Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Essi Nomor 184: Dipuja daripada Tidak Ada

13 April 2021   07:04 Diperbarui: 13 April 2021   07:13 66 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Essi Nomor 184: Dipuja daripada Tidak Ada
Sumber: https://fineartamerica.com/

Essi 184 -- Dipuja daripada Tidak Ada ...
Tri Budhi Sastrio

Ketika nona jelita ini menjuarai lomba renang di
     Olimpiade 2008 Cina,
Beritanya di tanah air biasa-biasa bahkan liputannya
     ya sambil lalu saja.
Padahal dapatkan medali emas di sarang para
     perenang negeri naga,
Jelas bukan hal biasa, ini luar biasa, ia bersama
     dengan tiga temannya,
Melalap empat ratus meter gaya bebas beregu
     wanita, emas medalinya.
Julukan yang amat bergengsi pun diberikan banyak
     orang di negaranya
Wanita Terbang Tanah Jawa ... Hah? Mana ada juara
     dari tanah Jawa?
Ya ... ya ... ya  ... tentu ada juara dari tanah Jawa,
     dan ini realita nyata.
Tetapi untuk yang ini ... maaf ... memang sayalah
     yang mengubahnya
Karena terbawa rasa jengkel dan duka berlama-lama,
     coba simak saja,
Di tanah tempat para pendekar yang pilih tanding
     dan sakti mandraguna
Ditakuti dan disegani bahkan oleh koleganya
     dari negeri Campa dan Cina,
Eh ... di pesta olahraga warisan para dewa dari
     tanah kuno Yunani sana,
Jangankan emas, perak dan perunggu pun cuma satu,
     ya cuma dwi eka,
Tak lebih tak kurang ... benar-benar aib hina
     akan tercoreng lama-lama.
Nona jelita ini bukan Wanita Terbang dari
     Tanah Jawa tetapi Belanda,
Ya ... Belanda, tempat kincir angin dan keju
     terus asyik menari berdansa.
Wanita terbang nan perkasa ini memang dari sana,
     dan negeri sana pula
Yang lebih berhak menepuk dada tanda ikut
     berbangga pada prestasinya.
Sekarang, kembali engkau berjaya wahai nona
     terbang nan rupawan jelita  
Emas pertama engkau raih sambil tak lupa
     tunjukkan pada seluruh dunia
Bahwa di kolam tirta gugus seratus meter
     gaya bebas perorangan wanita
Engkau juaranya, engkaulah yang paling cepat
     dibandingkan atlit lainnya.
Tidak pelak lagi seluruh remaja negeri Belanda
     menjadikan engkau idola
Ya ... nona Kromowidjojo ... engkaulah sang
     bintang idola dari kolam tirta.

Ranomi Kromowidjojo, kakekmu memang kuli
     kontrak dari tanah Jawa,
Ikut pemerintah Hindia Belanda, bekerja di Suriname,
     kelak putranya
Menikah dengan nona jelita dari negeri sejuta bunga,
     menetap di sana,
Dan lahirlah seorang calon juara, wanita terbang
     perkasa di kolam tirta.
Memang ada darah tanah Jawa di urat nadimu
     wahai wanita nan jelita,
Tetapi rasanya terlalu mengada-ada kalau tiba-tiba
     media di Indonesia
Memberitakan prestasi luar biasa si nona jelita
     yang dari Belanda sana,
Dengan nuansa yang sangat jelas nada dan iramanya,
     bahwa Belanda
Tidak mungkin mempunyai juara kelas seratus meter
     gaya bebas wanita,
Jika tidak ada orang dari tanah Jawa sukses
     membuahi bunda nan jelita.

Fakta sih memang fakta, tetapi seandainya banyak
     emas didulang kita,
Dari kolam renang khususnya, mana mungkin berita
     juara dari Belanda,
Dikibarkan tinggi-tinggi layaknya sang saka bendera
     pusaka nan jaya.
Mungkin ada beritanya, tetapi kecil saja karena
     medali emas kita punya.
Penonjolan bahwa si peraih emas berdarah jawa
     mungkin juga tidak ada.
Untuk apa, toh tidak kekurangan juara,
     banyak peraih medali emasnya.
Sekarang ... ya sekarang ... ketika hanya dua
     medali saja prestasinya,
Prestasi emas milik negara mana saja rasanya
     akan diklaim sekuatnya
Jika perlu menggunakan silsilah bahwa pada
     dasarnya manusia sama,
Moyangnya Adam dan Hawa, nah mereka yang
     menang kita yang juara
 
Essi nomor 184 -- SDA05082012 -- 087853451949

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
13 April 2021