Politik

Ketika Sihar Sitorus Menguji Tesa Edy Rahmayadi

14 Maret 2018   11:57 Diperbarui: 14 Maret 2018   12:06 455 2 0
Ketika Sihar Sitorus Menguji Tesa Edy Rahmayadi
kumpuran

Bagi siapapun yang mengikuti perkembangan sepakbola nasional maupun internasional pasti setuju. Aroma sepakbola terlalu menyengat di pemilihan gubernur Sumatera Utara tahun ini.

Sampai-sampai tidak susah untuk mencari sumber baunya. Sebab, ada dua nama yang kerap kita dengar di PSSI kini terlibat langsung dalam pertarungan Pilgubsu 2018 yaitu Sihar Sitorus dan Edy Rahmayadi.

Sihar Sitorus adalah mantan ketua umum PSMS, Pemilik Klub Pro-Duta dan mantan anggota Komite Eksekutif PSSI yang kini menjadi calon wakil gubernur Sumut Mendampingi Djarot Saiful Hidayat. Sementara Edy Rahmayadi merupakan  ketua umum PSSI yang saat ini sedang cuti demi kontestasi Pilgubsu.

Secara paradigma, Sihar dan Edy berdiri pada garis yang bertentangan soal sepakbola profesional. Sihar yang berlatar belakang pengusaha sepaham dengan defenisi"pesepakbola profesional" yang secara harfiah berarti orang yang penghasilan utamanya berasal dari bermain sepakbola yang tidak dibatasi oleh apapun secara ruang lingkup lokal, nasional maupun internasional.

Sementara, Edy memiliki latar belakang militer melihat sepakbola profesional tidak soal penghasilan seorang pemain tapi juga soal jiwa nasionalisme pemain tersebut.

Berikut bagaimana Tesa (Pernyataan) Edy terkait pemain Indonesia yang berkarir di luar negeri (Malaysia)....

"Kalau mata duitan, ya repot juga kita. Enggak ada jiwa nasionalisme. Nanti akan saya kumpulkan segera"kata Edy dalam sebuah kutipan wawancara ketika pemain Indonesia Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armaiyn bermain untuk klub Malaysia Selangor FA. (6/12/2018)

 "Tolonglah di 2018, pemain sepak bola jangan ke luar negeri. Kita bela bangsa ini. Masa saya yang harus main? Saya bilang sama Evan (Evan Dimas), kamu itu kapten, masa ke luar negeri. Di mana nilai kebangsaanmu?" Sambung Edy di wawancara berikutnya (23/1/2018)

Lebih lanjut, Edy juga  membandingkan soal gaji Evan Dimas 100 juta perbulan di Selangor FA dan gajinya sebagai Pangkostrad 30 juta.

Jika kita mengikuti perkembangan sepakbola dalam kontrak pemain, gaji dan proses transfer pemain dilakukan baru kali ini kita menyaksikan ada pernyataan dari petinggi federasi (PSSI) yang mempermasalahkan kepindahan pemain ke luar negeri.

Bahkan lebih lanjut, gaji tertinggi seorang presiden di dunia saat ini dipegang oleh Presiden Singapura dengan gaji USD 1,7 juta atau setara dengan Rp 22 miliar pertahun.

Bandingkan dengan gaji seorang pesepakbola seperti Cristiano Ronaldo yang mendapat gaji 502 miliar per tahun dari Real Madrid, Leo Messi mendapat gaji 1,5 triliun per tahun dari Barcelona atau Neymar yang memperoleh 508 miliar per tahun dari PSG. Yang mana, tentu saja jauh lebih besar dari gaji presiden negara mereka masing-masing jika gaji tertinggi presiden hanya sebesar 22 Miliar.

Apakah Edy Rahmayadi melihat ini tidak nasionalis ? jika pada akhirnya gaji pemain sepakbola lebih tinggi diluar negeri dibanding negara asal mereka ?

Bahkan lebih lanjut, Indonesia sebagai sebuah negara tidak ada bedanya dengan Argentina ataupun Brazil yang sama-sama negara berkembang yang mendukung para pemain mereka merumput di luar negeri. Pemain-pemain yang berbakat di negara tersebut bahkan cepat-cepat diberangkatkan ke luar negeri untuk secepatnya mendunia. Hal ini tentu saja berbeda dengan paradigma Edy terhadap sepak bola Indonesia.

kumpuran
kumpuran
Sejenak mari kita melihat bagaimana cara Sihar Sitorus menguji tesa Edy Rahmayadi....

Secara kontekstual, pada bacaan saya Sihar lebih banyak menggunakan gestur dalam menguji tesa Edy tentang pesepakbola profesional Indonesia.

Sebagai politisi santun, yang baru saja video ucapan ulang tahunnya kepada Edy Rahmadi viral di media. Meski edy adalah pesaing Sihar di Pilgubsu. Sihar tidak secara agresif menguji tesa Edy walau salah kaprah soal sepakbola profesional.

Pada tempat terpisah, baru-baru ini Sihar mengatakan dirinya baru saja membeli Klub Sepakbola Divisi 3 Liga Belgia yang mana tujuannya adalah agar anak-anak Indonesia bisa berlatih dan diorbitkan ke level nasional hingga internasional.

Tidak hanya itu saja, dalam rangka mengembangkan bakat persepakbolaan di Sumatera Utara pada bulan Mei nanti Sihar akan mengundang mantan bintang  sepak bola dunia untuk melakukan coaching clinik di Medan, Sumut. Kabar yang beredar pemain tersebut adalah satu diantaraThiery Henry, Michael Owen, Frank Lampard, Nicolas Anelka, Luis FigoatauRobert Pires.

Lebih jauh, Sihar seolah menjelaskan pada Edy bahwa ini bukan soal nasionalis atau tidak nasionalis. Sebab, secara logika pelarangan Evan Dimas dan Ilham Udin ke Malaysia karena alasan Asian Games 2018 justru menguji pernyataan Edy itu sendiri. Edy Rahmayadi sebagai pimpinan tertinggi PSSI justru cuti hanya karena Pilkada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2