Mohon tunggu...
dabPigol
dabPigol Mohon Tunggu... Nama Panggilan

Orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Saat Neno Warisman Satu Panggung dengan Ratna Sarumpaet

3 Maret 2019   01:40 Diperbarui: 3 Maret 2019   02:10 0 10 9 Mohon Tunggu...
Saat Neno Warisman Satu Panggung dengan Ratna Sarumpaet
Sumber gambar: redaksi Indonesia

Panggung adalah awal pijak kedua perempuan fenomenal, Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Yang satu dari panggung teater, lainnya dari dunia tarik suara. Ratna bukan sekadar pemain, tapi juga pemikir, penulis dan sutradara handal. Sebagai aktivis berbagai bidang : politik, HAM, sosial kemanusiaan dan seni pertunjukan utamanya.

Sementara itu, Neno Warisman sebagaimana ditulis oleh Andi Setiono M dicitrakan sebagai "publicly enemy" karena perilakunya yang suka membuat gaduh dan kisruh. Keduanya bahkan dianggap layaknya "teroris" sekelas Taliban. Keduanya sama-sama "pembenci Jokowi" dengan menggunakan panggung sama yakni proyek bertagar 2019 ganti presiden. 

Terlepas dari orientasi berpikir penulis di atas, baik Ratna Sarumpaet maupun Neno Warisman adalah perempuan panggung yang diakui atau tidak, telah memberi warna bagi masyarakat Indonesia. Soal terang atau gelapnya warna yang muncul atau dimunculkan juga bergantung suasana dan cara pandang masing-masing orang. Satu hal yang ingin saya tegaskan bahwa dibalik "perilaku aneh" kedua pemain panggung itu sebenarnya telah menghadirkan pelajaran khusus.

Kasus "hoax Ratna Sarumpaet" oleh Kompasianer Hennie Englina  dikupas dari sisi pandang yang lebih dari sekedar sensasi. Di balik "nekadnya" perempuan multi talenta yang sering dikesankan suka cari perhatian dan pasang badan untuk hal-hal yang diyakini kebenarannya, terselip pesan masa depan. Hal serupa ini jarang diangkat ke permukaan. Beliau punya "naluri petarung" yang tak dimiliki banyak orang, termasuk para lelaki yang mengolok-olok dan merebahkan kemampuannya. 

Memberi cap sebagai "public enemy" kepada dua perempuan panggung itu menurut saya juga berlebihan. Pertanyaan bodohnya adalah masyarakat mana atau yang seperti apa yang terjangkiti penyakit yang ditimbulkan oleh mereka? Apalagi memberi cap sebagai "teroris". Tuduhan sumir semacam ini justru dapat berbalik arah. Jangan hanya karena mendukung seseorang kemudian mengabaikan sisi positif yang mungkin saja baru akan muncul  kebenarannya di kemudian hari. 

Atas dua tuduhan atau cap tadi sebenarnya menjadi bukti yang cukup bagi polisi untuk meminta keterangan  tentang maksud dan tujuan orang itu. Saya sangat yakin bahwa BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) tidak akan gegabah melayangkan tuduhan seperti yang ditulis Andi Setiono M pada laman itu. Dan saya pastikan diri bukan pendukung paslon presiden dan wakil presiden manapun. 

Kedua paslon realitanya adalah kandidat pemimpin negeri kita, Indonesia. Siapapun yang kelak ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden adalah kepala pemerintahan dan negara yang dipilih melalui mekanisme Pemilu. Satu hal yang harus ditegaskan bahwa dalam setiap kompetisi selalu ada yang menang atau kalah. Kedua paslon telah bersepakat untuk menjaga sikap fair play. Artinya, percuma saja meraih kemenangan jika dicapai dengan jalan curang dan culas. Di sinilah proses belajar itu akan ketahuan hasilnya. 

Kembali pada "nasib" kedua pemain panggung yang saat ini tengah menjadi sorotan dan bulan-bulanan publik, pilihan panggung Ratna Sarumpaet sangat jelas. Beliau memang suka "melawan" kemapanan atau sejenisnya. Sedangkan Neno Warisman masih mencari jati diri sebagai apa atau siapa dan di panggung mana tepatnya. 

Namun, ketika keduanya dalam satu panggung bertagar perlawanan #2019gantipresiden, ada saja peran antagonis yang dimainkan. Sehingga mengundang reaksi emosional yang acapkali berlebihan. Boleh jadi, mereka berdua memang pendukung setia paslon tertentu. Apakah jika paslon yang didukung kalah, mereka akan meninggalkan panggung dan lari terbirit-birit dari gelanggang kompetisi?

Saya sangat tidak yakin, khususnya buat Ratna Sarumpaet. Sikap pemberontakannya tidak akan luntur meski dibui. Beliau cukup yakin diri menghadapi pilihannya. Apapun risiko yang harus ditanggung.

Sangat mungkin Neno Warisman juga bersikap sama. Kedua insan panggung itu adalah pemain watak yang tak gentar bereksperimen untuk menghidupkan karakter "lakon".  Tunggu sampai akhir pentas mereka. Barulah kita paham "ada apanya" di balik panggung yang kian mendekati puncak cerita.