Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

tuho.sakti@yahoo.co.uk

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Jatah Kursi Wagub Belum Jelas, PKS Masih Percaya Tawaran 6 Kursi Menteri?

4 April 2019   20:46 Diperbarui: 4 April 2019   20:53 339
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar: kompas.tv (screenshot)

Kurang lebih dua minggu lagi Pilpres 2019 akan digelar, namun posisi wakil gubernur DKI Jakarta sampai saat ini dalam status lowong. Lowongnya jabatan penting ini telah berlangsung hampir delapan bulan, sejak Agustus 2018 lalu ketika mantan Wakil Gubernur Sandiaga Uno mengundurkan diri karena mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Proses seleksi terhadap calon pendamping Gubernur Anies Baswedan tersebut sudah beberapa kali digelar, dan terakhir menyeruak dua nama yakni Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu, di mana keduanya merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sesuai kesepakatan, kursi kosong orang nomor dua di ibukota ini akan diserahkan kepada PKS, hasil keputusan tawar-menawar politik bersama Partai Gerindra.

Menurut informasi, berkas Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu sudah berada di meja Anies dan pimpinan DPRD DKI Jakarta. Akan tetapi, proses penentuan siapa yang bakal dipilih di antara dua nama tak kunjung dilakukan. Bahkan Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi mengatakan bahwa beliau dan jajarannya kemungkinan baru akan menindaklanjutinya usai Pemilu 2019.

"Tahapannya masih panjang. Sekarang kan tahun politik, keganggu semua. Ada yang kampanye, kami kan maju (nyaleg) lagi," ungkap Prasetio.

Seolah menyerahkan penuh kepada DPRD DKI Jakarta, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dalam hal ini Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Gubernur Anies tidak berbuat banyak. Mereka tidak mendesak para anggota DPRD DKI Jakarta untuk segera rapat memutuskan siapa yang dipilih, apakah Agung Yulianto atau Ahmad Syaikhu.

Jika ditanya, warga ibukota sesungguhnya sangat tidak rela kursi wakil gubernur dibiarkan lowong, dengan alasan apa pun, termasuk kesibukan di tahun politik. Warga ingin dilayani maksimal dan tidak dengan "tangan pincang".

Dengan proses yang berlarut-larut, maka wajarlah kemudian beberapa pihak menduga, di balik semuanya ada permainan politik. Lowongnya kursi wakil gubernur merupakan bagian dari desain politik, sengaja dibiarkan sambil menunggu hasil Pilpres 2019.

"Sudah mulai mengarah ke sana (potensi pemilihan wagub DKI setelah Pilpres). Ketika Prabowo kalah, Sandiaga ditarik lagi menjadi wagub," kata Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting.

Tentu selain warga ibukota, pihak yang lebih berkepentingan dalam suksesi pemilihan wagub DKI Jakarta adalah PKS. Partai inilah yang seharusnya giat mendesak supaya "jatah kue" mereka secepatnya diberikan. Tetapi sekali lagi, PKS justru malah larut dalam pesimisme dan pasrah pada hambatan yang terjadi.

"Bisa selesai Pilpres. Kembali pada masing-masing fraksi. Mungkin ini karena pada sibuk urus kampanye, pada ke dapil kemungkinan. Mudah-mudahan sehabis 17 April kan orang sudah enggak ada kesibukan politik kan. Tinggal mudah-mudahan fokus di pansus. Kita berharap begitu sehingga di bulan April tanggal 17 masih ada dua pekan, seharusnya itu bisa selesai," tutur Abdurahman Suhaimi, Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Namun betulkah mandeknya pemilihan wagub DKI yang baru karena alasan kesibukan para anggota dewan di tahun politik?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun