Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Nomad Digital

Udik dan Pinggiran

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Kisah Tilang Tiga Pemuda

24 Januari 2021   17:16 Diperbarui: 24 Januari 2021   17:47 228 27 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Tilang Tiga Pemuda
Kamera Pengawas Lalu Lintas | Sumber: Kompas Otomotif

Pada suatu masa yang gaduh dan hinggar bingar, tiga orang sahabat pergi ke sebuah tempat. 

Sebut saja di sebuah kota yang sebaiknya hidup dalam anonimitas. Tiga sahabat itu juga sama adanya, sebut saja A, B dan Z. Kenapa bukan C? Ini cerita saya yang anggit, kenapa kamu protes?

Tiga sahabat itu baru saja lulus SMA. Pergi ke sebuah perayaan. Mereka tidak bertiga saja karena dimana-mana kelulusan itu menyertakan banyak sekolah. "Kita harus bersenang-senang. Melepas masa SMA yang merampas usia muda." 

A berkata dengan nada seolah sedang membaca puisi. Kebetulan, si A adalah produk jurusan Bahasa. Z merasa senasib. Rasanya mereka telah melewati 3 tahun yang sarat dengan siksaan batin. Sesudah itu, nganggur pula! Demi apa, Marimar? Z, seorang lulusan IPS yang selalu merasa pelajaran PSPB (yang masih ingat PSPB itu apa, tolong absen di komentar ya) malah makin menjauhkan peserta didik dari perasaan cinta sejarah bangsa. 

B, apa tanggapannya? "Aih, drama melulu. Ayok, berangkat." B adalah seorang yang serius. Hidupnya hanya berisikan rumus dan kepastian-kepastian. Jadi, dengan motor Yamaha RX-King, bertiga mereka berboncengan menuju ke tempat dimana penderitaan SMA dihempaskan. Siapa yang tidak menjadi jagoan di hari kelulusan?

Tiga sekawan lintas jurusan ini akhirnya larut dalam ramai. Bau alkohol, asap rokok, iringan gitar dan nyanyian galau berteriak memenuhi udara. "Wahai kau burung dalam sangkar, sungguh nasibmu malang benaaar." Pada kesempatan pertama, segalanya masih tertata rapi. Pembagian vokal masih oke, aransemen masih selaras. 

Angkat sekali lagi gelasmu, kawaan! Masih stabil, dong. Baru juga dua putaran. Tuangkan air kedamaian! Pelan-pelan, harmonisasi mulai melenceng. Mulai ditingkahi dengan kesenduan yang aneh-aneh. Tangis sesenggukan, lah. Mendadak berpelukan, lah. Merayakan kelulusan SMA seperti merayakan kebebasan yang selama ini diperjuangkan dengan penuh darah saja. Eh tapi, jangan membayangkan ini di terjadi kota, "Kalau kau datang dari selatan, langsung saja..."

Mulai deh tuh, barang-barang pecah belah melayang. Lagu dinyanyikan makin menyayat batin sendiri. "Tiada akan kau lihat tangisku, meski apa yang terjadi..." Pecahlah tangis para lelaki korban sekolah. Huaaaaaa. "Meski apa yang terjadi." Bangke, baru juga lima putaran tiga jerigen jenis oplosan, udara sudah penuh tangisan. Huhuhu.

"Kita harus pulang, kawan-kawan! Jangan rusuh, kawan-kawan." Tiba-tiba si Z berteriak. Anak IPS, coi. "Ayuk ah, pulang saja," B mulai merasa terlepas dari segala ketertiban dan kepastian. Isyarat bahaya bakal menerpa. 

"Siapa bilang pelaut mata keranjang, kapal bastom, lapas tali, lapas cintaaa." Tapi si A masih ingin merayakan kesenduan. "Pulang, pulang!"

Maka pulanglah mereka bertiga dengan sepeda motor yang sama. Jika pada keberangkatan, mereka duduk menghadap ke arah yang sama. Kali ini mulai berubah posisi. A dan B saling menghadap, berpelukan dengan kepala yang oleng. Z menghadap ke depan, berjuang sekuat sadar sampai di tujuan. Melewati sebuah tanjakan yang terkenal angker. Tanjakan penuh jebakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x