Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Pendidik

Pendidik dan Penulis yang Masih Terus Belajar

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Setelah 46 Tahun, Kemana PDIP Akan Melangkah?

11 Januari 2019   19:13 Diperbarui: 11 Januari 2019   19:26 264 1 0
Setelah 46 Tahun, Kemana PDIP Akan Melangkah?
Megawati Soekarnoputri di acara HUT ke-46 PDIP (foto: www.facebook.com/PDIPerjuangan)

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah genap berusia 46 tahun. Bila dibandingkan dengan usia manusia, PDIP saat ini masih sangat tergolong produktif.

Seseorang dianggap produktif apabila usianya antara 15 sampai 64 tahun. Produktif berarti mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Secara usia, produktif. Namun benarkah PDIP sungguh-sungguh produktif? Apa tolok ukurnya?

Sebagai penganut konsep "trias politica", Indonesia memiliki 3 (tiga) kelompok lembaga pemerintahan negara yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dua di antara kelompok tersebut, antara lain eksekutif dan legislatif merupakan hak partai politik.

PDIP sebagai salah satu partai pemilik hak telah banyak memperlihatkan bukti-bukti produktivitasnya.

Di bidang eksekutif, PDIP sudah dua kali menghasilkan presiden, dan di bidang legislatif secara konsisten menyandang peringkat tiga besar peraih kursi parlemen.

Sepanjang tiga periode pemilihan anggota legislatif (2004, 2009 dan 20014), PDIP kukuh mendulang jumlah kursi parlemen yang menakjubkan. Pada 2004 sejumlah 109 kursi, pada 2009 sejumlah 95 kursi dan pada 2014 kembali merebut 109 kursi.

Melengkapi prestasi tersebut, PDIP juga sudah banyak menghasilkan menteri, kepala daerah dan anggota wakil rakyat tingkat daerah.

Keberhasilan PDIP dalam tiga kali Pilkada terakhir (2015, 2017 dan 2018) juga sangat menggembirakan. Persentase kemenangan di seluruh daerah pemilihan cukup signifikan, yaitu rata-rata berada pada angka 54,82% (Pilkada 2015 sebesar 54,48%; Pilkada 2017 sebesar 50%; dan Pilkada 2018 sebesar 60%).

Pemilu 2019 sebentar lagi digelar. Pesta demokrasi yang dinilai terumit sepanjang sejarah Indonesia tersebut akan dihelat pada 17 April 2019. Hal ini menjadi tantangan khusus bagi PDIP. Produktivitasnya kembali diuji.

Selain untuk meraih jabatan presiden yang ketiga kalinya, PDIP juga akan berjuang mempertahankan predikat peringkat satu di parlemen, atau setidaknya tetap masuk tiga besar. Belum lagi perjuangan untuk kursi dewan di sejumlah daerah.

Mayoritas lembaga survei memprediksi bahwa pada pemilihan calon anggota legislatif di Pemilu 2019, PDIP berpeluang besar sebagai pemenang. Salah satu lembaga tersebut yakni Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

"PDI-P berpotensi menjadi partai pertama yang memenangkan pemilu dua kali berturut-turut. Sejak reformasi, dari empat kali pemilu, tidak ada satu pun parpol yang memenangi pemilu dua kali secara berturut-turut," ujar Adjie Alfaraby, Peneliti LSI Denny JA (Rabu, 12/9/2018).

Sembari menanti harapan untuk meraup kemenangan pada Pemilu 2019, PDIP juga punya amanah khusus dari sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri. PDIP tidak boleh berhenti pada kepentingan lima tahun ke depan saja.

Dalam pidatonya di acara HUT ke-46 PDIP hari ini (Kamis, 10/1/2019), Megawati menyiratkan bahwa partainya berupaya tidak hanya merebut jabatan presiden di Pemilu 2019, tetapi termasuk juga mempersiapkan strategi memenangkan pemilihan presiden di Pemilu 2024.

"Pemilu 2019 itu hanya sebuah momen. Satu langkah yang sebenarnya, yang akan terjadi nantinya sesungguhnya adalah pada 2024," kata Megawati di JIExpo Kemayoran.

Megawati berharap, pada 2024, para kader partainya juga siap menyongsong alih generasi. Ada pun hasil Pemilu 2019, baik pemilihan presiden maupun anggota legislatif, akan menjadi patokan partai menuju Pemilu 2024.

"Kenapa? Karena sebenarnya dari keadaan bangsa itu akan benar-benar terjadi alih generasi (tahun 2024). Jadi, kalian bersiaplah jangan tengok kiri, tengok kanan, lurus ke depan. Rakyatlah yang jadi penentu," ujar Megawati melanjutkan pidatonya.

Beberapa bulan yang lalu, Megawati sempat menyampaikan keinginannya untuk berhenti dari jabatan ketua umum partai.

Berdasarkan pengakuan beliau, faktor usia yang bisa saja menghambat produktivitas kerja menjadi alasan untuk segera mengakhiri tugas sebagai nakhoda partai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2