Mohon tunggu...
Rena
Rena Mohon Tunggu... Freelancer - nama asli

pecinta proses dan perjalanan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Seberapa Siap (Orang Dewasa) Mendengarkan dan Menjelaskan?

7 Juni 2017   20:23 Diperbarui: 7 Juni 2017   20:38 303
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Anak seringkali dianggap sebagai mahluk masa depan, yang karena anggapan tersebut, kita lupa bahwa anak juga adalah mahluk masa kini, yang suara nya wajib untuk kita dengarkan, dan pertanyaan-pertanyaannya wajib kita jawab dengan sebaik mungkin.

Dari buku Childhood and Society, seorang anak lelaki berusia lima tahun bernama Sam, di diagnosa mengidap epilepsy. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan bahwa penyakit yang diderita oleh Sam merupakan dampak dari gangguan psikis yang diakibatkan oleh pengabaian orang tua terhadap pertanyaan-pertanyaan Sam mengenai kematian.

Sam adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia cenderung hyperactive dan sering bertindak jail. Suatu hari, nenek Sam yang memiliki penyakit jantung datang berkunjung. Sebelumnya Sam sudah diperingatkan oleh ibunya mengenai penyakit nenek. Sam mengerti. Selama 4 hari nenek berada dirumah, Sam tidak bertindak jahil. Dia lebih sering menemani dan membantu nenek.

Hari ke 5 nenek dirumah, seluruh anggota keluarga pergi, hanya ada Sam dan nenek di rumah. Saat itu, Sam tengah menaiki kursi dan hendak mengambil sesuatu dari atas lemari, dan tidak sengaja menjatuhkan barang terbuat dari kaca, dan Sam terjatuh karena kaget. Ternyata nenek tengah memerhatikan Sam. Saat Sam terjatuh, nenek mungkin terkejut dan secara spontan ingin menahan Sam, namun keterkejutannya membuat nenek menghembuskan nafas terakhir. Sam segera menelpon ibu saat mendapati nenek tidak sadarkan diri di lantai.

Sepeninggal nenek, Sam tidak bertindak jahil lagi. Dia menyanyakan nenek kepada ibu nya. “Dimana nenek?” alih-alih berterus terang, ibunya malah berkata bahwa nenek sedang pergi berlibur. Karena tidak percaya, Sam mempertanyakan peti yang tempo hari di angkut oleh banyak orang. Sam mungkin melihat nenek nya dimasukan kedalam peti. Saat Sam bertanya kepada ibunya, apa isi kotak (peti) yang waktu itu diangkat ramai-ramai, ibu menjawab, itu adalah buku-buku nenek. Lantas Sam bertanya lagi “Aku tidak melihat nenek membawa buku-buku yang banyak saat berkunjung”.

Sepeninggal nenek, ibu Sam sering mengunjungi kamar Sam. Ibu Sam melihat posisi tidur Sam menjadi tidak seperti biasanya. Sam tidak berbaring, melainkan tidur dengan posisi duduk bersandar kepada bantal-bantal yang dia tumpuk di ranjang. Itu adalah posisi tidur nenek.

Di siang hari, Sam lebih sering memerhatikan hewan. Dia bahkan memerhatikan ulat yang mati di halaman belakang rumah untuk waktu yang lama. Dia bertanya kepada ibunya “Jika seseorang mati, kemudian apa yang terjadi pada mereka?” tanya Sam setelah memerhatikan ulat yang mati. Ibu Sam tidak menjelaskan sesuatu yang berarti. Dia menjawab “Aku tidak tahu”.

Malam harinya, Sam menjerit-jerit saat tertidur, hingga membangunkan seluruh anggota keluarga. Dia mengeluhkan kepalanya yang sakit. Orang tua Sam segera membawa Sam ke rumah sakit. Dan dokter berkata bahwa Sam baik-baik saja. Semenjak itu, perangai Sam mulai kembali normal. Dia kembali menjadi anak hyperactive dan sering membuat trik-trik yang merepotkan orang tuanya.

Saat Sam bermain-main di halaman belakang, mencoba menangkap kupu-kupu, Sam berhasil melakukannya, namun secara tidak sengaja, sam malah menyebabkan beberapa kupu-kupu hasil tangkapannya mati. Sam sendiri tidak tahu mengapa mereka mati, lalu bertanya kepada ibunya, alasan mengapa kupu-kupu itu mati. Bukan menjelaskan ibunya malah memberi jawaban yang mungkin membuat Sam berpikir keras “Semua mahluk hidup akan mati”.

Pada malam harinya, kejadian itu terulang lagi. Sam kembali berteriak-teriak saat dia tertidur dan terlihat seperti kesakitan. Suhu badannya sangat tinggi, lalu dia mengejang dan mulutnya mengeluarkan buih. Orang tua Sam membawa Sam ke rumah sakit, dan setelah diperiksa, Sam ternyata mengidap epilepsy.

Setelah dokter mewawancarai kedua orangtua Sam, dan melakukan beberapa penelitian, dokter menyimpulkan bahwa epilepsy yang di idap Sam merupakan dampak dari tekanan psikis. Saat ibunya bercerita mengenai pertanyaan-pertanyaan aneh Sam soal kematian semenjak neneknya meninggal, ibunya mengaku bahwa dia tidak berkata jujur dan tidak memberikan penjelasan yang sesuai. Ibunya hawatir Sam tidak akan bisa menerima kehilangan. Berdasarkan hasil penelitian dan penuturan ibunya, dokter menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Sam mengalami depresi saat pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya tidak terjawab. Ini memicu kehawatiran dalam diri Sam, sehingga dia berpikir sangat keras dan tertekan karena tidak mendapatkan jawaban.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun