Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Freelancer - Nomad Digital

Ser Sensible es un poder no una delibidad!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bersama Melampaui Sepak Bola: Cerita Kawan-kawan Tunanetra di Manado

8 Desember 2021   11:23 Diperbarui: 8 Desember 2021   12:49 427 23 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Para Tunanetra menerima Bantuan Sosial pandemi Covid-19 program #MagerWithDCODE Kumparan & Patner 1001 Media di Manado (febry kodongan/manadobacirita)

Saya menulis ini dengan rasa hormat, kagum dan tentu juga kangen.

Sesudah tahun-tahun yang tidak banyak berguna di dalam kampus. Saya belajar melibatkan diri pada sesuatu yang lebih besar dari yang disebut "realitas sekolahan". Namun bukan dalam pemenuhan citra diri yang muluk-muluk. Semisal aktivisme politik urban, pembelaan pada kaum miskin kota, dkk, dll.

Semata-mata karena mengalami Manado bukanlah Boulevard, Bubur, atau Bunaken.

Sesuatu itu adalah belajar memahami kenyataan dari cara pandang, perjuangan dan kegigihan kawan-kawan tunanetra di Manado. Mereka kebetulan tergabung dalam organisasi Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Sulawesi Utara.

Ada banyak nama, tentu saja. Beberapa bahkan sudah wafat. Tiga di antaranya yang akrab dengan saya adalah Stenly, Bobi dan Azis. 

Stenly sudah lama wafat. Sedangkan Bobi dan Azis mengelola panti pijat tunanetra yang terletak sekitar kawasan Mahakeret Barat. Kabar terakhir, beritanya baca di sini, mereka menerima bantuan sosial di masa pandemi. 

Bantuan ini merupakan bagian program #MagerWithDCODE. Hasil kerjasama Kumparan dan partner 1001 media yang diorganisir Manadobacirita.  

Masih banyak kawan-kawan tunanetra memilih bertahan melewati keseharian di Manado. Hidup sehari-hari pada kota pesisir kecil yang dalam dua dekade berkembang sangat pesat. Khususnya sebagai salah satu satelit jasa, perdagangan dan pariwisata di kawasan Indonesia Timur. Perkembangan yang aksesibilitasnya masih rendah bagi kawan-kawan penyandang disabilitas.

Sesungguhnya ada banyak sekali kisah yang seru. Salah satu momen paling dramatis adalah ketika politik penataan kota hanya memilih opsi menertibkan dengan menggusur. Represifitas menjadi pilihan utamanya.

Puncak dari penggusuran, perlawanan pedagang dan ketegangan yang menyertainya terjadi di bilangan Agustus tahun 2006. Kala pemerintahan kota Manado dipimpin duet Jimmy Rimba Rogi dan Abdi Buchari sebelum terseret kasus korupsi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan