Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Essi Nomor 235: Menjaga Martabat dan Harga Diri TKI

6 Mei 2021   13:40 Diperbarui: 6 Mei 2021   13:40 46 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Essi Nomor 235: Menjaga Martabat dan Harga Diri TKI
http://www.majalah-holiday.com/2019/12/dari-lukisan-kertas-anak-muda-ini-raup_8.html

Essi 235 -- Menjaga Martabat dan Harga Diri TKI
Tri Budhi Sastrio
 
Martabat itu ya harga diri dan harga diri ya martabat, keduanya sama.
Sama-sama abstrak, kabur batasannya, setiap individu bisa berbeda.
Ketika harga diri didefinisikan tingkat harkat kemanusiaan, bukannya
Semakin jelas, tetapi malah sama kaburnya, apa itu harkat manusia?
Derajat kemuliaan, taraf , nilai, mutu, atau harga? Harga apa, siapa?
Begitulah, batasan tidak jelas, maknanya pun berubah-ubah jadinya.
Tapi kalau batasan kabur lalu apa artinya martabat harga diri tak ada?
Ternyata sama sekali tidak seperti itu, yang terjadi justru sebaliknya.
Definisi boleh abstrak, batasan boleh tidak jelas, tetapi setiap dihina,
Setiap diremehkan, setiap direndahkan, setiap tidak adil dapat dirasa,
Setiap kali pula martabat dan harga diri mengemuka serta ... terluka.
Aha ... bagaimana semuanya ... sudah jelas sekarang gambarannya?
Martabat dan harga diri biasanya tenang-tenang saja, tapi manakala
Ada yang berani merendahkan dan menghina, memberontaklah dia.
Lalu bagaimana pada tingkatan yang lebih luas, negara umpamanya?
Apakah negara berkewajiban menjaga dan telah menjaga ini semua?
Konstitusi dan undang-undang salah satu tugasnya adalah menjaga,
Menjaga harkat, martabat, dan harga diri manusia, dan tugas negara
Menegakkan konstitusi dan undang-undang pelindung semua warga
Agar tidak mudah direndahkan, dilecehkan, dan bahkan juga dihina,
Oleh yang lebih ... ya lebih kuat, lebih hebat, lebih kaya, lebih kuasa,
Karena rasanya yang 'lebih' saja dapat merendahkan dan menghina,
Termasuk yang lebih berani, lebih bandel, lebih nekad dan lebih gila.

Pernah melihat dan apa bisa orang miskin, orang lemah tak berdaya
Menjatuhkan, menghancurkan, merendahkan harga diri orang kaya?
Tidak perlu penelitian, contohnya banyak, ada dan jelas sangat bisa.
Memang biasanya yang 'lebih' punya peluang dan potensi menghina,
Tapi bukan berarti dari arah sebaliknya tak akan terjadi, semua bisa.
Itulah sebabnya mengapa undang-undang berlaku untuk semuanya.
Bukan hanya untuk yang 'lebih' tetapi juga bagi yang 'kurang' daya.
Karena apa yang namanya tindakan merendahkan serta menghina
Dapat dilakukan siapa saja serta dampaknya bisa sangat luar biasa
Jika disertai dengan rekayasa, ya rekayasa yang jahat motivasinya,
Biasanya disertai juga dengan sejumlah perilaku bohong dan dusta.

Kasus tenaga kerja Indonesia -- tki -- sebenarnya tidak jauh berbeda.
Ada yang merendahkan menghina ... ada yang terendahkan terhina.
Tetapi juga bisa, yang dilakukan biasa-biasa saja, eh, yang merasa
Direndahkan serta terhina muncul begitu saja ... terjadi yang mana?
Bisa saja dua-duanya, tergantung kasusnya, dari mana melihatnya,
Dan yang lebih penting, mengapa, siapa dan bagaimana menilainya.
Yang jelas biasanya selalu ada 'teman' yang disediakan oleh negara
Agar setiap individu dapat menjaga martabat dan kehormatan dirinya,
Agar harkat dan harga diri dapatlah dijaga sebagaimana seharusnya.
Teman ini aturan dan norma, sahabat ini undang-undang sebutannya.
Dalam kasus tki di luar negeri tentu yang dimaksud dengan 'negara'
Adalah dua-duanya, tempat sang tki bekerja dan juga negara asalnya,
Walau haruslah diakui bahwa yang lebih dapat diandalkan tentu saja
Negara tempat tki berada, negara tempat tki bekerja, karena di sana
Lebih banyak terjadi penghinaan dan pelecehan, walau asal negara
Tak jarang bisa lebih banyak melakukannya, lewat petugas jahatnya,
Petugas korupnya, yang dengan sadar tega mengerjai tki balik kerja,
Karena dianggap tentu telah sukces, berhasil dan banyak uangnya,
Hingga sah-sah saja jika 'dikompas' sedikit uangnya, walau negara
Jelas-jelas melarangnya, yah, mulut singa mulut buaya, sama saja.

Adalah hak dan kewajiban setiap tki jaga martabat dan harga dirinya,
Bersama-sama dengan aturan dan undang-undang tempat ia bekerja.
Bukan setiap ada masalah lalu orang lain yang jadi kambing hitamnya.
Staf KBRI-lah, dubes-lah, menlu-lah, bahkan istana negara ikut serta.
Kalau mereka tahu dan diam saja, memang pantas dijitak kepalanya,
Tapi menjaga agar pelecehan dan penghinaan tak terjadi begitu saja
Adalah hak dan kewajiban tki bersama-sama dengan aturan negara  
Tempat dia bekerja, karena memang itulah tameng utama guna jaga
Harkat, martabat, kehormatan, harga diri, ketika ada di mancanegara.
Rasanya tidak ada peraturan atau uu sebuah negara dirancang guna
Merendahkan manusia dan karena peraturan dan uu mengikat semua,
Ya warganya, ya tenaga kerjanya, jadi pastilah sejalan dengan logika
Jika uu negara merupakan teman setia jaga martabat agar tak dihina.

Persoalannya ... inilah biang masalahnya ... tak semua yang bekerja
Di manca negara paham ini, jadi bagaimana mau menggunakannya
Jika mereka tahu saja tidak itu peraturan dan undang-undang negara?
Nah ... disinilah brengseknya para pejabat tenaga kerja di ini negara,
Bukannya mati-matian menguak dan mempelajari aturan tenaga kerja
Di semua negara, menginformasikan secara sederhana pada semua
Tenaga kerja yang akan berangkat ke mancanegara, eh ... ternyata
Malah sibuk ciptakan aturan baru untuk menjerat leher tenaga kerja,
Agar mudah diperas dirompak, tak berkutik ketika mereka balik kerja.
Merekalah yang sebenarnya terus asyik melecehkan dan menghina  
Martabat harga diri sesama anak bangsa, dan guna tutupi ini semua
Kadangkala dengan gagah perwira bertindak bak pahlawan perkasa,
Pada hal sebenarnya hanya politis serta citra, protes sini protes sana,
Ciptakan aturan ini aturan itu, sementara yang utama yah tak dikerja.

Simak saja kasus di Malaysia umpamanya, pasti banyak jumlahnya
Tenaga Kerja Indonesia yang paham benar hak serta kewajibannya.
Masalah tidak ada, bekerja tenang suasananya, masalah baru ada --
Ini jika memang ada -- justru dengan pihak Indonesia, inilah lucunya.
Tapi juga bukan rahasia, yang tak paham apa-apa, besar tuh angka.
Main datang begitu saja, sogok sini sogok sana, sembunyi di sana
Mengumpet di sini, lalu bagaimana masalah tidak jatuh menimpa?
Kemudian hebatnya ... begitu beritanya meledak dahsyat di media,
Mulailah 'pahlawan' yang sebenarnya tidak pernah lakukan apa-apa,
Tuding sini hamtam sana, semua salah dan tak becus cara kerjanya.
Lho kok baru sekarang bung, sejak dulu kan memang itulah adanya,
Seharusnya teriakan dan protesnya kan dilakukan sejak dahulu kala,
Ketika pejabat korup negara diam-diam dan berpura-pura tuup mata
Tak melakukan tugas dan tanggung jawab sebagaimana mestinya?

Orang memang bebas untuk bepergian dan bekerja ke luar negara
Sepanjang tidak ada masalah dengan hukum, yah ... silahkan saja.
Tetapi kalau peraturan dan uu negara nekad dilanggar begitu saja,
Padahal inilah teman dan sehabat sejati melindungi raga dan jiwa,
Lalu bagaimana rasa tenang, damai dan sejahtera dapat bersama?
Cuma dideportasi atau masuk penjara dan tidak kehilangan nyawa
Boleh dikata untungnya dah selangit sedunia, yang taat hukum saja
Sama sekali tak ada jaminan akan tetap terus tenang-tenang saja.
Masalah itu ada di mana-mana, dapat datang begitu saja, tiba-tiba.
Belum lagi jika berbicara masalah mati hidup manusia, ya rahasia.

Dihina dilecehkan di negeri orang rasanya memang itu resikonya,
Entah karena ras, agama, warna kulit, peluang kesempatan kerja,
Pokoknya banyak alasan bahkan di negara maju sekali pun juga,
Penghinaan pelecehan juga bisa diterima tanpa alasan apa-apa.
Inilah hebatnya manusia ... melecehkan menghina, bakat rupanya.
Ada contohnya, ketika saya berada di Warsawa, ibu kota Polandia.
Siang waktunya, dingin udaranya, saya bersantai di taman bunga,
Menunggu teman dari kedutaan datang menjemput untuk tamasya.
Entah dari mana, datang pria setengah baya, melintas depan saya,
Dan ... meludah begitu saja sambil menggumam kata entah apa.
Saya yang terheran dan tak percaya ya diam saja, anggapan saya
Yah ... kebetulah saja, walaupun sebelumnya ada teman berkata
Jangan heran kalau di negara Eropa yang namanya rasis itu ada.
Saya tentu saja tidak percaya, di Indonesia saja jarang ada terasa,
Apalagi di negara yang peradabannya jelas sudah pasti luar biasa.
Perkataan teman baru terang makna, ketika pria yang persis sama
Kembali balik berjalan di depan saya, dan ... meludah lagi kerjanya.
Kali ini saya tatap tajam matanya di tengah bisikan tak jelas makna.
Akhirnya 'orang gila' ini berlalu juga dari depan saya, entah ke mana.
Sampai agak lama saya memikirkannya, dan tetap saja tak percaya,
Bagaimana bisa tanpa alasan apa-apa melecehkan dan menghina?
Apakah ia mabuk, atau gila, atau kurang kerja, atau ... bagaimana?
Tidak saling kenal tetapi sempat-sempatnya menghina ... di Eropa?
Wah ... benar-benar sulit diterima akal sehat dan logika, bisik saya.

Jadi kalau memang di Malaysia juga banyak terjadi hal yang sama,
Lalu apa sih hebatnya, karena bukankah di negara maju di Eropa,
Hal yang hampir persis sama dan serupa dapat terjadi begitu saja?
Padahal tanpa disadari setiap ada satu manusia menghina sesama
Dia sebenarnya sedang menghina dirinya semata, khususnya jika
Semuanya dilakukan dengan sadar berbingkai pemahaman prima.
Ujung tajam panah guna menghina setelah tembus dada penerima
Selalu kembali ke pemiliknya lalu diam di sana tak ke mana-mana.
Lalu masihkah ada keinginan melecehkan dan menghina sesama?

Tetapi tetap ada juga perbuatan yang bisa meledakkan isi dada.
Bayangkan satu sisi stadion penuh pendukung timnas sepak bola
Yang memang menjadi lawan dalam laga mati hidup timnas kita.
Tiba-tiba menyanyi bersama, lantang bergemuruh guncang udara,
Orang Indonesia itu Anjing Semua - begitu berulang membahana,
Yah ... ini sudah keterlaluan namanya, kalau jaman Gadjah Mada,
Sudah pasti perang balasannya ... bangsa negara pantang dihina.
Untung saja ini bukan jaman Majapahit berkuasa, perang tak ada.
Lalu apakah akan diam saja, atau tidak bisakah semua tki di sana  
Berteriak balas bersama-sama Kalianlah yang Anjing Asu Semua?
Yah ... tetapi mana bisa, komentar seorang warga di dunia maya,
Mereka kan majikan semua ... sementara kita pelayan babu saja.
Tak pas rasanya walau ada benarnya juga, memaki tapi geli juga.
Inilah rona-rona sikap massa yang mungkin saja tidak ada uu-nya.
 
Essi nomor 235 -- POZ03122012 -- 087853451949

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
6 Mei 2021