Mohon tunggu...
Tsabit Pattipeilohy
Tsabit Pattipeilohy Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Suka menulis buah pikiran yang terkadang tidak terlalu matang, beberapa busuk dan keasaman

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Menikah, Antara Kesiapan dan Keperluan

23 Juni 2022   17:36 Diperbarui: 23 Juni 2022   17:37 92 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Coba renungkan, mengapa kita harus menikah, mengapa kita butuh menikah, atau mengapa kita perlu menikah. Renungkan hal tersebut tanpa motif agama, tuntutan orang tua ataupun lingkungan sekitar. Jika kita sudah menemukan jawabannya maka kita perlu untuk menikah tetapi bukan berarti kita siap untuk menikah. Karena keperluan dan kesiapan dua hal yang berbeda, terkadang tidak selalu sejajar, pun kadang saling bertentangan.

Seseorang yang siap menikah tetapi tidak merasa perlu atau butuh besar kemungkinan akan saling menelantarkan, tidak ada komitmen pada pasangan dan sebagainya. Itulah mengapa banyak orang yang siap secara mental dan finansial tetapi masih juga selingkuh atau keluyuran tidak jelas dan sebagainya kendatipun ia mendapatkan pasangan yang ideal lahir batinnya. Sedangkan orang yang menikah karena perlu tetapi tidak memiliki kesiapan ia hanya akan makan cinta, tidak peduli dahaga dan asam lambung menyerang.

Kita terkadang susah untuk bercermin menilai diri sendiri mengenai kemampuan dan kesiapan kita untuk menikah serta menjalani segala ritme problematiknya. Tidak bisa dinafikan menikah merupakan suatu hal yang mulia dan memiliki keutamaan, tetapi untuk menjalani dan menggapainya juga butuh kesiapan dari individu terkait. Karena ketidaksiapan kita hanya akan memberikan penyesalan di hari esok.

Lalu apakah kita benar perlu menikah?, ataukah kita hanya perlu sosok yang senantiasa menemani hingga akhir langkah?. Jawabannya tentu hanya diri kita sendiri yang tahu. Kendati demikian, sebagai makhluk sosial manusia tidak mungkin untuk tidak saling membutuhkan. Waktu bergulir memberikan kita kesempatan untuk bertemu dan berpisah. Orang tua akan pergi dan menua sendiri, saudara, teman dan kerabat pun demikian. Pada waktunya saudara yang dulu bermain bersama, teman dan sahabat yang menjadi kawan berkelana pada akhirnya akan pergi dan meninggalkan. Dan di saat semua pergi hidup kita harus tetap berjalan.

Sebagai makhluk sosial komunikasi adalah hal yang tak terelakkan oleh kita. Dengan komunikasi kita mengenal, belajar, dan bertumbuh satu sama lain. Layaknya cinta bertingkat, komunikasi pun demikian. Tidak semua hal bisa kita utarakan pada semua orang, pun tidak semua orang mampu/mau menerima segala hal yang kita utarakan, keluh kesah, kisah kasih.

Tentunya setiap orang memiliki tujuannya masing-masing, begitu juga ketakutannya. Jika ditanya apa yang paling saya takutkan?, maka jawabannya adalah kesepian. Karena menurut saya bahagia/sengsara adalah tentang perspektif serta bagaimana kita mengolah emosi saja. Tetapi kesepian adalah hal yang beda. Kita bisa bahagia pada hal-hal yang orang lain anggap remeh, tapi sepi adalah hal yang tidak bisa ditolerir sebagai makhluk sosial. Manusia mampu untuk pergi berkelana sendiri ke berbagai negeri, tetapi tidak mungkin ia tidak berkomunikasi sepanjang perjalanannya, baik pada penduduk lokal ataupun seseorang yang ia jumpai sepanjang perjalanannya.

Di pundak yang tepat kita adalah anak kecil yang rapuh. Menangis, mengadu, merengek, merajuk adalah kita seutuhnya. Pada waktunya kita butuh seseorang yang memandang kita dengan jujur, mendengarkan kita dengan seksama, serta seseorang yang menjadi tempat kembali sejauh apa pun kita melangkahkan kaki. Pada saatnya juga kita butuh merindu & dirindukan, dijadikan sebagai alasan, dijadikan sebagai pantangan. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan