Mohon tunggu...
Mustyana Tya
Mustyana Tya Mohon Tunggu... Penulis, jurnalis dan linguis

Seorang pejalan yang punya kesempatan dan cerita

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Melihat Lebih Nyata Sisa Konflik Poso dan Jejak Terorisme

14 Januari 2021   16:25 Diperbarui: 14 Januari 2021   16:31 83 7 1 Mohon Tunggu...

Nama Poso, waktu terorisme masih berjaya, merupakan momok mengerikan. Ya, pasalnya diyakini Santoso, gembong teroris, berdiam di sana dan membuat markas. Tepatnya di Gunung Biru. 

Berbagai cerita seram juga datang dari sana. Bukan cuma masalah terorisme tapi juga konflik agama yang pernah jadi serial berdarah di sana. Menakutkan pastinya.  

Tapi saya justru penasaran. Jadi waktu itu, ada kabar kami akan disebar ke berbagai penjuru daerah untuk mengecek langsung pemilu di berbagai daerah rawan. Saya memilih Sulteng, dan bicara kepada pihak yang mengajak saya agar kami bergerak ke Poso. 

Mereka geleng-geleng....khawatir membawa saya yang perempuan. Tapi kesempatan berpihak. Mereka pun memutuskan akan berangkat ke Poso setelah terlebih dahulu ke Palu. 

Sampai di sana beragam jamuan hadir dan kami menikmati segala seafood segar di bibir pantai yang saya gak tahu keadaannya setelah gempa beberapa waktu lalu. Berbeda dari kebanyakan pantai di Indonesia. Wilayah palu yang berada di dekat pantai ini memiliki ombak yang besar dan juga tak ada pasir yang bisa dijadikan tempat nyantai. Semua ombak langsung berbenturan dengan batuan pemecah ombak. 

Tak lama dari sana, saya berbincang dan mendapat insight keadaan poso terbaru. Cukup aman pikir saya. Maka meluncurlah kami ke Poso melalui darat dengan iring-iringan sekitar 5 mobil. Dan berhenti di beberapa titik utk itvw polres di sana sambil menyantap ragam kuliner. 

Perjalanan yang ditempuh sekitar 6 sampai 8 jam, hampir sama jaraknya dari Jakarta ke Semarang katanya. Dan itu pun ngebut melewati tebing dan membelah hutan. Untung jalanan sepi dan mulus jadi Alhamdulillah perjalanan lancar. 

Sampai akhirnya kami mulai masuk desa Poso yang auranya sudah membuat saya tidak nyaman. Pertama, yang kita lewati adalah perkampungan kristen. Di depan rumah penuh dengan salib besar-besar yang menandakan itu daerah mereka. 

Dokpri
Dokpri
Rekan polisi menunjukkan saya beberapa tempat yang bikin begidik bulu roma. Tempat satu pesantren dibakar yang masih ada sisa-sisa terbakar tak diperbaiki. 

Lainnya, lagi saya melihat satu gapura besar menuju Poso. Ternyata, selepas saya dari sini. Teman TNI bilang dulu waktu konflik Poso, banyak kepala manusia yang dipajang dipintu masuk itu. Hwaaaa....

Ada juga cerita lainnya, yang menyebut ada pesantren yang dibakar namun tak ada satu pun korban jiwa karena api tersebut tidak mampu membakar pesantren itu. Cerita berseliweran dari kuping saya. Cerita ini seolah melengkapi cerita ngeri tentang teroris lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN