Turmuzi
Turmuzi Petani yang mencintai alam pedesaan

Menulis sebagai aktifitas menyenangankan, bukan keterpaksaan\r\n\r\nPengelola blog www.turmuzitur.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Menjawab Opini Sesat "Aksi Bunuh Diri Masal Pers Indonesia" Herusubeno Arief

7 Desember 2018   12:50 Diperbarui: 7 Desember 2018   13:49 230 2 0
Menjawab Opini Sesat "Aksi Bunuh Diri Masal Pers Indonesia" Herusubeno Arief
Aksi memperingati hari kebebasan pers/foto : Dokpri

Saya sebenarnya agak malas membaca dan menanggapi sejumlah tulisan Herusubeno Arief, termasuk tulisan "Aksi Bunuh Diri Masal Pers Indonesia yang oleh beberapa teman dalam beberapa hari terakhir disahare di jejaring media sosial Facebook, karena dari beberapa tulisan Herusubeno Arief yang pernah saya baca dan dimuat Kompasiana termasuk beberapa blogg lain, tulisan dibuat cendrung tendensius dan subyektif

Sifat tendensius dan subyektif Arief misalkan terlihat dari sejumlah opini ditulis semenjak Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang kalau dibedah, saya melihat Arief tidak ubahnya tim sukses atau simpatisan dari Gubernur DKI Sekarang, bukan layaknya seorang mantan "Wartawan Senior" yang seharusnya mampu mengetengahkan ide, gagasan atau pemikiran mencerahkan bagi masyarakat pembaca secara berimbang dan obyektif, meski dalam bentuk tulisan opini

Dalam tulisan terbaru Arief berjudul "Aksi Bunuh Diri Masal Pers Indonesia" bagian satu dan dua, Herusubeno Arief melalui tulisannya kalau dibedah dan dianalisis, dalam pandangan saya Arief tidak lebih dari sekedar Timses atau Simpatisan Paslon salah satu pasangan Capres, sehingga tulisan diketengahkan juga cendrung tendensius dan subyektif. Mari kita bedah satu persatu

Pertama. Pada tulisan "Aksi Bunuh Diri Masal Pers Indonesia" bagian satu misalkan, melalui argumentasi dikemukakan, Herusubeno Arief seakan berupaya menggiring dan meyakinkan pembaca, dengan membuat framing seakan pasangan Capres Cawapres Prabowo-Sandi jadi korban melalui framing dan pemelintiran pemberitaan media seperti dalam kasus hoaks Ratna Sarumpaet, Tampang Boyolali dan tukang ojek  

Dalam tulisan tersebut, Herusubeno Arief hanya mengupas Capres - Cawapres Prabowo dan Sandi sebagai korban framing dan pemelintiran pemberitaan media. Padahal pasangan Capres-Cawapres Jokowi-KH. Ma'ruf Amin juga menjadi korban framin dan pemelintiran berita hoaks, terutama media sosial seperti dalam kasus PKI, antek asing, anti Islam, kriminalisasi ulama

Tapi ulasan tersebut tidak ada dalam tulisan Herusubeno Arief. Padahal sebagai mantan wartawan, apalagi mengaku "wartawan senior" dengan pengalaman dan pengetahuan sebagai jurnalis, Herusubeno Arief dalam mengemukakan pandangan seharusnya lebih objektif, sehingga bisa mencerahkan masyarakat, bukan membuat opini tendensius dan menyesatkan

Dalam kasus ini, bermodalkan pengakuan diri sebagai mantan "wartawan senior" Herusubeno Arief seakan berupaya mempengaruhi masyarakat pembaca, bahwa yang salah adalah media dan pemerintah. Meski memang beberapa media merupakan milik Ketua Partai, tapi sejumlah media juga masih tetap memegang teguh dan menjalankan kaidah jurnalistik dengan baik, termasuk menjaga independensi dalam pemberitaan

Dalam tulisan "Aksi bunuh diri masal media" bagian dua yang mengulas mempertanyakan independensi media terkait pemberitaan reuni 212 di Monas, Herusubeno Arief juga sangat tendensius dalam menilai media, dengan mengungkapkan analisis tidak argumentatif tentang prinsip dan kaidah jurnalistik dalam memberitakan suatu pristiwa

Sebagai seorang mantan wartawan senior Herusubeno Arief seharusnya lebih tau atau memang pura - pura tidak tau bahwa setiap media tentu memiliki kebijakan dan idiologi tersendiri dalam menurunkan suatu berita menjadi berita utama (HL), dengan mengacu pada kaidah jurnalistik, seberapa penting berita tersebut bagi masyarakat

Terkait pemberitaan 212 oleh sejumlah media yang tidak menjadikannya sebagai berita utama tentu mempertimbangkan news value (nilai berita). Harian Kompas misalkan, tentu memiliki pertimbangan tersendiri, kenapa aksi yang diklaim sampai 11 juta tidak dijadikan sebagai berita utama atau HL. Dalam ilmu jurnalistik ada istilah News Value (nilai berita) dan bagaimana dampak ditimbulkan dari berita tersebut

Mungkin bagi alumni 212 reuni itu penting karena jumlahnya yang banyak untuk unjuk kekuatan, apalagi ada embel politik di dalamnya, tapi belum tentu penting bagi masyarakat yang lain. Kemudian dampak. Apakah dengan dijadikan berita 212 sebagai berita HL akan berdampak terhadap kehidupan masyarakat secara luas, apakah berpengaruh terhadap prekonomian masyarakat Indonesia, nyatanya tidak

Karena itulah saya sepakat dengan Kompas termasuk beberapa media lain yang tidak menjadikan berita reuni 212 yang diklaim sampai belasan juta sebagai berita utama, karena memang tidak penting dan memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Nyatanya aksi yang diklaim sebagai acara agama dan dakwah tersebut tetap saja terselip embel politik

Ahirnya saya mengajak kepada siapapun ketika mendapatkan informasi, bacaan berupa opini maupun dalam bentuk lain, supaya tidak mudah terpengaruh begitu saja, hanya dengan melihat judul dan main share atau copas. Mari budayakan membaca dan mengkritisi setiap informasi didapatkan, sebelum berbagi

Membaca berita tentang aksi marah - marah Capres Prabowo yang meremehkan dan menilai media membuat kebohongan, karena pemberitaan reuni 212 tidak sesuai harapan ahirnya semakin menguatkan komitmen saya termasuk masyarakat dan dengan penuh kesadaran tidak ingin Indonesia kembali ke Zaman otoriter dimana orang tidak akan pernah berani melakukan kritikan. Ingat kritikan ya, bukan ujaran kebencian seperti sekarang. #SalamWaras