Mohon tunggu...
Topik Irawan
Topik Irawan Mohon Tunggu... Blogger Vlogger Buzzer Aktifis Buruh

Blogger,Vlogger, Buzzer,Aktifis Buruh

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

Cara Asyik Menunggu Waktu Berbuka Itu Menulis dan Membaca

20 Mei 2019   21:58 Diperbarui: 20 Mei 2019   22:18 0 12 5 Mohon Tunggu...
Cara Asyik Menunggu Waktu Berbuka Itu Menulis dan Membaca
Menyinkronkan waktu membaca dan menulis di bulan suci,saatnya mengikat ilmu dengan menuliskannya kembali(dokpri)

Abu Abdullah Muhammad  bin Idris al-Shafii'i lahir di Gaza Palestina pada tahun 767, murid ulama besar Imam Malik dan juga berguru kepada murid muridnya Imam Hanafi ini kelak menjadi ulama besar, dan kita mengenalnya sebagai Imam Syafi'i. Salah satu pernyataan beliau yang terkenal hingga kini adalah " Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.

Sangat relevan sekali kalimat bijak ulama besar ini, dan dalam konteks kekinian dimana arus informasi begitu meruah namun tetap jua kita memfilternya, kegiatan membaca tidak melulu dengan media kertas namun bisa berganti di sebuah layar ponsel, dan berburu ilmu di era digital memang sebuah keniscayaan, berapa puluh tahun lalu tak akan mengira bahwa sebuah alat komunikasi bisa berubah fungsi menjadi media untuk di simak bacaannya, dari buku fisik menjadi format digital, ilmu pun bertebaran dengan mudahnya mengakses. Tugas lainnya adalah mengikat apa yang pernah kita lihat di layar ponsel atau laptop dan menjadikannya sebuah ikatan berupa tulisan.

Disaat kini ketika ummat muslim melaksanakan ibadah di bulan suci ramadhan, waktu demi waktu tertunai di mulai ketika shubuh menyapa hingga maghrib pun menjelang, acap kali di saat menunggu waktu berbuka ada waktu untuk bisa menggapai kesempatan membaca dan kemudian kegiatan menulis pun menjadi hal yang rutin, sambil menunggu waktu berbuka di tandai bunyi bedug dan gema suara adzan. Saat ini membaca dan juga menulis bisa di lakukan kapan pun dan bisa dimana pun.

Tantangan Menulis Kompasiana Memaksa Kita Tetap Berpikir Dan Menulis

Meski teramat mungkin jauh dari apa yang dikatakan Imam Syafi'i tentang tulisan adalah ikatannya, membaca dan kemudian menuliskannya di Kompasiana adalah hal yang seru ketika jelang berbuka, karena penulis adalah seorang buruh dengan pembagian waktu kerja shift satu dan dua, perlu waktu yang nyaman untuk bisa menghasilkan sebuah tulisan.   Sepanjang bulan ramadhan kali ini ada event Tebar Hikmah Ramadhan dan harus tayang setiap hari dengan topik berbeda.

Serasa di  kejar waktu  untuk menulis namun di situlah seni dan tantangannya, sejauh ini belum ada hari yang terlewati, alhamdulillah dan semoga tetap bisa menulis untuk memenuhi tantangan dari Kompasiana. Bagaimana waktu menulisnya? Sebisa mungkin bisa menuangkan tulisan secepatnya, namun menulis tanpa membaca pun seakan sebuah kemustahilan karena pada dasarnya ketika kita menulis maka bahan bakar untuk dapat menulis adalah dengan melahap bacaan.

Jika shift satu, di mana waktu kerja adalah jam 7 hingga jam 3, waktu waktu seusai kerja antara petang jam 4 sore hingga menjelang buka puasa adalah saatnya membaca dan menulis hingga tak terasa waktu maghrib pun tiba. Bagaimana jika shift dua? Dengan bekerja di shift 2 di mana jam masuk jam dua siang dan pulang kerja jam 10 malam, pagi pagi bisa menulis dan kalau bisa di tuntaskan maka bisa di kelarin lebih awal, namun kalau belum menuntaskan tulisan, waktu jelang buka puasa antara jam setengah enam sore hingga jam tujuh malam yang juga merupakan waktu istirahat, di tuntaskan di jam jam segitu.

Belajar Kepada Sesama Kompasianer, Selalu Kagum Dengan Apa yang Mereka Tulis

Selalu suka dengan para kompasianer, mereka adalah orang orang luar biasa, sepanjang ikutan ngompasiana dan ngeblog bareng bareng di Kompasiana sejak 23 Agustus 2013, memang sih udah rada lama ngekos di sini hihi, penulis datang dan pergi silih berganti, ada juga yang tetap menulis secara produktif. Dari mereka lah sebenarnya saya pun banyak belajar, blog walking dan berkomentar serta memberi nilai merupakan keasyikam tersendiri saat membuka lama Kompasiana, tahu tahu sudah waktu maghrib saja.

Membaca Kompasiana memang menjadi keasyikan tersendiri, dan juga menulis di Kompasiana adalah hal yang luar biasa, meski karya saya jauh dari kata sempurna paling tidak hobi pun menjadi tersalurkan, dengan membaca di Kompasiana dapat mengetahui info info terbaru, dan hingga saat ini pun ketika waktu maghrib terasa lama, Kompasiana menjadi sesuatu yang mengasyikan ketika menunggu waktu berbuka.

Selalu kagum dengan penulis penulis yang mampu menarik pembaca sehingga view pun bejibun dengan raihan pembaca di atas lima ribu, ini sesuatu yang sangat hebat menurut say, karena untuk saat ini ketika jumlah hits terasa seret, mereka mampu mengolah kata kata dan bisa mendulang pembaca secara signifikan.

Tetap Memilih Membaca Dan Menulis Di Saat Waktu Jelang Berbuka

Sesuatu yang di rindukan adalah saat adzan berkumandang, namun harus bersabar ya karena yang sah ketika waktu berbuka adalah adzan Maghrib bukan adzan yang lain, waktu serasa lambat bergerak, salah satu obat terbaik untuk menunggu waktu berbuka adalah dengan membaca, memaknai kata demi kata, mengartikan kalimat demi kalimat adalah hal yang menyenangkan, setelah membaca saatnya menulis.

Meski butuh konsentrasi saat menulis, tetap fokus dan inilah seninya menulis hingga tak terasa waktu pun tiba saatnya untuk berbuka, alhamdulillah apa yang kita tunggu tunggu pun tiba, beduk di tabuh dan adzan pun berkumandang. Seharian menahan untuk tidak makan dan minum pun usai, saatnya berbuka, tutup dulu buku, letakan dulu pnsel dan nikmati pula kesegaran air putih. Saatnya berbuka, sebelum berbuka memang kegiatan membaca adalah sangat menyenangkan, namun kegembiraan saat berbuka begitu terasa.

"Telah hilang rasa haus dan urat urat telah basah serta pahala akan tetap Insha Allah", selamat berbuka dan semoga kompasianer yang melaksanakan ibadah puas diberikan energi positif  sehingga berpuasa pun tetap bugar dan sehat. Seperti yang di tertera di awal tulisan, semoga petuah Imam Syafi'i tentang berburu ilmu dan mengikatnya menjadi tulisan merupakan jalan kebajikan, bukankah tulisan akan lebih abadi di banding sebuah orasi kata kata, tulisan akan tercatat di lembarab kertas dan akan di baca generasi berikutnya, begitu pula bentuk tulisan digital yang kelak menjadi warisan dan bukti bahwa kita pun pernah menukis di satu ketika, semoga keberkahan dapat kita raih di bulan suci ini,aamiin.