Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Administrasi - Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen Kontemporer: Lewat Surat

7 Maret 2021   06:42 Diperbarui: 8 Maret 2021   06:21 426
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi via www.stocksy.com

Di kantor, Hendra bekerja dengan gelisah. Perhitungan sederhana yang harus diselesaikan, berkali-kali terpaksa diiulang karena salah. Ranti yang memperhatikan tingkah Hendra sempat dibuat heran. Tidak ada senyum, tidak ada kegembiraan. Yang terlihat cuma kelelahan dan kekusutan!

Pulang dari kantor Hendra langsung tertidur. Fisik dan mentalnya lelah luar biasa. Bahkan laki-laki muda itu tidak sempat mengunci pintu kamarnya. Makan malam pun terpaksa diabaikan.

Bangun keesokan harinya, laki-laki muda itu sedikit segar. Tetapi ingatan akan waktu ancaman, pikiran Hendra kembali kusut. Seandainya sekarang ini dia memutuskan untuk mengalah, dan mengakui salah, kemana dia harus mengatakan ini semua? Ke Cirebon? Ke Bandung?

Keparat sialan, gerutu Hendra sambil melangkah ke kamar mandi.

Ketika di kantor, dia memang bisa bekerja lebih tenang. Bahkan sempat saling melempar senyum dengan Ranti tetapi ketika kembali ke rumah, bayangan akan menerima surat kaleng, membuat Hendra kembali gelisah.

Yang dibayangkan Hendra ternyata benar. Sepucuk surat sudah menunggu di lantai begitu dia membuka pintu. Hendra menarik nafas gelisah.

Cap pos surat itu sekarang dari Bandung. Isinya ternyata singkat saja dan tanpa nama pengirim.

"Selamat tinggal, tuan Hendra! Pelaksanaan hukuman mati akan kami laksanakan malam nanti! Sebaiknya anda tidak pergi ke mana-mana. Bukan hal yang menyenangkan kalau koran besok memuat foto tubuh anda tergeletak di selokan. Sekali lagi, selamat tinggal, Tuan Hendra!"

Hendra menggigil. Gabungan antara rasa takut, ketidak-berdayaan dan rasa marah.

"Aku akan laporkan ini semua pada polisi!" desis Hendra tajam tetapi dilain kejab, pikiran lain mucul di benaknya. Bagaimana kalau ini semua cuma lelucon? Bukankah dirinya akan menjadi bahan tertawaan? Hendra meremas-remas surat itu dan melemparkannya keras-keras ke dinding depan.

Apa yang harus dilakukan sekarang? Menunggu? Sementara kematian akan datang nanti malam? Tidak! Dia harus melakukan sesuatu. Tidak peduli surat ini cuma omong kosong atau tidak tetapi dia harus melakukan sesuatu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun