Mohon tunggu...
Chaca Nugraha Zaid
Chaca Nugraha Zaid Mohon Tunggu... Mahasiswa Bioteknologi, Universitas Brawijaya

Penikmat Sains, Teknologi, Filsafat, dan Pemikiran Islam

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Distorsi "Sains" di Tengah Masyarakat Modern

22 Januari 2021   12:30 Diperbarui: 10 Februari 2021   10:55 193 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Distorsi "Sains" di Tengah Masyarakat Modern
ilustrasi sains di masyarakat (sumber: warstek.com)

Seringkali di tengah masyarakat saat ini (terutama di Indonesia) ketika mendengar istilah "sains" maka yang langsung terpikirkan adalah sekolompok Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seperti fisika, biologi, kimia dan cabang-cabangnya (astrofisika, geofisika, biokimia, dll) sedangkan orang yang ahli dalam ilmu tersebut disebut sebagai saintis.

Maka ketika dilihat dari beberapa sumber terkait istilah sains, meskipun tidak ada defenisi tunggalnya namun para saintis maupun sejarawan dan filsuf sains masa kini sepakat bahwasanya sains adalah upaya manusia dalam meneliti, memahami, dan menjelaskan alam dengan segala isinya.

Namun jika kita lihat kembali sejak abad pertengahan, istilah "sains" dipakai secara umum untuk segala macam ilmu pengetahuan (alam dan sosial). Sains berasal dari bahasa Latin scio, scire, scientia (aku tahu, mengetahui) yang berarti pengetahuan tentang apapun oleh siapapun dengan cara apapun. Maka tidak heran jika buku metafisika Ibn Sina yang berjudul Ilahiyyat (Masalah-Masalah Ketuhanan) diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi Scientia Divina (Sains Ketuhanan). Dan tidak salah pun jika saat ini, misalnya, 'ulum al-Qur’an (Ilmu-ilmu al-Qur’an) diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Quranic Sciences. Namun, seiring dengan berjalannya waktu istilah sains berangsur-angsur mengalami pengerucutan makna (semantic reduction) dan akhirnya kini hanya dipakai untuk menunjuk ilmu-ilmu alam saja, sehingga ilmu-ilmu selain fisika, biologi, kimia dan cabang-cabangnya (astrofisika, geofisika, biokimia, dll) itu tidak lagi dianggap sains.

Lantas jika istilah sains pada zaman dahulu berarti pengetahuan secara luas, lalu istilah apakah yang digunakan untuk ilmu-imu alam? Jawabnya tidak lain dan tidak bukan adalah "filsafat". Itulah sebabnya mengapa karya monumental Isaac Newton dalam bidang fisika judulnya berbunyi Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica, yang artinya "Prinsip Matematika dari Filsafat Alam" (1687). Sehingga baik itu ilmu alam ataupun sosial disebut dengan filsafat.

Begitu pula dengan istilah saintis (sebagai pelakunya) sekarang hanya merujuk pada orang-orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan alam saja. Faktanya istilah saintis ini malah baru dikemukakan pada tahun 1840, sedangkan penggunaannya secara luas baru pada abad ke-20. Namun  Memang benar, kurang lebih 2000 tahun lamanya istilah Yunani philosophia itu berarti ilmu pengetahuan, dan pelakunya disebut dengan filsuf. Sehingga yang dikritik oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah itu tak lain dan tak bukan adalah para "saintis" di zaman itu. Sederhananya saintis saat ini adalah filsuf pada zaman itu. Walaupun dari tingkat pemahaman mereka tentang ilmu itu sendiri cukup berbeda. Filsuf cenderung menguasai secara luas banyak cabang ilmu namun tidak mendalam, sedangkan saintis pada saat ini cenderung hanya menguasai sedikit cabang ilmu namun mendalam.

Pengerucutan makna ini pun dapat kita lihat melalui KBBI, dimana filsafat diartikan sebagai "pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; ilmu yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi", sedangkan sains diartikan sebagai "ilmu pengetahuan pada umumnya; pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dan sebagainya; ilmu pengetahuan alam". Kemudian kita lihat pula pada pelakunya (subjek) yang mana di KBBI filsuf diartikan sebagai "ahli filsafat; ahli pikir", sedangkan saintis diartikan sebagai "ahli ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam".

Dapat kita lihat, dari redaksi pengertian di sana bahwasanya ada hal yang bertentangan/inkonsistensi, di satu sisi sains diartikan ilmu pengetahuan secara umum, namun juga dinyatakan secara spesifik mendefenisikan ilmu pengetahuan alam. Padahal hukum logika dasar dalam melakukan pendefenisian suatu kata menurut W. Poespoprodjo (Logika Ilmu Menalar : Dasar-Dasar Berpikir Tertib, Logis, Kritis, Analitis, Dialektis) bahwasanya "definisi adalah perumusan yang singkat, padat, jelas dan tepat yang menerangkan apa sebenarnya suatu hal itu sehingga dapat dengan jelas dimengerti dan dibedakan dari semua hal lain." Maka penyebutan yang benar seharusnya adalah sains alam dan sains sosial.

Saya teringat sebuah kutipan dari René Descartes (filsuf asal Prancis), Cogito Ergo Sum yang artinya aku berpikir maka aku ada. Maka dari itu, hal yang perlu saya garis bawahi adalah bagaimana agar kita terus berusaha untuk meng-upgrade kemampuan berpikir dalam memahami secara jelas makna suatu kata yang akan kita ucapkan ataupun tuliskan, agar kita tidak ikut latah dengan istilah-istilah di keseharian kita ataupun yang sedang naik daun namun tidak kita pahami maknanya.

Rekomendasi bacaan selanjutnya: Menakar Polemik Pengharaman Filsafat

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x