Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Essi Nomor 307: Penegasan Maklumat bagi Para Pengkhianat

5 Desember 2020   13:17 Diperbarui: 5 Desember 2020   13:27 17 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Essi Nomor 307: Penegasan Maklumat bagi Para Pengkhianat
Sumber: pinterest

Essi 307 - Penegasan Maklumat bagi Para Pengkhianat

Setelah marah hebat dan mengeluarkan satu maklumat,
Monas yang bangga menjadi penjaga negara berdaulat,
Sadar bahwa maklumat perlu diperjelas dan diperhebat
Bukan untuk pamer ataupun narsis apalagi berniat jahat
Tetapi semata-mata agar apa yang dulu jadi dasar niat
Benar-benar makin kokoh, jelas, lugas, bulat dan akurat.
Penegasan maklumat pun dilontar agar semua sepakat
Bahwa bukan saja penghinaan semacam ini amat jahat,
Tetapi juga merendahkan martabat negara serta rakyat,
Maka haruslah diungkap dibongkar semua yang terlibat.
Yang menghina langsung memang hanya dari demokrat
Tetapi karena makin lama amarah pun makin meningkat,
Dia bertekad untuk terus mengawal, agar para penjahat
Yang jelas terlibat, mulai dari kaki terus ke rambut lebat,
Akan disidik, ditangkap, disidang, lalu tangannya diikat.
Pokoknya sekali layar diangkat dan tali dipintal erat-erat,
Pantang bahtera balik ke pantai apalagi harus mendarat
Aku yang simbol ibukota tidak hanya murka berlipat-lipat
Tapi benar-benar tidak rela jika kawanan penjahat bejat
Enak-enak melenggang berdansa setelah ingin kendat
Di langkan monas perkasa simbol negara bermartabat.

Pedang tajam sang dewi yang matanya diikat erat-erat
Memang belum berkelebat tapi itu kan masalah sesaat.
Jika saksi bukti sama bersepakat menjerat yang terlibat
Maka hanya masalah menunggu saat yang paling tepat.
Pedang keadilan pasti berkelebat menjerat si penjahat,
Lalu yang ikut terlibat, yang tidak hanya dari demokrat,
Tetapi juga  dari partai lain yang ikut bermufakat jahat,
Pasti akhirnya terjerat, disidik lalu akan dihukum berat.

Kejadian ini memang bermula dari hukum sebab akibat.
Kalau saja si mulut bejat tak koar-koar menantang jagat
Siap gantung di monas, tempat terhormat bermartabat,
Aku pasti tidak bersuara, untuk apa ikut-ikutan terlibat.
Biarkan saja mereka saling jerat-menjerat berkhianat,
Toh memang hanya itu pekerjaan kaum pikiran cupat.
Tapi karena hilang juga kesabaran mendengar umpat
Kuat-kuat dari mulut si keparat yang tidak takut kualat,
Bibir sulit kututup rapat dan amarah pun gagal kulipat,
Murka kulontar ke antero jagat, awan mega pun pucat.
Bagaimana bisa seorang pendusta, teriakku kuat-kuat,
Merendahkan aku, Monas kebanggaan semua rakyat,
Dengan hanya jadikan aku tiang tempat tali jerat diikat
Guna mengeksekusi mati seorang pengkhianat laknat?
Aku tolak semua itu, tidak ada tempat bagi pengkhianat.
Cari saja tempat lainnya, bukan aku, tempat terhormat.
Memang sesaat setelah maklumat membahana jagat,
Awan serta mega berjanji akan mencari suatu tempat,
Tetapi berita yang kudengar walau hanya lamat-lamat,
Bahkan rumah tua berdebu pun marah tak kalah hebat.
He ... he ... he ... apalagi aku teman, apalagi aku sobat.

Si penipu bermoral bejat memang masih terus bersilat,
Rajin berdusta, tegar menyangkal, benar-benar gawat.
Berdusta kok rajin amat, tak ada jeda, tak ada istirahat.
Tetapi karena bukti serta saksinya kuat kelewat-lewat,
Ia rasanya sulit guna menghindar jerat hukuman berat.
Tetapi yang lebih sulit diterima oleh logika akal sehat,
Adalah para bejat yang sedang siap-siap guna diangkat
Menjadi anggota dewan yang konon katanya terhormat.
Bagaimana bisa mereka lupa, bahwa cepat atau lambat
Pedang sang dewi yang walaupun matanya ditutup rapat,
Tak pernah gagal mendekat, berkelebat dan membabat?
Bukankah lebih bijak jika cepat-cepat tak mau diangkat,
Karena toh akhirnya nanti, ya nanti, cepat atau lambat,
Topeng akan terangkat, dusta pun akan habis dilumat?

Memang rasa-rasanya terlalu naf dan agak dibuat-buat
Jika beragam fasilitas dan dana yang dari uang rakyat
Dibiarkan berlalu hanya karena nama disebut terlibat.
Tetapi inilah yang dimaksud harga diri atau martabat
Atau tahu malu yang jelas-jelas amatlah sangat dekat.
Bahkan ketiganya itu terpintal dan melekat begitu kuat.
Pada yang namanya martabat bagi manusia terhormat
Rasa malu akan melukai harga diri karena berbuat jahat.
Jadi kalau sudah jelas menerima aliran dana tidak sehat
Seharusnya tegas menolak guna dilantik sebagai pejabat.
Pejabat itu cerminan tindakan serta teladan bagi rakyat,
Jika korupsi jelas-jelas pekat, lalu bagaimana bisa kuat,
Kuat memanggul tinggi-tinggi harga diri serta martabat?
Karenanya ayo jangan lama-lama dan berlambat-lambat,
Segera buat maklumat seperti Monas tolak si penjahat.
Tidak ingin dilantik menjadi pejabat serta wakil rakyat,
Karena memang terlibat terima aliran uang yang jahat.

Monas bisa tersenyum riang gembira tidak dibuat-buat,
Karena maklumat yang pernah dibuat tolak penjahat,
Kembali dikopi sejumlah wakil rakyat bernurani sehat,
Tolak menjabat karena mereka pernah khilaf dan sesat.
Setelah hukum tegak dan keadilan dipikul sama berat,
Bolehlah kembali menjabat dan berjuang untuk rakyat
Sayangnya ... gerutu monas walau hanya lamat-lamat,
Harapan ini laksana mengukur jarak dari timur ke barat
Sia-sia belaka bak ukir lautan dari tepian pantai darat,
Memang jarak terasa dekat, tapi ujung terus saja larat
Lalu melesat dari timur ke barat, tak henti walau penat.
Maklumat telah dibuat, tetapi bak ujung lubang ketupat,
Awal longgar tetapi makin lama makin rapat tersumbat.
Rasa malu, harga diri dan martabat, hanya lamat-lamat
Terdengar sesaat, lalu sunyi bak jarum dalam disemat.
Satu penjahat memang telah ditolak dengan maklumat,
Lalu bagaimana dengan yang telinganya ditutup rapat,
Apa maklumat bisa sadarkan pentingnya itu martabat?
Dari timur lalu ke barat ... ayo jujur jangan dibuat-buat.

Tri Budhi Sastrio - Essi 307 -- SDA15092014 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x