Mohon tunggu...
husaini arekha
husaini arekha Mohon Tunggu... Perintis,penggerak,peduli

Knowledge seeker

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kau Pribumi, Jangan Mencekik.

19 Oktober 2017   19:55 Diperbarui: 20 Oktober 2017   05:47 0 0 0 Mohon Tunggu...
Kau Pribumi, Jangan Mencekik.
picsart-10-20-01-33-52-59e8e2c096bb082a71374712.jpg

Satu jam setelah di lantik, Anis baswedan resmi menjadi sorotan publik karena dua alasan,Pertama dia resmi menjadi 8pemimpin Ibukota yang luar biasa memumetkan otak karena masalahnya, dan yang kedua adalah karena Iya adalah pribumi yang berani melawan, pribumi yang menjadi pemimpin di tengah-tengah rakyat yang di kuasai ekonominya oleh orang-orang non pribumi atau dengan kata lain, pendatang. Pendatang yang bisa jadi adalah penjahat kelas kakap, yang dengan segala kekuatannya siap melumat si asli atau pribumi-yang dalam hal ini termasuk pemimpin negara, pemimpin ormas juga, Hehe, ini hanya sepenggal paragrap contoh orasi pembela pak Anis.  


Tentulah masyrakat Indonesia yang di dominasi oleh orang-orang berkulit sao matang ini kaget bukan kepalang dengan pidato Anis, ragam tanggapan pastinya bergulir di dunia nyata maupun dunia luna maya, eh maksut saya dunia maya, karena memang suda tabiatnya begitu sebagai Indonesian, terbakar kalau di nyalain.  Maksut nya terbakarlah amarah mereka saat sumbu di sulut api, dan ini biasa. 75% dari Indonesian sepakat dengan pidato si gubernur Mancung, dan sisanya kagak setuju amat, termasuk penulis tersohor dengan situs atas namanya sendiri itu.


Alasan di balik sepakat dan tidaknya ini patut lah kita acungi jempol, karena alasannya sama - sama Logical bukan Ilogical, alasan 75% orang sepakat iya hampir sama dengan alibi pendukung Basuki beberapa bulan lalu, " tidak bermaksut menghina kok, ". Greates reason i ever hear si sebenarnya, tapi itulah hakikatnya alasan. Dan itulah kehebatannya pembenaran, kalaupun salah,  kalau  punya kuasa, entah itu kuasa di jabatan, kuasa di lini massa atau kuasa di money,  kau bisa menjadi benar, seperti orang yang bahkan kalau makan micin, micinnya yang jadi bego itu. Pun sebaliknya kalau  powerless, iya pasti jadi korbanlah. Kalau orang kuliah bilang, "tajam ke bawah, tumpul ke atas hukum kita ini."


Dan yang tidak sepakat pun alasannya hampir sama dengan alasan pendukung anis pada waktu itu," pidatonya mengandung unsur ujaran kebencian,". yang mengakibatkan masyrakat menjadi terkotak-kotak, Pastinya. Sehingga pada ujungnya respon Pemuda PDI di bawah Intruksi si titik-titik  Melaporkan pak anis basuedan ke Polda Metro, walaupun kabarnya di tolak, mereka tetap ngotot sampai ke bareskrerim Polri, ya, sekali lagi mereka patut di apresiasi, karena mereka suda menjalankan tugasnya dengan baik, kalau tidak jalan,  kan mereka tidak terkenal. Jadi berikanlah jempol untuk mereka.


Terlepas dari penomena singgung menyinggung, kotak -mengkotakkan, atau bahkan lapor melaporkan, ada satu poin penting yang harus kita tetap pegang sebagai rakyat Indonesia-Alsi ataupun pendatang, bahwa negara kita ini tidak hanya di perjuangkan oleh penduduk asli saja, tapi pendatang -- pendatang seperti John Lie Tjeng Tjoan alias Jahja Daniel Dharma. Lelaki kelahiran Manado 9 Maret 1911 ini diberi gelar pahlawan nasional atas jasanya dalam perang kemerdekaan,dan mendapat Bintang Mahaputra Adipradana (2009). Besarnya jasa John Lie, sampai-sampai pemerintah memakai namanya sebagai nama salah satu kapal perang RI, yaitu KRI John Lie (358) pada akhir 2014, Perjuangan beliau yang sampai mengorbankan segala hal paling berharga sekalipun, ingatlah bagaimana waktu itu beliau berjuang mati-matian, mengumpulkan pasukan yang bukan hanya bermata sipit tapi juga penduduk asli di sana,yang notabenenya adalah orang2 seperti kita ini, mahluk Tuhan  yang tidak di takdir kan bermata sipit.

Saya menghargai apa yang kita sebut sebagai berdiri di kaki sendiri, melawan imprealisme,atau bahkan berjihat melawan kejahatan itu,  tapi bukan dengan cara memisahkan pribumi ini dengan pendatang yang juga telah merasakan kekuatan persatuan dan perdamaian di bumi sejuta keindahan ini, silahkan berkata pribumi atau prii apapun itu, tapi jangan untuk meludah lawanmu yang telah tersungkur itu, jangan untuk menghancurkan kesatuan yang telah lama kita pupuk ini.


Atau jangan berlaga seperti jagoan seperti yang di lakukan  oleh beberapa aktivis celana cingkrang yang kebetulan berteman di fesbuk bersama saya, mereka memposting kata kata seperti ini, "saya bangga jadi pribumi" atau beberapa lainnya membagikan gambar baju merah yang bertuliskan "saya pribumi, kamu mau apa, ".  Lah maksut koe apa, nantangin sopo?  Nantangin Imprealisme, nantangin ahok, atau nantangin pelapor Anis,?.


Harus di akui dan tidak boleh di lupakan kalau memang dulu kita pernah sama-sama tersakiti oleh kata "pribumi" itu, saat imprealisme belanda bercokol di tanah kita, ketika nyai Ortosono rela menjadi budak si tuan bule hanya untuk duduk di posisi yang sama dengan si pendatang yang penjajah itu, tapi ingatlah, itu dulu-dulu sekali.  Pastinya kita sudah memaafkan apa yang dulu mereka lakukan, karena kita adalah rakyat rahmatan lil alamin, tapi Kalau belum silahkan pergi ke belanda dan perangi lah mereka di sana, jangan mengacau di sini. Di negeri 275 juta pribumi.