Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Anak | Suami | Ayah

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Ke Depan, Pilpres dan Pileg Sebaiknya Diselenggarakan Terpisah

20 April 2019   13:32 Diperbarui: 20 April 2019   13:42 0 5 3 Mohon Tunggu...
Ke Depan, Pilpres dan Pileg Sebaiknya Diselenggarakan Terpisah
Gambar: kompas.com

Perhelatan pesta demokrasi besar telah usai, suhu perpolitikan di tanah air juga mulai stabil, meski masih tersisa beberapa pekerjaan berat, yakni penghitungan perolehan suara yang sedang dalam proses. Apa pun hasil akhirnya nanti, seluruh masyarakat Indonesia diharapkan mampu menerimanya dengan berbesar hati.

Walaupun demikian, tentu segala proses yang sudah dilewati, mulai dari awal hingga akhir wajib dievaluasi oleh seluruh pihak untuk dijadikan sebagai bahan refleksi bersama dalam menghadapi pesta demokrasi serupa di masa yang akan datang, apakah itu nanti berkaitan dengan kepentingan pemilihan kepala daerah maupun pemilihan pemimpin tingkat nasional dan para anggota wakil rakyat.

Jika ditanya, apa evaluasi pokok terhadap pesta demokrasi yang belum lama ini digelar, pasti akan sangat banyak, sementara waktu tidak cukup untuk menguraikannya satu per satu. Namun hal terpenting di antara semuanya itu adalah mengenai pelaksanaan pemilihan presiden-wakil presiden dan pemilihan para anggota wakil rakyat yang dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.

Semua pihak tentu sepakat bahwa pesta demokrasi kali ini menyita energi, waktu, pikiran dan materi yang tidak sedikit. Namun hal tersebut mau tidak mau harus diterima, itulah konsekuensi yang tidak dapat dielakkan.

Sebelumnya, salah satu motivasi dua pesta demokrasi (pilpres dan pileg) diselenggarakan berbarengan adalah untuk menghemat anggaran pembiayaan, yang diperkirakan akan menelan dana hingga ratusan triliun rupiah jika dilakukan secara terpisah. Dengan digabung, dana yang dihabiskan hanya mencapai Rp25 triliun. Bukan cuma itu, waktu yang dibutuhkan juga tidak sampai berhari-hari, melainkan cukup satu hari saja, kecuali yang digelar di luar negeri.

Motivasi tercapai, dana sukses ditekan, dan waktu berhasil dipersingkat. Namun betulkah tidak ada efek negatif di balik itu?

Perhelatan pesta demokrasi yang dirasa efektif tersebut ternyata meninggalkan jejak buruk yang tidak gampang untuk diatasi dalam waktu singkat. Perlu diingat kembali, proses panjang terhadapnya turut menyisakan luka akibat gesekan kuat, baik oleh para kontestan (capres, cawapres, caleg) maupun masyarakat awam. Kompetisi nyatanya tidak hanya dilakoni oleh elit-elit politik yang berperan sebagai pemain, namun juga masyarakat yang berstatus sebagai pemilih.

Masyarakat yang seharusnya cukup mengenal dan kemudian menentukan hak pilihnya sampai harus berkonflik satu sama lain, saking terlalu semangat membela dan memperjuangkan para jagoan pilihan mereka. Belum lagi konflik yang terjadi di antara para kontestan sendiri yang turut memperparah keadaan.

Ada yang ikhlas dan berbesar hati menerima kenyataan, tetapi tak sedikit pula yang menolak, bahkan ada beberapa yang berniat menciptakan kegaduhan baru dan lebih besar serta berharap masyarakat konsisten terlibat.

Sampai kapan konflik dan kegaduhan di negeri ini dibiarkan berlangsung? Bukankah sebaiknya relasi sosial yang terlanjur renggang diupayakan untuk direkatkan kembali?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2