang dilakukan oleh dan lalu tersimpan dalam otak, tetapi 'mengerti' itu melibatkan hati,artinya seseorang akan sampai kepada taraf  'mengerti' atau memiliki 'pengertian' apabila ia telah dapat menangkap essensi-hakikat nya.dimana proses berfikir yang dimulai dari 'tahu'-'faham'-'mengerti' berujung dengan 'yakin'.'keyakinan' adalah entitas abstrak yang telah melekat kuat dan tersimpan secara permanen dalam hati

Tetapi mengapa 'hati' sebagai perangkat berfikir yang sangat vital dalam diri manusia itu jarang dibicarakan dalam dunia sains-filsafat yang justru lebih banyak mengekplorasi otak manusia,dan 'hati' seolah terpinggirkan bahkan dari 'realitas',pembicaraan tentang 'hati' cenderung dianggap sebagai ranah 'subyektif' demikian pula apa yang tersimpan atau keluar daripadanya.padahal hati adalah obyek yang nyata ADA nya-sama sekali bukan ilusi.bagaimana cara menangkap realitas-keberadan 'hati'.. tentu dengan mengamati apa saja yang dapat ditangkap oleh hati manusia.tanpa ada atau memiliki hati mungkinkah manusia dapat berbicara tentang cinta-kasih sayang-kemarahan-kebencian-kebahagiaan-kehampaan dlsb.yang semua itu adalah entitas abstrak yang ADA ..

Pembicaraan tentang 'hati' nampak justru lebih banyak dilakukan oleh para agamawan,mengapa,..karena mereka memandang bahwa hati adalah raja dalam diri manusia dimana semua unsur yang ada dalam diri manusia akan bergerak mengikutinya.para agamawan lebih banyak menggunakan instrument hati oleh karena agama tak akan dapat difahami serta dikelola oleh otak semata,dan karena didalamnya ada bentuk ilmu-kebenaran yang hanya bisa didalami dan difahami hanya apabila manusia menggunakan hati (ini yang membedakan antara agama Ilahi dengan sains-filsafat yang lebih banyak mengandalkan otak)

Kecenderungan lain dari sebagian saintis dan failosof adalah lebih menghargai semua apa yang dianggap datang dari 'otak' dan memandang apapun yang ditengarai datang dari isi hati sebagai suatu yang 'subyektif' dan karenanya cenderung dianggap sebagai 'bukan wilayah ilmiah'.betulkah apa yang ada dalam hati manusia tidak bisa masuk kedalam wilayah ilmiah,sedang agama memasukkannya,mengapa (?) .. karena dalam pandangan agama yang namanya ilmu itu bukan sekedar ilmu empirik dan juga bukan sebatas ilmu logika tetapi ada bentuk ilmu yang memerlukan hati untuk dapat menyelami dan memahaminya,seperti 'ilmu hakikat-ilmu hikmat'. dengan kata lain dalam pandangan agama yang disebut 'ilmu' itu membentang mulai dari otak hingga ke hati.bahkan ilmu yang tertinggi dan terdalam hanya dapat didalami dan dihayati oleh hati karena berbicara tentang hal hal yang bersifat essensial-hakiki,bukan lagi berbicara tentang hal hal yang bersifat 'teknis' yang biasa dibicarakan dalam dunia sains-filsafat.dan itu menunjukkan peran hati yang dalam banyak hal melebihi peran otak.dalam pandangan agama,otak seperti pemamah-pengelola ilmu level permukaan-menengah,dimana ilmu level teratas hanya dapat dihayati dan difahami apabila manusia mulai menggunakan hati untuk menelusuri nya

Mengapa dalam dunia filsafat, logika dan kebenaran berdasar logika seolah menempati kasta tertinggi dalam ranah ilmu pengetahuan,...dapat difahami sebab betapa sangat bergantungnya dunia filsafat kepada unsur otak, sehingga tanpa otak maka filsafat sepertinya tak akan bisa eksis.tetapi dalam ranah filsafat masalah hakikat dan makna terdalam dari segala suatu tak dapat dibahas secara tuntas itu karena kecenderungan meminggirkan peran hati. otak adalah bagan dari tubuh tempat manusia memikirkan hal hal yang rumit-pelik tetapi hati menangkap essensi tiap apapun yang masuk kedalam otak sehingga serumit apapun persoalan yang ada diotak maka hati menyederhanakannya dalam bentuk essensi demi essensi,essensi adalah bentruk kebenaran yang paling sederhana tetapi lebih bersifat hakiki

Otak digunakan kala manusia bermain logika-matematika termasuk dalam membuat analisa analisa, tetapi ketika masuk ke wilayah 'makna' maka manusia mulai menggunakan hati,mengapa,... sebab MAKNA sebagai instrument ilmu itu memiliki karakteristik yang lebih mendalam ketimbang LOGIKA.sebagai contoh, ketika seorang manusia mengalami kepahitan dalam hidupnya sebagai akibat dari perbuatan masa lalunya atau mengalami hal hal yang menggetarkan hatinya maka tak akan cukup dengan hanya berlogika tetapi secara lebih mendalam mungkin ia akan mendalami apa MAKNA terdalam dari semua yang telah dialaminya.atau ketika manusia melihat banyak musibah yang terjadi maka secara alami manusia yang memiliki hati yang peka bukan hanya sekedar sebatas berlogika tetapi akan menggunakan  hati untuk MEMAKNAINYA secara lebih mendalam

Otak dan hati mengelola ilmu pada lapisan-tingkatan yang berbeda,analoginya,ketika manusia masih didaratan maka ia akan menggunakan fasilitas kendaraan yang dapat digunakan didarat tetapi ketika ia sudah tiba ditepi lautan dan harus masuk kedalamnya maka ia harus menggunakan kendaraan lain yang berbeda dengan ketika ia bergerak didaratan.ketika manusia harus menelusur dan mengelola ilmu ilmu empirik atau ketika harus berlogika maka manusia menggunakan otaknya tetapi ketika manusia mulai berhadapan dengan level ilmu yang lebih mendalam seperti ilmu hakikat-ilmu hikmat maka ia tak bisa lagi mengandalkan kecerdasan otak nya semata.nah,sebab itu kini kita faham mengapa dalam sains dan filsafat peran otak nampak begitu sentral dan menentukan,sedang dalam ranah agama fungsi hati demikian sentral karena kegiatan berfikir dalam ranah agama banyak menggunakan ilmu ilmu yang level nya lebih tinggi dan lebih mendalam yang memerlukan hati untuk bisa menelusuri dan memahaminya

Tidak sedikit kaum pemikir yang cenderung bersudut pandang materialist khususnya, memandang apapun yang ada dalam atau keluar dari isi hati sebagai suatu yang 'subyektif' tetapi dengan konotasi-pengertian yang negatif sehingga seolah tidak layak menjadi bahasan ilmu-dianggap tidak ilmiah atau tidak layak untuk masuk kedalam wilayah kebenaran,padahal pengertian 'obyektif' itu sebagaimana pengertian 'logis' itu  berjenjang-tak bisa dibakukan secara sefihak.bagi seseorang cinta seseorang kepadanya adalah suatu hal yang 'obyektif' sebab ia dapat menangkap keberadaan atau realitasnya,atau ketika seseorang tengah dalam keadaan melakukan ibadat sholat misal maka ia bisa menangkap keberadaan saitan secara 'obyektif' karena dapat menangkap adanya khayal khayal dan pemikiran negatif yang mengganggu shalatnya walau semua itu dalam pandangan orang lain akan tetap dianggap sebagai hal 'subyektif' sebab orang lain tak dapat menangkap dan memahaminya.dengan kata lain seseorang meyakini sesuatu karena sesuatu itu telah nampak secara 'obyektif' baginya walau 'subyektif' dalam pandangan orang lain

Sehingga sesungguhnya definisi 'obyektif'-'subyektif' itu sama sekali bukan parameter 'benar-salah' yang bersifat menyeluruh dan tak bisa secara mutlak digunakan sebagai vonis benar-salah,istilah itu lebih merupakan wilayah sudut pandang-pemahaman manusia bukan wilayah benar-salah.tetapi banyak diantara kita yang terkecoh bahkan tertipu ketika tanpa sadar mengikuti kacamata sudut pandang materialist yang memparalelkannya dengan parameter benar-salah.seolah semua yang benar itu harus 'obyektif'.padahal bagian lain dari kebenaran itu adalah suatu yang orang sebut sebagai  'subyektif'.pengukuran obyektif-subyektif dapat digunakan kala seseorang menelusur kebenaran yang bersifat empirik tetapi tak bisa digunakan sebagai parameter kebenaran kala menelusur problem kebenaran yang diluar yang bersifat empirik atau kala menelusur kebenaran yang bersifat menyeluruh

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x