Trisnayanti Ayu
Trisnayanti Ayu

Jurnalis amatiran di media online, Guru, Perempuan Sangat Biasa, Selalu punya ambisi bisa membawa perubahan di dunia, ASTUNGKARA

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight

Jatiluwih Agriculture Festival 2017, Ingatkan Kita Bahwa Bali Punya Subak

17 Juni 2017   21:45 Diperbarui: 17 Juni 2017   21:52 206 1 3
Jatiluwih Agriculture Festival 2017, Ingatkan Kita Bahwa Bali Punya Subak
Dokumentasi Pribadi

Pagi itu tanggal 16 Juni 2017, langit cukup cerah sampai-sampai aku terlambat bangun (ah apa hubungannya?). Saat aku periksa jam di handphone ternyata sudah pukul 08.00. Aku ingat jika hari itu aku mendapatkan undangan oleh Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih. Ya, DTW Jatiluwih adalah salah satu objek wisata di Kabupaten Tabanan, Bali. Objek wisata ini menawarkan wisatawannya pemandangan sawah terasering yang dijamin bikin berlama-lama nangkring sambil selfie. Kalau selama ini Kabupaten Tabanan, Bali lebih dikenal dengan objek wisata Tanah Lot nya, belakangan objek wisata Jatiluwih ini banyak menyita para wisatawan domestic maupun mancanegara. Oh ya, namanya Jatiluwih karena terletak di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Balik ke undangan, aku mendapat undangan untuk menyaksikan acara Pembukaan Jatiluwih Agriculture Festival 2017 yang baru pertama kali digelar di objek wisata yang satu ini. Saat bersiap-siap aku sudah membayangkan apa saja yang ada dalam acara itu. Dari nama acaranya saja sudah pasti kegiatan tidak akan jauh-jauh dari sawah yang ada di objek wisata itu, pasti seru! Fikirku.

Dan benar saja, meskipun acara pembukaan secara resmi yang dilakukan oleh Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti baru akan dimulai sekitar pukul 13.00, namun wisatawan yang kebetulan berkunjung waktu itu sudah cukup antusias menantikan rangkaian acara yang akan digelar, apalagi pihak panitia menampilkan sejumlah tari penyambutan seperti Tari Puspanjali, Tari Sekaribing, Tari Cendrawasih, Tari Gopala, Tari Belibis, Tari Margapati, Tari Manukrawa, Tari Topeng hingga Tari Sekar Wangi yang dibawakan oleh para remaja dan anak-anak dari desa setempat. Maka berlomba-lombalah para wisatawan mengabadikan momen itu.

Sembari menunggu kedatangan undangan lainnya, aku sempat mengobrol dengan Manajer Operasional DTW Jatiluwih. Ia mengatakan jika, selain digelar sebagai ajang promosi pariwisata, Jatiluwih Agriculture Festival 2017 ini dilaksanakan juga sebagai ungkapan syukur kepada Dewi Sri yang merupakan Dewi kemakmuran dalam ajaran agama Hindu. "Sesuai dengan tema yang kita pilih yaitu 'Mamica Manik Galih' yang artinya mensyukuri anugerah dan kemakmuran alam semesta," ujar I Nengah Sutirtayasa.

Terlebih dari itu, pada tahun 2012 UNESCO menetapkan Jatiluwih sebagai situs Warisan Budaya Dunia (WBD) dengan sistem pertanian subak yang diterapkan, diman Subak Jatiluwih masuk dalam Subak Catur Angga Batukau. Sistem pertanian subak yang diterapkan di Desa Jatiluwih dan di Bali merupakan sistem pertanian yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana yakni hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama makhluk hidup dan hubungan dengan alam. Para petani di Desa Jatiluwih dan sekitarnya pun tergabung dalam organisasi pertanian yang disebut Subak Jatiluwih  dengan total luas 303 hektare lahan pertanian dan didalamnya terdiri dari 7 Tempek (bagian) yaitu Tempek Telabah Gede, Tempek Besi Kalung, Tempek Kedamian, Tempek Uma Duwi, Tempek Uma Kayu, Tempek Kesambi dan Tempek Gunung Sari.

Untuk menjaga dan melestarikan kawasan WBD tersebut, masyarakat Desa Jatiluwih memiliki sejumlah peraturan dalam subak yang apabila dilanggar akan dikenai sanksi cukup berat yakni menghaturkan Guru Piduka di Pura Ulun Carik yang biayanya tidak sedikit, mungkin lebih dari Rp 5 Juta. Adapun peraturan yang tidak boleh dilanggar seperti misalnya menanam komoditi lain saat Subak sepakat menanam komoditi tertentu. "Petani disini sudah memiki jadwal kapan waktunya menanam padi beras merah dan kapan menanam padi lokal varietas, nah jika ada yang melanggar dengan menanam komoditi lain ya akan dikenakan sanksi," ujar Kepala Desa Jatiluwih, I Nengah Kartika.

Tak hanya itu, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat membuat Subak Jatiluwih semakin eksis. Ada tradisi Nyepi Carik yang dilakukan selama satu sampai tiga hari. Selama Nyepi Carik tidak boleh ada petani yang beraktifitas di sawah, wisatawan pun diberikan himbauan untuk tidak masuk ke areal sawah petani. Apabila ada yang melanggar maka akan dikenakan sanksi. Inilah wujud bagaimana para petani menjalin hubungan harmonis dengan alamnya, setelah sepanjang tahun memproduksi pangan tanah atau Ibu Pertiwi juga diberikan waktu untuk beristirahat.

Mendengar penjelasan itu aku jadi BAPER. He he he. Bukan apa-apa sih, aku jadi merasa jika pertanian Subak yang ada di Bali memang harus disyukuri dan tentunya di jaga bersama keberadabannya. Pemikiranku simple saja, jika tidak ada lahan pertanian, baik lahan sawah maupun lahan pertanian bukan sawah seperti kebun dan ladang, manusia mau makan apa? Padi yang jadi beras terus dimasak nasi ditanam di sawah. Cabai juga ditanam di sawah, bayangkan saja jika tidak ada cabai dan harus impor cabai dari luar Indonesia. Sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, dan sebagainya ya ditanam di sawah, kebun atau ladang (biarpun sekarang sudah ada yang menanam dengan hidroponik sih).

Kembali aku terfikir, apa jadinya jika subak nantinya menghilang dengan segala tantangan yang muncul belakangan ini. Mulai dari tidak ada generasi yang akan meneruskan, ketersediaan pasokan air untuk irigasi hingga tuntutan ekonomi yang ujung-ujungnya akan membuat para petani berbondong-bondong mencari makelar untuk dijualkan tanah sawahnya. Kebanggaanku akan subak yang dimiliki Bali malah memudar, diganti dengan ketakutan.

Apalagi setelah aku melihat parade memetik padi secara simbolis yang ada dalam rangkaian kegiatan itu, yang memetik padi adalah para ibu-ibu petani yang umurnya rata-rata sudah 40 tahun diatas. Dengan lihai mereka memegang alat untuk memetik padi, maklum sepertinya sudah terbiasa. Jika nantinya ibu-ibu itu sudah tidak mampu bekerja lagi sebagai tukang petik padi, siapa ya yang kira-kira akan meneruskannya?.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Sambil terus berfikir, aku menyaksikan fragmen tari yang dibawakan oleh para remaja dari Desa setempat. Fragmen tari itu menunjukkan bagaimana para petani melakukan pekerjaannya disawah mulai dari membajak sawah, menanam padi, hingga memanen padinya. Para remaja itu sungguh enerjik, meskipun menari dibawah paparan sinar matahari yang sangat menyengat, demi membuat para undangan terkesima. Wajar saja, selain ada Bupati dan undangan VIP lainnya, juga ada perwakilan Pemerintah Toyama, Jepang, yang menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam proyek pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang bakalan dibangun di Desa Jatiluwih. Mereka pun terpukau mengikuti acara pembukaan Jatiluwih Agriculture Festival 2017 dari awal hingga akhir.

Para remaja yang beraksi inilah yang nantinya diharapkan dapat berperan dalam pelestarian Subak, fikirku. Lalu bagaimana caranya? Entah lah, apa fikiranku itu benar atau salah aku juga tidak tahu, tetapi menurutku sah-sah saja berpendapat jika peran generasi muda dalam keberadaan Subak dimasa depan sangat dibutuhkan, mungkin Pemerintah, kakak-kakak, adik-adik, teman-teman punya solusi?

Dengan digelarnya Jatiluwih Agriculture Festival 2017, aku merasa diingatkan bahwa Bali memiliki Subak yang harus dilestarikan, dijaga, dan jangan sampai diabaikan karena Subak adalah Warisan. (AY)

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi