Mohon tunggu...
Nisa Nurazizah
Nisa Nurazizah Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN SyarifHidayatullah Jakarta

sedang belajar menulis✨

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pemanfaatan Media Sosial dalam Berdakwah di Masa Pandemi

2 Juni 2020   16:01 Diperbarui: 2 Juni 2020   16:00 24 2 0 Mohon Tunggu...

Peningkatan jumlah kasus positif yang begitu cepat membuat pemerintah menerapkan berbagai kebijakan sebagai upaya menghentikan laju penyebaran covid-19. Salah satunya adalah kebijakan yang kita kenal dengan sebutan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Melalui kebijakan ini pemerintah secara ketat membatasi kegiatan masyarakat di luar rumah dan penerapan physical distancing di ruang-ruang publik. Hal ini menyebabkan segala kegiatan masyarakat seperti belajar mengajar, aktivitas perkantoran dan kegiatan keagamaan dialihkan dari cara konvensional menjadi metode virtual daring dari rumah demi menghindari terjadinya kerumunan masa.

Kebijakan PSBB di masa pandemik ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya "melek" perkembangan teknologi modern. Hal ini karena teknologi bisa menjadi solusi alternatif dalam mengoptimalkan kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Dengan bermodal jaringan internet dan usaha ketikan jari membuat semua kegiatan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat tanpa perlu pusing memikirkan persoalan tempat, jarak, dan waktu. Kesadaran itu pulalah yang mendorong para dai kini mencoba memanfaatkan kemajuan tekologi sebagai sarana media berdakwah. Mereka seperti ingin menjaga konsistensinya dan tetap ingin berdakwah meski di tengah pandemik covid-19, melalui media sosial seperti, Whatsapp, Instagram, Youtube, Zoom, dan Google Meeting

Pemanfaatan media sosial untuk kegiatan berdakwah dianggap begitu penting karena kehidupan masyarakat modern tidak dapat dipisahkan dari teknologi khususnya telepon genggam. Fakta menunjukkan, sebagian besar kegiatan masyarakat modern kini dilakukan melalui genggaman manusia (telepon selular), terutama di masa penerapan PSBB ini. Masyarakat tampaknya sudah hampir meninggalkan televisi dan mulai beralih mengandalkan telepon genggam sebagai sumber informasi, inspirasi, sarana hiburan, dan sarana dalam beraktivitas (bekerja) di dalam rumah.

Pemanfaatan media sosial sebagai sarana berdakwah di masa pandemik ini juga dianggap paling efektif karena tidak mengurangi esensi dan prinsip dalam berdakwah. Pendakwah tetap mampu mengajak dan menyuarakan semangat kegotongroyongan (kebersamaan) dalam mengatasi dan memutus rantai penyebaran virus korona yang telah mengakibatkan dunia merana. Bahkan, melalui media sosial, pendakwah berhasil menyebarkan pesan-pesan positif dan mendorong lahirnya gerakan dakwah (syiar Islam) secara cepat dan luas. Beberapa kegiatan dakwah melalui media sosial yang boleh dikatakan berhasil atau efektif di antaranya adalah  gerakan dakwah oleh Ustad Hanan Attaki dan video dakwah dengan bacaan ayat Alquran indah serta kutipan-kutipan bijak penuh makna oleh hafiz "gaul" Taqy Malik di Instagram. Juga ceramah, kajian fiqih dan hadits, serta pengajian rutin selama bulan Ramadhan secara live streaming yang dilakukan para dai di kanal Youtube-nya

Namun banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan media sosial sebagai media berdakwah, di antaranya harus mengutamakan sikap moderat dalam beragama dan isi dakwahnya harus dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini karena media sosial kerap dimanfaatkan oleh oknum atau pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita-berita hoaks atau provokatif di masyarakat. Apalagi dengan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang tergolong masih redah dan belum mampu mencerna secara cermat setiap berita atau informasi yang muncul di media sosial. Hal tersebut tentu akan membuat masyarakat gampang menerima berita hoaks, isu-isu yang menyesatkan, yang selanjutnya dapat memecah belah umat atau menghancurkan kesatuan masyarakat (bangsa).

Di sinilah pentingnya seorang dai bersikap bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana dalam berdakwah. Seorang dai tidak boleh memihak terhadap persoalan atau perbedaan pandangan (keagamaan) yang muncul di masyarakat. Seorang dai juga tidak boleh menyuarakan pikiran-pikiran negatif (politis) dan menyudutkan pihak-pihak tertentu demi kepentingan pribadi, seperti yang sering terjadi dan kita saksikan bersama di tengah pandemi covid-19 ini. Dengan kata lain, seorang dai harus mampu memilah/memilih mana yang patut disampaikan dan mana yang tidak patut disampaikan, mana yang perlu diluruskan dan mana yang tidak perlu dibesar-besarkan, terutama bila sudah berkaitan dengan masalah agama dan kehidupan berbangsa (bernegara). Demikian seharusnya yang dilakukan para pendakwah dalam berkontribusi mewujudkan kehidupan masyarakat (bangsa) yang berkeadilan, berkeadaban, dan penuh dengan kedamaian di tengah pandemi covid-19. Akankah upaya ini berhasil? Semoga! Kita tunggu saja di akhir masa PSBB dan masa-masa selanjutnya.

VIDEO PILIHAN