Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Penulis

Anak | Suami | Ayah

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Sikap Legowo Petro Poroshenko atas Mujurnya Nasib Volodymyr Zelenskiy Patut Dicontoh

22 April 2019   22:01 Diperbarui: 23 April 2019   07:20 0 4 0 Mohon Tunggu...
Sikap Legowo Petro Poroshenko atas Mujurnya Nasib Volodymyr Zelenskiy Patut Dicontoh
Presiden Ukraina Petro Poroshenko (kiri) pada acara debat dengan penantangnya, bintang komedi Volodymyr Zelenskiy di ibu kota Kyiv (19/4). Gambar: voaindonesia.com

Untuk pertama kalinya, Ukraina akan segera dipimpin oleh seorang komedian yang nihil pengalaman di bidang politik. Ya, presiden terpilih tersebut bernama Volodymyr Zelenskiy. Selain terbilang belia di kancah perpolitikan, Zelenskiy juga ternyata masih sangat muda dari segi umur, baru menginjak usia 41 tahun.

Wah, betapa mujurnya nasib Zelenskiy, untuk kedua kalinya beliau terpilih lagi menjadi presiden. Kok bisa, yang pertama kapan?

Periode pertama tidak perlu dianggap, karena ternyata jabatan itu berlangsung di negeri komedi. Kisahnya, pada acara serial komedi "Servant of the People", Zelenskiy pernah memainkan peran layaknya seorang presiden Ukraina. Dan siapa sangka, akhirnya peran dalam aksi "presiden-presidenan" itu terwujud nyata.

Pada pemungutan suara putaran kedua Pilpres yang digelar 21 April yang lalu, Zelenskiy berhasil mengungguli capres petahana Poroshenko, dengan meraup suara terbanyak sebesar 73,2%. Jika dipikir-pikir, bagi seorang penantang, apalagi tadi disebut sama sekali belum berpengalaman, capaian angka sebanyak itu sungguh menakjubkan dan tentu diluar dugaan.

Namun demikianlah faktanya, warga Ukraina buktinya lebih yakin dengan seorang komedian daripada politisi senior Poroshenko.

Komedian Ukraina Volodymyr Zelensky memenangkan Pilpres di Ukraina (Gambar: jawapos.com)
Komedian Ukraina Volodymyr Zelensky memenangkan Pilpres di Ukraina (Gambar: jawapos.com)
Kita tentu tidak perlu membahas panjang lebar hal ikhwal bagaimana persiapan Zelenskiy memenangkan pertarungan tersebut, tapi yang jelas isu yang beliau mainkan sepanjang kampanye adalah terkait korupsi dan kemerosotan ekonomi yang melanda Ukraina. Pembahasannya cukup sampai di sini saja.

Apa yang menarik dari proses Pilpres di Ukraina ini untuk kemudian bisa dicontoh oleh Indonesia yang kebetulan juga barusan menyelesaikan perhelatan serupa?

Suasana damai tanpa huru-hara serta sportivitas yang terbangun di sana.

Sesaat setelah terindikasi kalah lewat quick count dan exit poll, capres petahana Poroshenko ternyata tidak berbuat aneh, menghargai kemenangan lawan, dan bahkan sampai berjanji akan membantu mulusnya masa transisi kepemimpinan dari tangannya ke pundak Zelenskiy. Luar biasa, bukan?

"Saya akan meninggalkan puncak kekuasaan ini, tetapi saya ingin menggarisbawahi bahwa saya tidak meninggalkan dunia politik," ujar Poroshenko.

Apapun masa lalu yang membelit Poroshenko, beliau yang notabene berpengalaman sama sekali tidak menunjukkan sikap remeh apalagi mencela Zelenskiy, malah memberi motivasi bermanfaat kepada juniornya itu.

Poroshenko juga tidak menggunakan pengaruhnya untuk mengerahkan massa pendukungnya memboikot kemenangan Zelenskiy, karena pemenang Pilpres sesungguhnya adalah warga negara Ukraina sendiri. Janjinya untuk tetap aktif di dunia politik juga merupakan sikap optimis yang kuat serta bentuk komitmen tinggi untuk terus berkontribusi bagi negaranya. Kekalahan dalam Pilpres tidak membuatnya hilang semangat.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, apakah para capres-cawapres berniat meniru sikap Poroshenko terhadap Zelenskiy dan sebaliknya?

Sistem dan proses Pilpres di Ukraina tidak hanya sama dengan yang diterapkan di Indonesia yakni LUBER dan melalui pemungutan suara di TPS, tetapi waktu pelaksanaannya pun hampir berbarengan.

Apakah proses Pilpres di Indonesia memang harus lebih buruk atau malah justru diupayakan agar sama baiknya dengan Pilpres di Ukraina?

Harusnya dapat diupayakan oleh semua pihak, baik para pasangan capres-cawapres sendiri, para elit politik dan juga masyarakat banyak. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menghindari konflik sosial dan bersabar menunggu hasil keputusan final dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tentu setelah nanti diumumkan pasangan mana yang resmi terpilih, pasangan tersebut wajib mengumandangkan janji yang barangkali dibuat mirip dengan janji Zelenskiy berikut: "Aku tidak akan pernah mengecewakanmu" kepada seluruh rakyat Indonesia. Betul?

Semoga demikian. Amin!

***

Sumber: [1] [2] [3]