Mohon tunggu...
Topik Irawan
Topik Irawan Mohon Tunggu... Blogger Vlogger Buzzer Aktifis Buruh

Blogger,Vlogger, Buzzer,Aktifis Buruh

Selanjutnya

Tutup

Atletik

Mandiri Jogja Marathon Lomba Lari Unik dengan Sajian Kue Jajanan Pasar

21 Mei 2019   22:37 Diperbarui: 21 Mei 2019   23:05 0 8 5 Mohon Tunggu...
Mandiri Jogja Marathon Lomba Lari Unik dengan Sajian Kue Jajanan Pasar
Peserta lari Mandiri Jogja Marathon berlari bersama bu menteri Rini(dok:tribunjogja)

Keunikan dan serunya lomba lari bukan melulu tentang hadiah yang di dapat oleh sang juara, untuk tahun ini Mandiri Jogja Marathon memberi hadiah 50 juta rupiah untuk sang jawara marathon dengan jarak tempuh 42 kilo meter, untuk ke tiga kalinya Mandiri Jogja Marathon di adakan di candi Prambanan, sebuah candi legendaris yang di bangun oleh Rakai Pikatan yang menjadi raja Mataram kuno dari Wangsa Sanjaya pada tahun 850. Dan 1169 tahun kemudian keanggunan candi Prambanan menjadi saksi dimana lomba lari bergengsi di tanah air di gelar, bahkan pesert manca negara pun mengikuti kemegahan lomba lari yang berlatar bentang alam Jogja nan eksotis.

Melangkahkan kaki seirama untuk menjadi yang terdepan di garis finish, dan di kanan kiri terdapat pemandangan yang menakjubkan, dengan jalur lomba berupa jalur umum dan jalur jalan desa antara Prambanan dan Sleman yang dinaungi pepohonan hijau. Adapun Race Village Mandiri Jogja Marathon di Taman Wisata Candi Prambanan yang berada 16 kilo meter dari pusat kota Jogja. Seperti galibnya lomba marthon, ada titik hidrasi berupa area hidrasi, spon pendingin dan juga penyemprot air di sepanjang lintasan lomba.

Mandiri Jogja Marathon memang layak di sebut salah satu lomba lari bergengsi di tanah air dan bukan tak mungkin di tahun tahun mendatang gaungnya akan terdengar ke mancanegara dan mereka para pelari top dunia dengan catatan waktu mengesankan mempunyai keinginan untuk berpartisipasi, siapa tahu Eliud Kipchoge tahun depan bisa hadir di lomba Mandiri Jogja Marathon dan mencicipi panorama Jogya yang penuh pesona.

Lomba Lari Tematik Sebagai Ajang Sport Tourism

Dengan jumlah peserta yang terbagi menjadi 3000 peserta mengikuti  kategori 5K, ada 2280 pelari mengikuti perlombaan 10K, half marathon di ikuti 1530 peserta dan 670 peserta mengikuti full marathon, sedangkan 24 pelari internasional mengikuti Mandriri Jogja Marathon. Helatan ini meneguhkan bahwa memang ajang keren ini merupakan Sport Tourism yang memadukan olahraga dengan pariwisata. Setiap kilo meter yang dilewati peserta memiliki keunikan pariwisata daerah Jogja.

Keunikan Mandiri Jogja Marathon di mulai saat peserta mengambil racepack di pendopo Royal Ambarrukmo yang bernuansa joglo, dan di hari perlombaan tiba, semua peserta lari mengawali lomba di Candi Prambanan dan berakhir di tempat yang sama, namun untuk soal trek lari jangan di tanya keindahannya, peserta kudu melewati 13 desa dengan pemandangan sawah, candi dan gunung. Pada kilo meter 13 hingga 15 peserta lari akan di manjakan penampakan keanggunan Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2968 meter, pesona Merapi telah begitu melekat kuat dan para peserta lari Mandiri Jogja Marathon beruntung bisa menikmati indahnya Merapi saat perlombaan.

Kilo meter 26 adalah titik yang patut diperhatikan karena di tempat ini terdapat Monumen Taruna Perjuangan, tempat yang bersejarah yang mengenang keberanian taruna akademi militer yang berjibaku dan bertempur melawan tentara penjajah Belanda, puluhan taruna gugur pada tanggal 24 Februari 1949, Monumen Plataran berada di Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Spirit dan keberanian para taruna selayaknya menjadi pelecut peserta lari untuk menorehkan catatan waktu terbaik di dalam lomba.

Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul menjadi tempat keren di kilometer 37-39, komplek Candi Plaosan Lor memiliki dua candi utama, candi yang di bangun pada abad ke 9 oleh Raja Rakai Pikatan dan dan Sri Kahulunan di zaman kerajaan Medang. Jalur lari yang memilih ke arah bangunan candi merupakan terobosan inspiratif mengingat Jogja kaya akan peninggalan bangunan kuno. Satu kilo meter kemudian para peserta lari dapat melihat pemandangan Candi Sewu dan Candi Bubrah, setelah itu jelang garis finish ketika adu kecepatan untuk merebut podium terhormat, Candi Prambanan menyambut para juara.

Medali Dua Muka Dengan Desain Khas Jogjakarta

Medali dengan simbol penari Rama-Shinta(dok: kompas.com)
Medali dengan simbol penari Rama-Shinta(dok: kompas.com)
Simbol Rama Sinta yang menggambarkan perjalanan api cinta yang tak pernah padam dan juga kesetiaan hakiki, selain melintasi daerah Jogja nan  eksotis, para peserta lari yang mampu menyelesaikan perlombaan baik itu Full Marathon, Half marathon, 10K dan 5K di bawah Cut Off Time berhak mendapatkan medali finisher medal, yang keren adalah penampakan medali penamat itu sendiri. Detail medali halus dan melambangkan dan filosofi lomba.

Medali berbentuk lingkaran dengan ornamen ukiran, di tengahnya ada gambar penari Rama-Shinta dengan gerak luwes seirama, Sri Rama dengan panah di punggung dan dua tangan di pinggang seakan menyambut cintanya yaitu Dewi Shinta kembali, sedangkan Shinta dengan gerakan menyondongkan lutut seraya memegang tangan Sri Rama seakan memberi pesan untuk dilindungi dari angkara murka.

Ada juga bulatan kecil dengan penanggalan 28 April 2019, tanggal di mana Mandiri Jogja Marathon di selenggarakan. Di sisi lain dari medali penamat adalah tampak gambar pelari dengan gambar latar belakang Candi Prambanan dan tulisan Mandiri Jogja Marathon 2019 dan di bawahnya ada lingkaran dan penanda jarak yang di lombakan.

Medali Jogja Mandiri Marathon di desain dengan memperhatikan aspek kearifan lokal yang melekat, bentuk medali yang unik akan menjadi incaran para pelari, sungguh beruntung bila pelari mampu merampungkan lomba dan mencapai garis finish dan di kalungi medali Mandiri Jogja Marathon 2019.

Hidangan Kuliner Berupa Jajanan Pasar Di Lomba Marathon

Kue jajanan pasar enaknya selalu memikat(dok:travelingyuk.com)
Kue jajanan pasar enaknya selalu memikat(dok:travelingyuk.com)
Tiga pelari asal Kenya mendominasi podium dalam kategori full marathon open, mereka adalah Stephen Munghatia, Daniel Gekara dan Muindi Onesmus. Kecepatan lari mereka memang mengagumkan, di balik itu semua ada hal yang mencuri perhatian dalam lomba lari Mandiri Jogja Marathon, yup ada kulineran lho saat race berlangsung, setelah peserta lari di manjakan dengan panorama Jogja yang memang jempolan, ada hidangan khas yang di sajikan.

Berlatar bangunan candi dan ada tenda yang menaungi, meja meja disiapkan dan aneka kuliner dan jajanan pasar khas Jogja tersaji, peserta boleh mengambil penganan, dan tak tertolaklah aneka makanan tradisional, ada Dawet, Cenil, Gethuk Lindri, Putu Ayu, Arem arem, Onde onde, Lupis dan deretan jajanan pasar lainnya yang menggugah selera. Para peserta lari terutama yang mengikuti Full Marathon dapat mencicipi kue kue tradisional yang legendaris itu.

Kuliner tradisional memang patut di kedepankan, selain memang rasanya maknyus dan bahan bahannya pun alami dan dari hasil tanaman lokal, yang lebih penting lagi adalah tanpa pengawet buatan atau pemanis buatan, kuliner Nusantara memang layak mendapat kelas tersendiri, sudah saatnya memang kita membeli kue jajanan pasar. 

Selain memang enaknya endes pol polan. Pihak penyelenggara dalam hal ini Bank Mandiri sangat tepat membuat tagline lomba yang berbunyi" Lebih Dari Sekedar Lomba" karena memadukan dengan apik kemasan lomba lari dengan tempat tempat wisata serta kulineran berupa kue jajanan pasar.

Semoga event lari di tahun depan terus terselenggara, dan bisa memberikan kontribusi postif bagi perkembangan olah raga di tanah air khususnya atletik, selain itu faktor pariwisata pun terus di galakan, nah jangan lupa juga aspek kulinerannya jangan di hilangkan karena untuk soal kulineran terutama kue kue tradisional Indonesia jangan sampai tergilas oleh zaman dan terdesak makanan cepat saji. 

Mandiri Jogja Marathon 2019 memberikan pelajaran penting tentang sebuah event yang sukses dengan melibatkan warga sekitar untuk berpartisipasi di sepanjang jalur perlombaan, pokoknya Jogja memang istimewa.