Mohon tunggu...
Fery Mulyana
Fery Mulyana Mohon Tunggu... Entrepreneur

Learning as Human Being

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Memoar Tanpa Batas

12 Juli 2019   21:53 Diperbarui: 23 Juli 2019   10:55 0 1 1 Mohon Tunggu...
Memoar Tanpa Batas
Photographed By: Fery Mulyana

Suara adzan magrib berkumandang tanda waktunya sholat sekaligus waktunya berbuka puasa, hari itu hari terakhir bulan ramadhan, setidaknya itu yang aku simpulkan dan yakini dari berita sore tadi waktu tv mulai menyiarkan sidang isbat tahun itu.

Aku tergopoh menghampiri ruang rawat inap di pojokan rumah sakit, terlihat dari luar bayang sosok laki-laki tua menyantap makanan yang kami siapkan tadi sebelum magrib.  Makannya pelan, maklumlah dia telah menginjak usia 70 tahun, raut mukanya terpancar keletihan, tapi rambutnya tetap rapi, perawakan sedang, tegap tapi bukan typical orang yang suka berolah raga, cuma memang untuk usianya yang senja, beliau ini tergolong kuat dan sehat. Makanan yang disantapnya juga tergolong tidak seperti biasanya, alias makan di wadah styrofoam seadanya, seperti lazimnya orang yang menunggu di rumah sakit.

Dalam remang senja dan suasana kamar yang redup, gordyn pun belum ditutup rapat, begitupun pintu terbuka sedikit, aku masuk kedalam, bingung, darimana harus memulai, hati menerka-nerka apa kiranya responnya jika aku berkata itu, suasana bathin ku berkecamuk, entahlah, berat aku menyampaikan, takut salah. Tapi sepertinya aku yakin, apa yang akan aku sampaikan adalah sesuatu yang benar, setidaknya akalku berkata demikian.

Sedikit aku memulai menyapaikan kata.. 

"pih.. kataku sedikit bergetar". Dia diam tak menjawab tetap asik dengan makannya yang disantap. kembali aku mencoba berkata lagi, kali ini agak panjang aku menyapa.

"pih... kayaknya.. kita udah aja ya.." kataku sambil masih bingung bagaimana aku harus menyampaikan. 

papih terdiam, sedikit dia melirikkan pandangannya padaku. matanya sedikit memincing, seolah mencari tahu apa maksud omongan ku, paham dengan maksud pandangan matanya akupun berusaha menjelaskan.

"pih.. " kataku pada ayah ku itu. 

"nafasnya sudah dipompa pake tangan, seolah-olah dia bernafas, tapi kayaknya sudah gak ada pih.. " jelasku sebisa mungkin menahan rasa emosional dalam dada. papi terdiam, dia simpan makanan dalam styrofoam yang sedang dia santap ke atas meja dekat TV.

Dia tarik kacamata tebalnya ke atas mendekati dahi, dia angkat kedua tangannya, telapaknya menutup mata yang mulai berair, menahan beban besar untuk mencurahkan rasa sedih yang berat menimpa dadanya, sayup terdengar tangis lirih dari mulutnya, aku terdiam, setidaknya ini adalah kali kedua melihat beliau menangis sedih, itupun sudah lama sekali, waktu itu dia menangis karena melihat aku tergolek lemas meratapi nasib buruk yang pernah menimpaku.

"semuanya sudah takdir pih.. sebenernya kita semua menuju kesana, kita antri, ini hanya masalah waktu saja, dia sudah lepas dari sakit, dia bukan tiada tapi justru ada, bahkan hidup disisi allah.."  Ucapku sebisa-bisa menenangkan dirinya sambil berusaha tetap tegar melihat pemandangan yang ada didepanku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x