Mohon tunggu...
Mustyana Tya
Mustyana Tya Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis, jurnalis dan linguis

Seorang pejalan yang punya kesempatan dan cerita

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Sendu, Kisah Sukses Bikin Orang Nangis di Madopolo

11 Mei 2021   14:43 Diperbarui: 11 Mei 2021   16:12 291
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari ke-4 di Halmahera Selatan, kali ini tujuan kami adalah Pulau Madopolo dari Pulau Mandioli itu jaraknya lumayan jauh karena kita harus berangkat jam 12 malam lalu sampai di sana sekitar subuh. Pagi di Madopolo kami sudah excited menanti petualangan selanjutnya. Seakan tiap hari bakal ada cerita baru dan seru untuk masuk dalam kehidupan kami.  

Jadwal kami hari ini adalah menuju ke tempat pembuatan kapal Pajeko dan juga ke ibu tengkulak pala. Tapi sebelum itu, kami menikmati pagi kami di Madopolo dengan menonton tawa riang anak-anak kecil berloncat dan berenang-renang di atas laut. Sambil melambaikan tangan, mereka tertawa lebar melihat kita yang sibuk memotret. 

Masuk sedikit ke dalam pulau ada pasar dadakan. Sayur mayur setungkup tangan dijajakan di meja-meja. "Sedikit benar" pikir saya tapi ternyata harganya mahal benaran. Tomat kecill-kecil bisa sampai Rp 5 ribu. Tapi pemandangan ini kontras dengan plastik-plastik berisi ikan yang besar-besar. Belakangan saya tahu ikan ini harganya sunggguh mahal di Jakarta. Ikan-ikan itu adalah ikan kakaktua sampai ikan anjing (karena giginya kayak anjing katanya) mereka jual sekitar Rp 10-20 ribu di Jakarta itu Rp 90 ribu. Eh mahal banget.

dokpri
dokpri
Kami pun berbaur cepat dengan para ibu-ibu pasar yang gemar tersenyum dan baik hati ini. Tapi kami tidak bisa lama berbincang, kami sudah harus mulai bekerja. Kami pecah tim, saya menuju ibu tengkulak pala yang sangat sibuk kala itu. Dia membeli hasil-hasil pala dari petani, ada biji sampai bunga yang harganya bikin pupil matamu membesar. Pala-pala dijual ke Surabaya, ada pengusaha yang mengeskpornya sampai ke Eropa. Wah gila sih. Seketika saya baru sadar saya berada di pulau primadona rempah-rempah.

Si ibu tampak tersenyum-senyum saat diwawancara. Ya, siapa yang gak senang menceritakan kesuksesan sampai bisa buat rumah yang lumayan besar untuk ukuran pulau ini. Saya pun menyadari betapa bank begitu penting agar roda perekonomian terus berputar. 

Dulu tanpa bank kapal ini, mereka membawa duit segepok-gepok dengan nilai sampai puluhan juta dalam kantong kresek untuk disetor ke bank. Setornya pun bukan tinggal ngesod, tapi harus bertarung sama ombak-ombak ganas pake kapal kayu yang kalau jalan bunyinya gretek gretek sembari sempoyongan. Kebayang dong gimana sulitnya.

Senyum cerah si ibu mendadak pudar, saat saya memaksanya untuk mengingat kembali kesusahan itu. Ternyata dirinya sering kehilangan puluhan juta gegara perihal bank ini. 

Dulu karena tak bisa meninggalkan pulau, si ibu sering mengambil uang atau menyetor uang dengan menitip kapal penumpang. Ditaro saja uang puluhan juta itu bagaikan tas-tas berisi baju-baju seperti biasanya. Makanya suka hilang, bahkan banyak juga yang tak kembali sama sekali. Duh! Dengan suara bergetar dia menyatakan diri ikhlas akan kejadian pilu itu. Saya jadi sedih.

dokpri
dokpri
Lepas dari sini, liputan kedua saya adalah samsat terapung. tapi krik krik krik.... tak ada seorng pun yang mengurus pajak kendaraan. Lalu pak polisi berbisik ke saya, "Di sini platnya aja kaga ada. Gimana mau bayar pajak". Saya langsung ngakak. Yaudah lah kita akalin agar kita sama-sama senang. Tak lama, bapak-bapak bank sudah nangkring di motor mengajak kami untuk ikut menengok pembuatan kapal Pajeko. Saya nangkring dengan nyaman sampai gak tahu ternyata motor kami mau habis bensin dan si bapak merasa ada yang aneh dengan motor. Wait, what?

Tanpa tedeng aling-aling, si bapak mampir ke rumah salah satu nasabahnya, trus pinjem motor gak pake lama. Udah kek minjem motor ama saudara. Wah emang nih, pegawai bank di daerah udah sedemikian akrab sama penduduk setempat, beda banget sama yang di kota besar dengan segala kekakuaannya. Kami pun membelah deretan pohon pala yang saya perhatikan benar-benar setelah kami melakukan wawancara.

Kami tiba di tempat pembuatan pajeko yang tidak besar tapi perahu ini lumayan besar. Pertama kali dengar pajeko bener-bener berasa unik, ternyata memang unik karena bukan terbuat dari kayu. Dengan logat yang kental dan jawaban yang sepotong-potong, bapak ini benar-benar sulit untuk digali ceritanya. Bahkan perlu lebih dari setengah jam baru saya bisa memancing dia bercerita yang bikin hati saya bagai hanyut terbawa pajeko.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun