Mohon tunggu...
Toto Sukisno
Toto Sukisno Mohon Tunggu... Auditor - Berlatih Berbagi Sambil Tertatih, Menulis Agar Membaca, Membaca Untuk Memahami

http://bit.ly/3sM4fRx

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Satu Kalimat Istri yang Membuat Hidup Serasa Kiamat (1)

15 Februari 2020   21:32 Diperbarui: 16 Februari 2020   00:46 6882
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. badry7.blogspot.com

Tulisan ini saya ambil dari kisah seorang kawan pria nun jauh disana yang telah berusia setengah abad lebih yang sampai saat ini masih berkutat dengan masalah pribadinya. Sebagai seorang kawan, tentu saya hanya bisa mendoakan agar sahabat saya ini segera diberikan jalan keluar oleh Sang Maha Kuasa sehingga mampu menyelesaikan problematika hidupnya yang menurut saya amat pelik dan berliku. Mudah-mudahan kita semua dapat mengambil hikmah dari tulisan ini. Aamiin..

Kisah ini berawal dari kondisi teman saya yang saat itu salah satu kebutuhan dasarnya tidak bisa terpenuhi oleh sang istri, sehingga satu kalimat yang terucap pelan nan tajam bagaikan pedang terucap dari seorang istri, "silakan jajan saja mas asal jangan nikah lagi".

Mendengar kalimat yang tentu tak pernah disangka akan terucap dari seorang istri yang telah memberikan keturunan baginya dan sudah belasan tahun hidup bersama, sang suami pun merasa bingung akan sikap dan tindakan apa yang harus dilakukannya untuk masa-masa mendatang pasca satu kalimat bersayap yang telah keluar terdengar di telinganya.

Bahkan sekedar untuk bertanya apa alasan sang istri berucap kalimat diatas, lidah suami serasa kaku dan kelu sehingga tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Bagi seorang suami, kebutuhan dasar yang 'satu' itu tetap tidak bisa dihilangkan dan tetap harus dipenuhi agar siklus kehidupannya tetap berada pada garis rotasi yang semestinya.

Pasca moratorium pemenuhan salah satu kebutuhan dasar suami, kawan saya tadi memulai kehidupan baru diluar kebiasaannya. Mengunjungi tempat-tempat seperti panti pijat yang diduga menjadi narahubung untuk menjual jasa yang diharamkan agama pun dilakukannya untuk sekedar memenuhi hasrat salah satu kebutuhan dasarnya. Siklus hidupnya berubah total pasca mengenal kehidupan yang tidak normal bagi orang yang memiliki agama.

Tindakan ini terus dilakukan secara berulang setiap kebutuhan dasar yang satu itu datang sampai akhirnya dipertemukan dengan seorang wanita bersuami yang sedang dalam proses gugat cerai dengan suaminya.

Singkat cerita dari pertemuan singkat tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan dan kecocokan untuk ditindaklanjuti sampai kejenjang pernikahan, tentu setelah keduanya mengetahui latar belakangnya masing-masing.

Salah satu kendala untuk melanjutkan kesepakatan kejenjang pernikahan yang tercatat oleh negara adalah status pernikahan sang calon suami yang masih terikat pernikahan, sedangkan sang calon istri sudah memenuhi persyaratan untuk menikah kembali pasca urusan administrasi dan lainnya telah tercukupi, oleh karena itu sang calon suami menawarkan untuk menikah secara siri saja.

Tawaran ini disetujui oleh sang calon istri, dan selanjutnya dilangsungkanlah pernikahan secara siri yang menghadirkan wali dari pihak sang calon istri dan dua orang saksi dari keluarganya. Awalnya, menurut dugaan saya pernikahan tersebut akan menyelesaikan permasalahan kebutuhan dasar seorang lelaki, tetapi ternyata alur ceritanya tidak seperti dugaanku.

Pasca pernikahan kedua, sang istri tadi meminta ijin untuk bekerja diluar negeri dengan alasan utama persoalan ekonomi. Menurut sang istri, bekerja di luar negeri hanya sementara untuk mengumpulkan pundi-pundi uang agar dapat berwirausaha.

Yah, kata banyak orang hidup itu tidak cuma butuh cinta tapi juga butuh makan dan kebutuhan lainnya. Sang suami pun seolah mengamini keinginan sang istri sehingga perpisahan sementara itu pun terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun