S Aji
S Aji Pelancong Sosial

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Deontay Wilder, Pembuktian "Raja KO" dan Seorang Ayah

4 Maret 2018   14:14 Diperbarui: 5 Maret 2018   08:46 2148 8 8
Deontay Wilder, Pembuktian "Raja KO" dan Seorang Ayah
Wilder vs Ortiz | Foto; AFP | Sumber ilustrasi: juara.bolasport.com

Deontay Leshun Wilder hampir saja merusak sesumbarnya sendiri. Di akun twitternya, petinju kelahiran 1985 sempat berujar, "Everyone knows what happens to King Kong when he comes to New York."

Sesudah ronde-ronde awal yang meraba-raba, pada ronde ke tujuh, Ortiz atawa si "King Kong" membuatnya sempoyongan sesudah hook kiri menghujam telak di rahang. Pemilik rekor 28 kali naik ring dengan 24 menang KO alias "Raja KO dari Kuba" sekilas tampak di atas angin. Sayang, Wilder masih bisa menahan keseimbangan hingga bel berdentang. Selamaat. 

Selanjutnya, pada ronde ke delapan, "The Bronze Bomber" tampak hanya mengumpulkan tenaga dan memulihkan konsentrasi. Tak banyak memukul, ia lebih sering menghindar adu pukul jarak dekat. Demikian juga pada ronde ke sembilan. Dua ronde rasanya cukup.

Di ronde ke 10, Ortiz-lah yang menjadi sansak kebengisan kepalan Wilder hingga wasit menghentikan pertandingan. Wilder mampu menyelamatkan kata-katanya sendiri. Wilder terbukti Raja KO untuk duel yang dihelat di Barclays Center, Brooklyn, New York. Petinju yang memulai debut 15 November 2008 ini mampu menyelamatkan kehormatan Amerika.

Mantan peraih perunggu pada Olimpiade 2008 ini kini memiliki rekor mengkilap 40 kali naik ring dengan 39 kemenangan K0. Tanpa kekalahan. Sadiis.

Kehormatan Amerika?

Yap. 

Sebab, sesudah merebut gelar juara WBC di kelas heavyweight tahun 2015, lelaki bertinggi badan 201 cm ini menjadi petinju pertama Amerika yang kembali juara di kelas yang pernah dimenangi nama-nama angker asal Paman Sam semisal Muhammad Ali, Larry Holmes, Joe Frazier hingga Mike Tyson. Shannon Briggs adalah Amerika terakhir yang juara di kelas ini di tahun 2007. 

Sementara itu, Luis " The Real King Kong" Ortiz yang enam tahun lebih tua, tak semata menodai rekornya yang juga menghadirkan ngeri. 28 kali naik ring dengan 24 menang KO. Ia juga gagal mengorbit sebagai juara dunia setelah tahun-tahun hanya "juara tanpa kilau" di ajang amatir seperti Cuban Championships, Panamerican Championships atau World Championships

Debut Ortiz di tinju profesional dimulai dua tahun lebih lambat dari Wilder. Pada 2017, Ortiz pernah karena kasus doping. Sebelum bertemu TKO pertama kali dalam karirnya, Ortiz memang hanya adu bogem dengan nama-nama yang tidak mentereng, setidaknya dari ingatan saya sendiri sesudah membaca laman wikipedia

"The Real King Kong"--julukan yang didapatnya karena punching power and counterpunching skills--yang kini berusia 38 tahun gagal juara di usia senjakala.

Wilder kembali terbukti sangar dan mengerikan. Gayanya yang intimidatif, dimulai sejak timbang badan hingga di atas ring melengkapi kengerian itu. Satu lagi modalitasnya adalah kemampuannya menghibur dengan memuaskan kehendak menghancurkan para pemujanya. 

Lewat pukulan-pukulan keras, khususnya straight kanan yang selalu efektif memaksa lawan sempoyongan atau tumbang seperti batang kelapa sesudah disusul pukulan Cross. Tanpa banyak ruang berkelit, bruuuk. Kelar deh. Daya membunuh straight kanannya bisa dilihat dalam video yang merangkum 10 kemenangan terakhir dengan KO.Oleh karena itu, Wilder seolah reinkarnasi dari sintesis Ali dengan Tyson. Sintesis yang kembali membuktikan dirinya sebagai raja KO kelas berat. 

Di luar perkara kebengisannya di atas ring, ada pembuktian kedua yang barangkali penting diingat. Pembuktian Wilder sebagai ayah yang penuh kasih dan berkehendak kuat mewariskan kebanggaan pada anak-anak. 

Sejarahnya Wilder muda adalah menjadi ayah dalam usia 19 tahun. Saat itu, ia adalah pemain basket junior sekolahnya di Tuscaloosa. Karena anak perempuannya terlahir dengan Spina Bifida, hidupnya kemudian berubah. Spina Bifida adalah cacat lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah atau defek pada tulang belakang dan sumsum tulang belakang bayi. Selain berkarir atletik, Wilder muda pernah pula menjadi supir truk. 

Keputusan hijrahnya ke tinju ditandai dengan capain yang cepat, seperti membenarkan pilihan jalan takdirnya sudah tepat. Kurang dari tiga tahun dan menempuh 21 pertarungan amatir, ia boleh masuk ke dalam tim Olimpiade Amerika Serikat yang berlaga di Beijing.

Sebagaimana termuat di Newsweek.com, Wilder mengatakan jika ia bertinju demi anak-anaknya. Tapi bukan sekedar untuk makan atau hidup yang berkecukupan dan masa depan yang terjamin. Lebih dari itu, ia ingin memberikan warisan (legacy) dan menjadi cerita yang diturunkan kepada anak cucunya kelak. 

Dari 40 pertarungan yang masih bersih dari kekalahan, ujian terbesar Wilder dalam membuktikan dirinya sebagai Raja KO dan ayah yang membanggakan bagi anak-anaknya rasanya hanya ada di kepalan Anthony Oluwafemi Olaseni Joshua.

Anthony Joshua, petinju berkebangsaan Inggris kelahiran 1989. Joshua adalah juara kelas berat di tiga badan tinju, yakni IBF, WBA (Super) dan IBO. Juara dunia yang masih muda dan, uniknya, memiliki rekor bertarung yang hanya setengah milik Wilder: 20 kali naik ring, 20 menang dengan KO. 

Kita tunggu saja, Bro. 

***

Sumber referensi lain tentang Wilder dan Ortiz dikutip dari sini dan sini. Sedangkan Anthony Joshua dari sini