Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio profesional

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Kasidi nomor 144 - Dia Tetap Setia Walau Dikhianati

11 Juni 2018   12:37 Diperbarui: 11 Juni 2018   13:00 564 0 0
Kasidi nomor 144 - Dia Tetap Setia Walau Dikhianati
Sumber: https://www.pinterest.com

Setiap doa tulus yang dipanjatkan pada Tuhan untuk orang lain, pada dasarnya bermakna doa untuk diri sendiri. Itulah sebabnya Kasidi dengan mantap berani mengatakan jangan pernah ragu mendoakan orang lain, juga jangan pernah ragu mencintai seseorang meskipun tak ada balasan atau rasa terima kasih. Cinta yang saling berbalas mungkin idaman setiap orang, tetapi cinta yang tidak berbalas pun dapat menjadi luar biasa jika landasannya adalah sikap murah hati dan rendah hati. Bukankah begitu dicontohkan oleh banyak orang termasuk oleh Tuhan sendiri?

Cinta tulus dan sejati tidak pernah surut hanya karena tidak berbalas. Cinta sejati justru terus berkobar dalam hening dan sepi, dalam penolakan dan pengabaian. Itulah yang ditunjukkan dan diteladankan oleh Tuhan sejak awal sampai saat ini dan juga nanti.

Tuhan juga sukses besar memberikan contoh dan teladan bagaimana cintaNya pada manusia yang tersesat dan berdosa ditunjukkan tanpa jeda, dari awal sampai akhir, dari keceriaan sampai ke penderitaan, dari palungan di rumah kosong sampai ke salib di Bukit Tengkorak, dari kematian sampai kebangkitan, dari naik ke sorga sampai nanti kembali lagi.

Contoh dan keteladanan ini kemudian dijadikan amanat dan wasiatNya agar semua orang yang mengaku percaya dan menjadi muridnya tidak hanya menyebarkan dan mewartakan kisah luar biasa dan keteladanan istimewa ini, tetapi juga melaksanakan sendiri dalam hidup sehari-hari. Tidak ada pewartaan yang lebih hebat dan luar biasa selain pewartaan dengan perbuatan dan keteladanan.

Kasidi yang selalu saja terpesona dan terkagum-kagum pada tindak tutur dan tindak laku Orang Yang Satu ini, juga sering tidak habis pikir bagaimana ketaatan dan kesetiaan dapat ditunjukkan secara luar biasa dan tanpa cela seperti ini. Gentar dan sedih memang ada tetapi bergeming seinci pun dari jalur hidup yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh BapaNya, tidak pernah dilakukan, bahkan terpikirkan pun tidak.

Berkaca dari ini dan menjadikan ini sebagai suar di tengah kelamnya gelombang samudera kehidupan, maka memang akan terasa 'lemah dan tidak meyakinkan serta menggelikan', jika hanya karena dikhianati oleh satu, dua atau bahkan tiga wanita sekali pun, lalu dunia serasa runtuh dan hidup menjadi tidak bermakna.

Tuhan itu dikhianati tidak hanya oleh puluhan ribu orang yang didatangi untuk diselamatkan, tetapi juga oleh banyak muridNya yang lari bersembunyi dan melipat ekor meskipun sebelumnya gembar-gembor akan selalu setia, toh seinci pun cintanya pada mereka yang pengecut, penakut, dan pengkhianat ini, tidak berubah. CintaNya benar-benar tidak berubah. CintaNya kekal dan abadi. Cintanya untuk memaafkan dan mengampuni tulus dan abadi.

Inilah warisan keteladanan yang diberikan pada semua orang, termasuk pada Kasidi. Masihkah ada waktu untuk selalu menimbang-nimbang untung dan rugi, layak dan pantas, cocok dan tidak, tatkala mencintai seseorang sedangkan Tuhan tidak pernah melakukan hal itu dalam keteladananNya? Semua orang dikasihiNya, semua orang dimaafkanNya. Kasidi merasa beruntung dan bangga mendapat kesempatan untuk terus-menerus mengingat kembali keteladanan luar biasa ini. Kasidi no. 144 - 087853451949 -- SDA01042018