Ufqil mubin
Ufqil mubin

SD di Desa Ncera, Bima, melanjutkan SMP di desa yang sama, SMA di Al-Hidayah Kota Bima, kemudian melanjutkan studi S1 di Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong Kalimantan Timur dari tahun 2009 sampai sekang. Aktivitas rutin sebagai pengajar dan penulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Arus Besar Perubahan

9 November 2018   23:59 Diperbarui: 10 November 2018   05:57 275 2 1
Arus Besar Perubahan
Dok. Aswati

Anak-anak muda yang berani kembali ke desa itu bisa dikatakan orang-orang luar biasa. Tak banyak pemuda yang dapat mengambil pilihan itu. Apalagi setelah menyelesaikan kuliah di luar kota. Kembali ke kampung halaman, beradu dengan suasana desa, dan membangun karir di tempat kelahiran, itu membutuhkan kebesaran jiwa dan kematangan pikiran.

Mengapa dibutuhkan keberanian? Mereka yang kembali ke desa harus menerima cibiran, cemoohan, kritikan, dan puncaknya diabaikan. Pada umumnya orang-orang di kampung melihat kesuksesan pendidikan dari tingginya jabatan yang diraih. Hanya sedikit yang mengerti, bahwa menempuh pendidikan tinggi adalah membangun kesadaran untuk mempertajam dan meningkatkan peran di masyarakat.

Definisi kesuksesan setelah menempuh pendidikan tinggi di masyarakat acap dipersempit menjadi cepat memiliki rumah, tanah, dan beragam aset. Jabatan mentereng seperti pimpinan perusahaan, pemilik usaha besar, dan pejabat negara. Atau yang lebih umum, sukses meraih posisi sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Pada umumnya, asosiasi semacam itu tumbuh di masyarakat feodal. Masyarakat perkotaan. Sebagian besar orang-orang desa juga terpengaruh dengan pandangan itu. Tak heran, pandangan sebagian masyarakat, orang sukses itu identik dengan kepemilikan harta yang berlimpah.

Bombo Ncera
Bombo Ncera
Sebagian sarjana yang kembali ke desa, tentu saja tidak akan mudah membangun jejaring sosial politik untuk dapat menggapai ekspektasi material yang diinginkan masyarakat. Alasannya sederhana, kesempatan kerja di jalur formal tak seluas di perkotaan.

Demi bertahan hidup, mereka harus berjibaku dengan kehidupan di perdesaan yang agraris. Tak sedikit dari mereka yang dianggap sebagai orang-orang aneh yang mengabaikan wibawa kesarjanaannya demi membangun kampung halaman. Mereka harus hidup di tengah masyarakat sebagai petani dan pekerja sosial.

Ini yang saya temukan pada anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN). Melihat mereka dari jauh, di Tanah Borneo ini, saya salut pada komunitas yang dipimpin Aswati itu. Mayoritas anak muda itu lulusan strata satu. Mereka membangun wisata alam Bombo Ncera yang sebelumnya tak terpelihara. Tidak dilirik. Juga tidak dianggap sebagai potensi sosial-ekonomi yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

Saya masih ingat dengan baik, ketika duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, tidak ada orang yang mengurus wisata alam itu. Hanya di hari-hari besar seperti idulfitri, iduladha, dan tahun baru, anak-anak muda mulai melirik obyek wisata itu. Mereka membuat palang penutup di jalan raya sebelum memasuki dam Ncera. Mengenakan tarif dengan besaran sekira Rp 1.000 pada para pengunjung yang berasal dari desa-desa tetangga.

dokpri
dokpri
Problemnya, tidak ada keamanan yang memadai di wisata alam itu. Konsekuensinya, mudah ditemukan para pengunjung yang kehilangan motor, helm, uang, bahkan berkorban darah karena acap terjadi konflik antar para pemuda lintas desa.

Di tahun 2002 pernah terjadi konflik antar Desa Ncera dan Desa Lido. Juga Desa Ngali dengan Desa Renda. Sejumlah desa tersebut berada di Kecamatan Belo. Konfliknya bukan saling memukul menggunakan tangan. Tetapi bersenjatakan parang, tombak, panah, dan senjata rakitan.

Konflik itu pernah merenggut nyawa para pemuda. Darah bersimbah di mana-mana. Para pemuda, tua, dan anak-anak, hidup dalam ketakutan yang berkepanjangan. Saban pagi, tiang listrik berbunyi. Penanda datangnya musuh. Perang diadakan di sawah. Selama musim kemarau.

Pihak keamanan nyaris tak berkutik di tengah konflik dan kebringasan anak-anak muda itu. Pernah sekali, puluhan polisi diturunkan ketika perang sedang berkecamuk di persawahan Desa Ncera. Aparat keamanan itu harus pulang dengan tangan hampa. Karena pemuda yang sedang berkonflik, berani melawan dan mengusir aparat keamanan yang malang itu.

Di tahun 2005 ke atas, arus perubahan mulai terlihat di masyarakat. Lulusan sekolah menengah atas kebanyakan mengenyam pendidikan seperti di Kota Bima, Mataram, Malang, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Jakarta, Makassar, Tenggarong, dan Samarinda. Mayoritas pemuda tidak lagi terkonsentrasi di desa. Sebagian yang tidak menempuh pendidikan tinggi, memilih merantau. Mencari pekerjaan di kota-kota besar.

Pada titik ini, para orang tua mulai berlomba menjadikan identitas ketinggian pendidikan sebagai kebanggaan. Dulu, kebesaran keluarga diukur dari seberapa banyak anggota keluarga yang pergi haji. Kini bergeser pada seberapa banyak anak-anak yang menempuh pendidikan hingga jenjang strata dua atau strata tiga.

Perubahan sosialogis itu berpengaruh signifikan. Anak-anak muda yang tidak berpendidikan tinggi, tentu saja akan dianggap sebagai kelompok yang aneh. Tergeser di kelompok masyarakat kelas bawah.

Yang menarik, di tengah persaingan dalam bidang pendidikan itu, tidak serta merta mengubah naluri material manusia. Masyarakat desa terpengaruh dengan kehidupan di perkotaan yang cenderung eksklusif dan menganggap kepemilikan materi sebagai puncak kesempurnaan.

Maka pada titik ini, saya kagum dengan para muda yang kembali ke desa itu. Mereka adalah kelompok yang berani menabrak kemapanan pandangan sempit masyarakat. Mereka menggerakkan anak-anak dan remaja mengenal literasi. Membaca dan menulis. Setiap Sabtu sore, komunitas itu mengumpulkan para pelajar untuk membaca, berdiskusi, dan sesekali diajarkan cara menulis artikel. Banyak buku dikumpulkan di wisata alam Bombo Ncera. Setiap orang diberikan kesempatan untuk membaca.

dokpri
dokpri
Di wisata alam yang kini sudah tertata rapi itu, Aswati beserta puluhan anak muda lainnya, secara perlahan membangun raksasa gerakan yang kini berpengaruh di masyarakat. Sekarang mereka sedang mempersiapkan Festival Bombo Ncera. Sebuah kegiatan yang menampilkan budaya yang sudah lama terkubur dan tergerus zaman.

Saya berkesempatan bertanya banyak hal pada perempuan muda yang kerap dipanggil Yuke itu. Dengan semangat dia berbicara tentang keinginannya membangun desa lewat gerakan membaca, menggali budaya leluhur, dan menghapus pandangan umum yang kerap mengasosiasikan Kecamatan Belo sebagai zona merah yang rawan konflik.

Belakangan ini, melihat anak muda yang bekerja dengan tulus bersama Yuke, saya meyakini, di tangan mereka, akan ada perubahan besar di Kabupaten Bima. Syaratnya, daerah paling timur di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu perlu memperbanyak anak-anak muda yang mau mengabdi dengan tulus. Menggerakkan masyarakat untuk maju.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2