Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Administrasi - Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kasidi Nomor 577: Sang Pejuang Pohon

17 Oktober 2021   23:14 Diperbarui: 17 Oktober 2021   23:24 109 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
id.pinterest.com/pin

Kasidi 577  Sang Pejuang Pohon
Tri Budhi Sastrio

Ada dua negara yang akan dipilih untuk dijadikan pembanding dengan Indonesia dalam kaitannya dengan kondisi dan usaha mencapai Net-Zero Emissions (NZE) saat ini, yaitu Bhutan dan Bangladesh. Dua negara ini dipilih karena unik tidak hanya usaha yang dilakukan tetapi juga kondisinya. 

Bhutan terletak di lembah pegunungan Himalaya, berpenduduk kurang lebih 750 ribu, tergolong miskin, tidak punya lampu lalu lintas sampai dengan tahun 2018, mobil sangat sedikit, sehingga tidak mengherankan jika status emisi karbonnya negatif. Hanya saja yang hebat negara ini terus saja menanam ratusan ribu pohon. Setiap jengkal tanah yang masih belum mempunyai pohon, dengan telaten dan tidak kenal lelah terus saja ditanami.

Beberapa orang sampai dikenal sebagai 'pejuang pohon' karena kegigihannya menanam pohon, padahal emisi karbonnya jelas-jelas negatif. Yang mendasari ini semua adalah meningkatnya suhu di Bhutan. Ini dibuktikan dengan terbentuknya ribuan danau selama satu dekade terakhir karena banyak gletzer mencair. Selama formasi batuan penahan danau yang jumlahnya ribuan itu masih kuat, masalah memang belum muncul, tetapi dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika dinding penahan itu jebol, maka milyaran kubik air akan meluncur ke lembah dan bencana pasti tidak akan terelakkan.

Upaya terus menanam pohon dimaksudkan untuk mengurangi bencana semacam ini. Itulah Bhutan, satu-satunya negara di dunia yang 70 persen wilayahnya hutan tetapi masih terus saja menanam lahan yang masih kosong dengan pohon. 

Berikutnya Bangladesh. Negara ini penduduknya tergolong padat dan miskin. Banyak penduduk yang bermukim di tepi pantai dan sungai mengungsi ke kota-kota karena semakin tingginya air pasang dan semakin seringnya terjadi banjir akibat taifun.

Air pasang dan banjir tidak diragukan lagi disebabkan oleh semakin naiknya suhu bumi. Penderitaan yang dialami oleh banyak warga Bangladesh yang bermukim di kawasan pantai dan tepian sungai semakin tahun semakin memburuk. Banyak petani kehilangan lahan pertaniannya, yang juga bermakna kehilangan sumber pangan mereka. Karena air laut jelas tidak ramah bagi tanaman padi.

Kondisi ini semakin diperparah oleh memburuknya perekonomian sehingga dana yang dikucurkan untuk menanggulangi masalah ini sangatlah terbatas. Untungnya di tengah  keterbatasan ini sekelompok orang dengan gigih berusaha menanam jutaan pohon. Mereka tanpa kenal lelah terus menyemai jutaan bibit pohon mangrove untuk ditanam di sepanjang pantai dan sungai yang tergerus oleh pasang dan banjir yang semakin tinggi.

Usaha luar biasa ini mungkin tidak akan mengubah Bangladesh menjadi negara yang makmur tetapi paling tidak usaha yang sudah dilakukan puluhan tahun mulai terlihat hasilnya. Pantai berlumpur berubah menjadi hijau dan mampu mengurangi abrasi.

Bencana dan petaka mungkin akan terus datang susul-menyusul tetapi paling tidak waktu telah dibeli bukan untuk menghilangkan sama sekali bencana dan petaka tetapi untuk menghambatnya, sehingga cerita semakin banyak orang yang putus asa dan ingin bunuh diri karena lahan pertanian yang cuma sepetak berubah menjadi kawasan berlumpur yang tidak lagi bisa ditanami, tidak akan semakin banyak jumlahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan