Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat dan Praktisi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Raih Perak, Masih Meminta Maaf, Perunggu Saja Susah

17 Agustus 2021   15:31 Diperbarui: 17 Agustus 2021   16:32 223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Supartono JW


Tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-76, 17 Agustus 2021 ternyata setelah saya kalkulasi, baik di media massa maupun media sosial, berbagai pihak justru banyak yang berkomentar dan berbagai konten yang mempertanyakan arti merdeka karena merasa masih dijajah di berbagai bidang oleh anak bangsa sendiri.

Mawas diri, penjilat

Terlebih, bila sebelumnya rakyat bersuara sampai berdemonstrasi menentang pemerintahan sekarang, atas berbagai peraturan dan kebijakan yang tak memihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, kini sasaran berbagai pihak pun sudah sampai menukik langsung kepada pemimpin negeri ini.

Mulai dari pemberian julukan oleh para mahasiswa, ada mural, hingga mengenakan baju adat suatu daerah pun tetap bisa dijadikan bahan untuk kritik. Namun, atas fenomena ini, pihak pendukung pemimpin/pemerintah justru mencari kambing hitam lain seperti seolah ada merendahkan ini dan itu, dan mencoba membela tanpa mau melihat fakta bahwa yang melakukan tindakan demikian itu adalah representasi dari sikap masyarakat dan berbagai pihak yang sudah gerah dengan situasi yang diciptakan oleh pemerintah, khususnya pemimpin itu sendiri.

Harus disadari dan sewajibnya menjadi refleksi dan evaluasi bagi pemerintah dan stakeholder pendukungnya, mengapa kini rakyat kritiknya langsung kepada Presiden. Dan, pihak di lingkaran Presiden pun juga tetap berupaya melakukan pembelaan, yang istilah umumnya kini sangat dihafal rakyat, sebagai pihak penjilat.

Bahkan kini pun, muncul satu sosok yang disepadankan dengan salah satu sosok di Istana, yang begitu luar biasa menjadi pembela, meski masyarakat juga tahu apa latar belakang sosok ini sebelumnya. Ternyata, kini di Istana menjadi ada dua sosok pembela yang dulunya penentang.

Jadi, bila mereka semua mawas diri atas sikap rakyat yang masif menyerang dengan kritik yang sudah mengarah ke personal dan kelompok mereka, maka tentu yang seharusnya ada adalah sifat dan sikap ksatria yang diteladankan oleh para pahlawan perebut kemerdekaan RI yang tanpa pamrih dan tak ada kontrak dengan pihak berkepentingan, tapi rela berkorban nyawa demi Indonesia merdeka.

Kerendahan hati Eko

Atau, mereka juga seharusnya malu terhadap pahlawan Indonesia yang berjuang di kancah dunia tanpa pamrih, di dadanya hanya untuk Indonesia tanpa syarat, dan dalam 3 kali Olimpiade selalu mengharumkan nama Indonesia dengan garansi medalinya.

Dia adalah pahlawan Indonesia dari cabang olahraga angkat besi bernama Eko Yuli Irawan yang membuktikan kapasitasnya sebagai jaminan medali bagi kontingen Indonesia pada Olimpiade Tokyo 2020.

Namun, meski terus menyumbangkan medali, jiwa ksatria dan rendah hatinya terpancar. Di kancah dunia, perolehan medali baik itu perunggu, perak, atau Emas, maka otomatis Bendera Negara peraih medali akan sama-sama dikibarkan. Jadi, jangankan perak, meraih perunggu saja sudah sangat disyukuri.

Tapi apa yang dilakukan oleh Eko selepas dipastikan meraih perak, dan rakyat Indonesia yang menonton siaran langsung perjuangan Eko dari televisi langsung terharu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun