Mohon tunggu...
Tulus Hermawan
Tulus Hermawan Mohon Tunggu... Seorang penulis yang berusaha menuangkan idenya

Tulus Hermawan Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Transportasi

Penguatan Infrastruktur Supply Chain Sapi Potong Indonesia

22 Mei 2019   20:00 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:16 0 0 0 Mohon Tunggu...

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari sepertiga wilayahnya merupakan wilayah perairan. Alur distribusi barang di Indonesia didominasi oleh distribusi melalui jalur perairan. Infrastruktur penunjang alur distribusi melalui jalur perairan tersebut antara lain adalah pelabuhan, kapal angkut, dan jembatan. Perbedaan lokasi sentra produksi dan sentra konsumsi antar pulau di Indonesia menjadi dasar atas transportasi jalur perairan terutama jalur laut.

Komoditas peternakan merupakan salah satu komoditas yang perlu disoroti terutama karena berkaitan dengan aspek pangan dan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Berbagai permasalahan terjadi berkaitan dengan distribusi komoditas peternakan seperti masalah efisiensi dalam pengadaan komoditas peternakan karena keterbatasan sumber daya di masing masing pulau atau daerah, keterbatasan moda transportasi laut, tingginya harga komoditas peternakan lokal Indonesia dibandingkan dengan produk impor, rendahnya daya saing komoditas peternakan lokal dibandingkan dengan komoditas peternakan yang berasal dari luar negeri. 

Masalah keterbatasan moda transportasi laut menjadi alasan kuat diperlukannya transportasi antarpulau dengan melalui jalur perairan karena pulau di Indonesia terpisah oleh lautan. Masalah lain yaitu tingginya harga ternak dibandingkan dengan produk impor dan rendahnya daya saing  menyebabkan komoditas ternak impor lebih dipilih untuk memenuhi kebutuhan akan produk peternakan dalam memenuhi asupan protein hewani dibandingkan dengan produk peternakan lokal. 

Dampak yang ditimbulkan dari adanya peristiwa ini adalah menyebabkan lesunya permintaan akan komoditas peternakan di daerah sentra produksi, penurunan harga komoditas peternakan akibat rendahnya permintaan dan menyebabkan kerugian bagi peternak di sentra produksi peternakan.

Salah satu komoditas peternakan yang dapat berkembang dengan baik di Indonesia adalah sapi potong lokal terutama yang berasal dari daerah Nusa Tenggara. Sapi potong lokal yang memiliki kontribusi besar dalam pasokan daging sapi di Indonesia adalah sapi Bali, Peranakan Ongole, dan sapi persilangan seperti Limpo, Simpo, dan Brahman Cross. 

Kondisi alur distribusi sapi lokal tersebut masih terkendala oleh keterbatasan moda transportasi dan fasilitas yang ada. Biaya dan waktu yang dikeluarkan menjadi tidak efektif akibat keterbatasan ini. Skala peternakan yang masih kecil pada tingkat peternak rakyat menjadi permasalahan lain karena pengepul harus berkeliling untuk mendapatkan jumlah sapi yang cukup.

Alur distribusi dari Nusa Tenggara merupakan distribusi dengan tipe multimoda (darat dan laut) yang menyebabkan harga distribusi menjadi tinggi dan berimbas pada kenaikan biaya produksi dan harga ternak serta harga karkas hingga daging. Pemilihan multimoda pada alur distribusi di Bali dan Nusa Tenggara mempertimbangkan jarak yang jauh dari konsumen di Pulau Jawa dan Sumatera. 

Jarak yang jauh menyebabkan tingginya biaya distribusi. Transportasi pengangkutan yang  jauh dapat menyebabkan risiko penyusutan berat badan hingga 10%. Risiko lain yang dapat muncul adalah kesakitan dan ketakutan pada ternak, kembung lambung, dan dehidrasi.

Pengangkutan yang baik diperlukan untuk mengurangi risiko yang ada. Pengangkutan yang baik memerlukan berbagai infrastruktur yang baik pula seperti pelabuhan, jembatan, jalan, hingga jenis alat angkut terutama kapal laut dan mobil pengangkut. 

Pembangunan infrastruktur yang baik memerlukan peran dari pemerintah. Pemerintah berperan dalam membangun infrastruktur yang menjamin efisiensi dari pengangkutan tersebut baik secara ekonomi maupun animal welfare ternak yang diangkut.

Integrasi pelayanan dan infrastruktur yang baik mulai dari proses pengangkutan ditingkat peternak rakyat dengan skala kecil sampai distribusi ke konsumen. Pengangkutan atau distribusi harus mampu memberikan keuntungan yang optimal dan menjamin kesejahreraan hewan. Pengangkutan di tingkat peternak harus memberikan keadilan ekonomi kepada peternak yaitu dengan membeli ternak sesuai dengan harga pokok produksi di tingkat peternak rakyar. 

Proses pengangkutan dan pengumpulan ternak dilakukan dengan menggunakan alat angkut khusus yang telah didesain untuk memastikan ternak tidak cidera dan merasa takut, mulai dari lebar gangway, tersedianya fasilitas pelindung ternak dari kondisi lingkungan, tempat pakan dan minum yang baik, alas yang tidak licin, dan luas area yang memungkinkan ternak bergerak bebas. Proses pengangkutan yang baik juga harus didukung dengan infrastruktur yang baik terutama jalan. Jalan yang rusak akan menyebabkan guncangan yang memperbesar risiko cidera pada ternak.

Pelabuhan yang dibangun harus memiliki alur masuk hingga keluar masuk yang baik. Biosecurity yang ketat diperlukan untuk menekan risiko ternak terkena penyakit dan wabah. Pelabuhan sebisa mungkin harus jauh dari pusat keramaian untuk menghindari ketidaknyamanan, rasa takut, serta stres dari ternak akibat kebisingan. Luas area untuk ternak beraktifitas harus mampu menjamin ternak untuk bebas bergerak dan mengekspresikan tingkah laku alaminya. Ketersediaan pakan dan minum harus cukup untuk masing masing individu ternak agar ternak dapat terhindar dari rasa haus dan lapar.

Selama di kapal ketersediaan pakan dan minum serta ruang bergerak ternak harus terjamin ada. Proses mobilisasi ternak selama di pelabuhan menuju kapal bisa melewati jalur khusus ternak agar tidak berbenturan dengan kepentingan manusia. Pembangunan pelabuhan yang baik merupakan peran dari pemerintah. 

Proses pemeliharaan dapat dilakukan diatas kapal dengan syarat bahwa kondisi didalam kapal minim guncangan, ketersediaan pakan dan minum selalu tersedia, serta kondisi lingkungan dibuat sedemikian rupa untuk kenyamanan ternak misal rekayasa suhu dan kelembapan. Pemeliharaan yang baik dalam kapal dapat memungkinkan terjadinya kenaikan berat badan pada ternak.

Alur distribusi setelah proses pengangkutan ternak dari Nusa Tenggara ke Pulau Jawa dan Pulau Sumatera adalah proses loading ternak di pelabuhan khusus seperti pada saat awal pengangkutan. Proses biosecurity dan seluruh fasilitas yang ada harus mampu menjamin kesejahteraan hewan dan standar mutu dan teknologi yang tinggi. 

Proses pengolahan ternak hingga ke konsumen harus tetap menjaga kondisi kebugaran ternak terutama kondisi kelelahan dan stres untuk menghindarkan penurunan kualitas karkas. Infrastruktur jalan harus ditingkatkan untuk menjaga kualitas ternak dan karkas yang dihasilkan.

Proses pendistribusian yang baik akan berdampak pada efisiensi biaya, waktu dan juga pencegahan penambahan biaya produksi. Efisiensi biaya dan waktu akan meningkatkan permintaan pasar terhadap sapi potong lokal di Indonesia dan berdampak pada semakin bergairahnya peternak rakyar untuk memelihara ternak. 

Pencegahan penambahan biaya produksi akan mencegah mahalnya harga ternak dan daging dan meningkatkan daya saing ternak dan daging di pasar. Peningkatan yang terjadi akan mendukung swasembada pangan, peningkatan kesejahteraan peternak dan peningkatan ekonomi daerah dan nasional.