S Aji
S Aji Pelancong Sosial

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Sicario-Day of The Soldado", Tangan Hitam di Balik "War Against Terror"

14 September 2018   11:15 Diperbarui: 16 September 2018   06:02 1736 19 13
"Sicario-Day of The Soldado", Tangan Hitam di Balik "War Against Terror"
Ilustrasi : rock101.com

Membunuh raja bukanlah memulai perang. Tapi mengakhiri - Matt Graver

Sicario adalah film perang melawan narkotik dan obat-obat terlarang. Perang yang melibatkan dua negara bertetangga. Amerika dan Meksiko. Yang melibatkan satuan penegak hukum dengan kartel narkoba; State vs non-state actors. Tapi bukan perang sembarangan.

Jika pada seri sebelumnya, Sicario masih menyisakan pesan tentang dilema lewat pergumulan batin sosok cantik nan keras hati, Kate Macer (Emily Blunt). Dilema yang tampak manakala Kate ngotot mengikuti prosedur investigasi untuk menghukum gembong narkoba. Sementara atasannya tidak mampu berbuat banyak.

Mereka memang memiliki rekor buruk dalam penegakkan hukum sesudah kerja inverstigasi dirampungkan.

Karena itu, orang seperti Matt Graver (Josh Brolin), seorang CIA, dipakai menciptakan kekacauan, memulai dan memenangkan perang. Matt adalah kreator kekerasan. Bahkan tergolong jenis yang obsesif.

Baginya, problematisasi moral dan hukum dalam berurusan dengan kartel hanyalah daftar omong kosong.

Kali ini, dalam edisi  Day of The Soldado, tak ada lagi dilema moral seperti diwakili karakter Kate. Taylor Sheridan, si penulis naskah yang sama dengan edisi 2015, langsung memasukan audiens kedalam cerita mengenai kekuatan-kekuatan yang mengoperasikan War Against Terrorism.


Tangan Hitam dan Perang Melawan Teror
Seri kedua dibuka dengan dua adegan bom bunuh diri. Pertama, dalam rombongan pelintas batas sedangkan kedua, pada sebuah minimarket di Kentucky, Amerika. Para pelakunya adalah lelaki berciri fisik dari Timur Tengah. Dicurigai berasal dari Yaman.  

Pemerintah segera bereaksi lewat tangan Kementerian Pertahanan. Reaksi yang disampaikan kepada khalayak berupa kecaman, solidaritas kepada korban dan peringatan. Sedangkan reaksi yang disembunyikan adalah aksi langsung melawan teror dengan menggunakan maniak sekelas Matt Graver. Aksi langsung yang menunjukan sifat egoistik sang Superpower.   

Matt kemudian melakukan sejenis "False Flag Operation". Operasi intelijen tingkat dewa yang menciptakan kambing hitam pada entitas lain. Dengan begitu, otoritas resmi seperti negara memiliki dalih untuk bertindak.

Pertama, bersama timnya, mengepung salah satu kelompok bajak laut Somalia.

Menuruti kaidah "follow the money", mereka berusaha mengetahui siapa yang menyebrangkan para jihadis itu ke tanah Paman Sam dengan menempuh jarak sekitar 15.344 kilometer menuju Meksiko.

Dari pengepungan ini, muncul nama Carlos Reyes, salah satu bos kartel Meksiko yang memiliki perusahaan pelayaran, penyedia kapal yang mengangkut jihadis itu. Bersamaan dengan itu, ide mengkondisikan perang antar kartel di kepala Matt makin mekar memanggil-manggil.

Kedua, memulai skenario adu domba sekaligus melahirkan diri sebagai penyelamat di dalamnya.

Matt dan Alejandri memulai dengan membunuh pengacara kartel Motomoros. Kemudian menculik Isabella Reyes, anak dari Carlos Reyes. Aksi yang dimaksud untuk menciptakan kambing hitam di dua kartel. Berharap mereka akan perang terbuka, saling bantai dan melemah. Dengan begitu juga, bisnis penyelundupan manusia ke tanah Paman Sam yang lebih bernilai dibanding bisnis kokain paska-11/9 tak lagi berkembang.

Gagasan seperti ini ternyata salah besar, tidak cukup memiliki bukti-bukti dan alur logika yang tidak taat prinsip kebenaran korespondensial.

Para jihadis itu bukan diimpor dari Yaman. Mereka adalah warga negara Amerika sendiri. Terorisme sudah bukan lagi perkara yang asing. Dia telah tumbuh di halaman rumah sendiri.

Bagi Matt atau Alejandro, fakta seperti ini bukanlah alasan mundur diri, apalagi sekedar mengoreksi pendekatan yang dipakainya. Sebaliknya, malah menjadi api yang membakar kemana-mana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2