Mohon tunggu...
Tri Handayani Murti
Tri Handayani Murti Mohon Tunggu... Freelancer - Fresh Graduate, Bachelor of Economics

Researcher

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Lantunan Resah Mengejar Semu

7 September 2019   21:09 Diperbarui: 7 September 2019   21:11 20
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Malam ini, sebuah kenangan terlintas sekelabat dalam bayang

Demi waktu yang telah berlalu, 

Rasa itu datang membelengguku 

Sunyi senyap menggasak sesak

 Ku ceritakan perlahan, agar aku tak   terpaku sendirian

Izinkan aku menjabatmu sejenak, agar kita bisa berbagi riak


Duduklah, kursi disampingku masih sepi

Banyak yang datang dan pergi Berdonasi kisah tanpa letih

Aku juga sama, ku bagikan kisahku tapi seadanya

Mungkin aku pelit,

Karna tak ada yang sepandai kamu dalam melilit

Masih kamu, kotak donasi ceritaku yang utuh


Detik waktu berlalu,

Bayangmu yang semu tak lagi ku dapati

Aku berlagak jadi pengacara

Pengangguran banyak rencana

Menyombong bahkan menggongong

Agar bayangmu tau, aku tak lagi mau tau

Satu kali, dua kali, bahkan ribuan kali dia tetap tidak mau pergi


Tap tap tap 

Jari-jariku sibuk mengeja namamu

Tapi profilmu masih saja abu-abu 

Mengapa karmamu tak berkesudahan, gerutuku 

Yah, Sudahlah.. 

Yang patah tumbuh yang hilang berganti, katanya 

Tak apa 

Satu dua tiga 

Kisah pengacaraku perlahan sukses 

Tak lagi dentingmu dalam riuh detikku

Sebentar, biarkan aku menyesap kopi yang berperisa pedih ini 

Sssppp, ah ini bahkan lebih manis dari kopi saset abal2 yang pembual 

Ngaku kopi, tapi endemiknya hanya seper seratus mili 

Eh sudah, aku tak sedang mau menggibah kopi 

Lain kali saja, kita menggibah kopi dikala senja 


Hari ini masih begini begitu 

Tak ada yang mampir dikursi itu 

Sesekali, aku melancong mengusir angan yang kosong 

Tik tok tik tok 

Tak terasa, aku di penghujung hari Ingin segera ku akhiri 

Tapi, yang tak diundang segera datang


Tepat dipelupuk mataku dia membisu 

Aku ingin menyambutnya, tapi tak kuasa 

Tak ada yang aku punya, satupun, untuk menyuguhinya 

Karna dia butuh kamu, sebagai suguhannya 

Aku tercekat, masih meronta 

Perlahan melunak 

Sadarku, datangnya mengusik gelisah 

Yaa.. 

Ku perkenalkan lagi padamu 

Dia adalah rindu, 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun