dabPigol
dabPigol Wiraswasta

Orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kisah Tukang Servis Sepeda Tua di Pasar Koplak

1 Desember 2018   08:09 Diperbarui: 1 Desember 2018   09:12 388 4 1
Kisah Tukang Servis Sepeda Tua di Pasar Koplak
Pak Sarjiyo (76 tahun) sedang memperbaiki kerusakan sepeda saya di lapaknya di Pasar Burung atau ex Koplak Dokar. Dokpri

Rencana beli bambu buat pagar rumah urung terjadi hari ini. Sepeda andalan tiba-tiba ngadat di tengah perjalanan. Sepeda onta, sebutan familier jenis sepeda jadul sekali, memang jadi pilihan utama untuk jarak tempuh maksimal 3 km. Jarak pasar bambu yang ada di dekat jembatan baru alun-alun tidak lebih dari satu kilometer. Jadi masih masuk kategori bersepeda. 

Sejak sepuluh tahun terakhir, volume kendaraan bermotor di sekitar kota Kebumen meningkat sangat pesat. Terutama sepeda motor karena kemudahan mendapatkannya. Semua merek, jenis dan kelas keluaran pabrikan dalam negeri ada. Dealer dan perusahaan leasing tumbuh dan berkembang. PNS, khususnya guru, dengan mudah mendapatkan seri terbaru. 

Sertifikasi adalah pendorong permintaan. Tidak hanya sepeda motor, dealer mobil bermunculan. Di satu sisi mengundang decak kagum, di sisi lain mengundang pertanyaan besar. Bagaimana dampak sosial dari kemudahan dan keberuntungan itu? 

Lain kali saja dipikirkan jawabannya. Sekarang jalan dulu, mumpung masih pagi. Onta kesayangan akhirnya meluncur di jalanan aspal yang cukup mulus. Kalau lancar, paling lama seperempat jam sudah sampai di pasar bambu. Lokasinya dekat alun-alun. 

Di tengah perjalanan, saat pedal saya tekan ke belakang agar mengerem, tiba-tiba terdengar suara seperti ada yang pecah atau patah. Pedal hilang kendali, memaksa saya turun dan memeriksa kondisinya. Kalau rantai lepas, mudah perbaikannya. Jika ada yang pecah atau patah berarti harus diperbaiki di bengkel. 

Jarak terdekat dengan kemungkinan buka di hari pendek , Jum'at ada di Pasar Koplak. Itupun dengan risiko kios favorit para penggemar sepeda tua, Pak Slamet, tutup. Setelah bertanya-tanya dan berkeliling, akhirnya saya menemukan satu kios buka milik Pak Sarijo (76 tahun). Perlu dicoba, pikirku. 

Seperti biasa dalam pasar tradisional, ada interaksi non formal sebelum bertransaksi. Begitu pula ketika itu. Di saat itu, beliau sedang mengerjakan perbaikan satu sepeda jengki yang nampaknya hampir selesai. Sambil membereskan alat-alat kerja, Pak Sarijo bertanya tempat tinggal dan menebak umur saya. 

Membuka cerita dengan pertanyaan seputar masa lalu, semacam pertandingan pengalaman hidup. Di situ baru ketahuan kalau tukang servis sepeda ini kurang pendengarannya. Selain faktor usia, beliau pernah terkena tetanus yang hampir merenggut nyawanya. Saat dilakukan perawatan di RSUD, ia mengalami perubahan drastis. Tubuhnya jadi lebih kuat tapi hilang rasa, termasuk pendengarannya. 

Sepeda ontaku bersanding dengan tumpukan bambu yang masih basah di pasar bambu alternatif di depan Monumen Pena. Dokpri.
Sepeda ontaku bersanding dengan tumpukan bambu yang masih basah di pasar bambu alternatif di depan Monumen Pena. Dokpri.
Pasar Koplak adalah sebutan lain dari pasar burung,  sepeda bekas, bibit aneka tanaman sayur dan menahun  (berumur panjang dan berkayu) serta barang-barang bekas. Disebut koplak karena pernah menjadi terminal atau tempat mangkal dokar  (delman) dan para pedagang kuda beserta kelengkapan alat transportasi tradisional yang kini tinggal kenangan. 

Tempat mangkal itu berada di sisi Utara Pasar Tumenggungan sebagai pasar induk atau kabupaten. Tak jauh dari Pasar Koplak ada terminal colt (sebutan lain angkutan kota dan minibus). Di sekitar tempat itu pula munculnya api pertama kerusuhan massa yang membuat kota Kebumen mencekam selama dua hari (7 dan 8 September 1998).  

Sambil mengerjakan jasanya , Pak Sarijo bercerita dan sesekali bertanya tentang peristiwa masa lalu sekali. Katanya, beliau punya dua saudara kandung yang kontroversial. Si kakak yang anggota TNI dan adiknya ikut kelompok DI/TII pimpinan Karto Suwiryo. Suatu saat turun gunung untuk membeli kebutuhan kelompoknya, sang adik harus melewati pos jaga TNI. Entah ingin menonjolkan sisi mananya, sang adik bersama dua rekan lolos dari pemeriksaan dan melenggang ke tempat tujuan dengan aman. 

Lain cerita, komandan pasukan adiknya adalah bekas santri Romo Pusat di Somalangu, Desa Sumberadi yang berada di pinggiran kota. Dengan nada agak keheranan, tukang servis sepeda itu bertanya: koq bisa ya.. mereka (pesantren tua dan tokoh sehebat itu ) kemasukan orang-orangnya Karto Suwiryo? 

Tentang hal ini, almarhumah Ibu Atiatoen pernah berkisah. Beberapa bulan sebelum Agresi Belanda ke 2 tahun 1949, di sejumlah wilayah muncul basis kelaskaran yang menamakan diri Angkatan Oemat Islam (AOI) yang tumbuh di sekitar pesantren besar.  Secara sosiologis, hal itu sangat wajar sebagai upaya perlawanan rakyat terhadap penjajah asing. 

Terutama kepada Belanda dan khususnya dengan pasukan NICA yang anggotanya sebagian besar dari wilayah Timur Indonesia. Beda cara pandang itulah yang menurut para pemerhati sejarah Indonesia menjadi penyebab "bentrok" dengan kelaskaran yang dikordinasikan oleh Tentara Republik Indonesia (TRI). Satu hal yang pernah diceritakan pula oleh seorang pelaku sejarah 

Begitu pula yang dialami oleh almarhumah ibu kandung kami. Saat itu, ibu akan pulang ke rumah pada libur catur wulan dengan kereta api. Sampai di Stasiun Besar Kutoarjo diumumkan bahwa karena situasi keamanan di sekitar kota Kebumen rawan, maka perjalanan kereta api ke arah Barat hanya sampai di stasiun itu. 

Bersama dua teman sekolah yang akan mengarah tujuan sama, mereka bersepakat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 30 km. Memasuki kecamatan perbatasan di sekitar Desa Pekunden, Kutowinangun, ketiga siswi SMP Yogyakarta itu dihentikan oleh sejumlah anggota TNI. Seperti biasa, untuk urusan semacam ini, ibu yang dimajukan sebagai juru bicara. 

Mendengar cerita ibu yang adik kandung komandan pasukan TNI setempat, seorang yang tadi memeriksa mereka segera melapor kepada atasan yang ada di dalam tank kedua. Ternyata atasan itu Kolonel Achmad Yani. Akhirnya, mereka bertiga diikutsertakan dalam rombongan komandan pasukan TNI yang tengah ditugasi memulihkan keamanan kota Kebumen dari ancaman serangan laskar AOI. Ketiga siswi ini aman sampai tujuan. Dan misi Kolonel Achmad Yani sukses tanpa pertumpahan darah sesama anak negeri. Konon, salah satu anggota tim mediasi adalah ayah kandung Ibu Atiatoen yang pernah menjadi guru ngajinya Romo Pusat. 

Mendekati jam 11 siang, sepeda onta saya telah selesai diperbaiki oleh Pak Sarijo. Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah. Sepeda tua saya kembali sehat dan siap diajak jalan-jalan ke berbagai tujuan dekat atau jauh bersama komunitas onthel yang tengah menjamur di Kebumen. Semoga onta warisan almarhumah ibu tetap terjaga bersama nilai yang melekat padanya.