Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Keliling & Cuci Piring

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Narasi Orang Kecil dan Usaha "Mengembalikan Indonesia"

26 Mei 2017   10:01 Diperbarui: 26 Mei 2017   15:41 743 19 14 Mohon Tunggu...
Narasi Orang Kecil dan Usaha "Mengembalikan Indonesia"
Sumber: Cinta Merah Putih

Belum lama berselang, ketika sedang berkumpul bersama para petani dalam sebuah ruang belajar bersama, saya makin percaya bahwa selalu ada ruang, selalu ada inisiatif dan pengharapan. Selalu tersedia kesadaran yang berusaha lebih mencurahkan perhatian dan pelibatan diri pada hal-hal yang melampaui ketegangan dan kubu-kubuan politik yang masih terus memelihara bara api. 

Saya harus percaya, selalu ada ruang yang jauh dari pusat yang memikirkan, memperjuangkan dan mendoakan Indonesia yang lebih baik untuk semua.

Saya makin terkejut, sembari berjuang keras menyembunyikan rasa haru, ketika di akhir pertemuan itu, seorang petani muda maju memimpin doa dalam Islam. Sebelum doa melarutkan semua kepala di ruangan itu ke dalam keheningan yang berserah, ia mengajak, "Sebelum berdoa, mari kita nyanyikan sebuah lagu."

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Lirik Indonesia Pusaka Ismail Marzuki dinyanyikan dengan berdiri. Kompak dan khitmad. Saya menyaksikan jika di ruang kecil dan sederhana itu, di ruang kecil dengan wajah-wajah yang rajin dibakar matahari, politik yang gaduh dan sedang marah-marah itu berhenti. Bukan orang-orang berpangkat yang melakukannya. Bukan orang-orang pintar bicara yang melakukannya. 

Hanya segelintir para petani desa yang sedang berusaha menemukan sistem bertani yang kembali selaras dengan alam atau tanah dimana ia dilahirbesarkan.

Kita barangkali membutuhkan banyak inisiatif untuk menciptakan ruang sedemikian. Ruang yang menghimpun kita dalam kecemasan-kecemasan faktual lain yang seharusnya ditanggapi bersama-sama. Kecemasan faktual yang berurusan dengan kelangsungan eksistensial peradaban tani, bukan orang per orang atau kelompok dalam kelompok. 

Saya menyebut kita untuk menunjukkan eksistensi dari kewargaan yang bertindak. Itu artinya kita tidak membutuhkan arahan politisi yang sering merupakan bagian dari masalah--tidakkah pertikaian mereka itulah sebab dari banyak kegaduhan? 

Kita rasanya harus memberi batas tegas dan menunjukkan potensi kewargaan selalu bisa menemukan momentum untuk "mengembalikan Indonesia". Berhenti memberi ruang kepada insitusi politik untuk campurtangan terlalu jauh, terlebih institusi dari aras negara.

Ruang-ruang seperti yang barusan saya deskripsikan tentu saja juga berserak dimana-mana di Nusantara ini. Mereka mungkin sejenis "multitude", spontanitas kewargaan yang digerakkan oleh keprihatinan pada peristiwa yang dinilai meresahkan dan mempertaruhkan perkara-perkara besar. Spontanitas yang mengorganisir diri dan berusaha melawan agar tidak lekas-lekas dijadikan perkakas tempur dan dikondisikan bermusuh-musuhan sebagaimana marak bekerja pada kehidupan politik yang sakit. 

Anda mungkin akan berpikir, terhadap spontanitas kewargaan ini, sebagai bentuk lain dari "pelarian diri" terhadap peristiwa yang paling menguras energi nasional. Mereka seharusnya ikut mengambil peran dalam kampanye-kampanye yang bergempuran langsung dengan isu-isu faktual dan politik lantas menampilkan itu di jaring virtual sosial media. Mereka harus ikut menjadi bagian dari salah satu poros. Saya pernah juga menduga seperti ini hingga akhirnya gugur sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN