Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Pengamat dan Praktisi

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tradisi Meneruskan Informasi di Medsos, Bak Air Bah

21 April 2021   14:31 Diperbarui: 21 April 2021   14:52 48 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tradisi Meneruskan Informasi di Medsos, Bak Air Bah
Ilustrasi dari grup wa Supartono JW

Apa yang saya lakukan, menunjukkan siapa diri saya. (Supartono JW. 21042021).

Apa yang kita lakukan melalui sikap, perbuatan, pembicaraan, hingga tulisan, adalah ukuran diri kita. Di situlah langsung dapat dinilai seberapa berkembang intelektual, sosial, emosional, analisis, kreatif, imajinati, dan iman (ISEAKI) si pelaku. Dan, ada yang alami, pun ada yang sudah ditumpangi penyutradaraan dan sandiwara kepentingan.

Ingat budaya salin tempel (copy paste) yang melegenda di negeri kita? Ingat tradisi nyontek yang menjadi budaya mulai dari anak Sekolah Dasar (SD) sampai orang dewasa dalam setiap ujian? Ingat budaya salam tempel (nyogok) demi mendapatkan atau memperoleh sesuatu dengan mudah? Kini, ada budaya sejenis yang bahkan setiap detik terjadi di media sosial, semisal whatsApp (wa).

Tradisi dan budaya baru itu adalah meneruskan informasi berupa chat, artikel, berita, gambar, foto, video, dan lainnya di media sosial (medsos). Hal ini nyatanya melengkapi fakta bahwa masyarakat bangsa ini memang hobi jadi pemakai karya cipta atau produk orang lain. Bahkan, saya sudah menulis artikel menyoal masyarakat bangsa kita yang hanya gemar jadi bangsa pemakai karya orang lain. Tak mau berpikir, tak kreatif, tak inovatif, apalagi menginspirasi, tapi malah dengan gaya sok hedon, bangga menggunakan produk luar negeri untuk gaya-gayaan.

Asal meneruskan

Sejak hadirnya medsos, sebab saya menyimpan nomor kontak handphone (hp) atau ponsel dan wa dari keluarga hingga rekan kerja dan grup-grup wa yang cukup banyak, maka hp saya sering kepenuhan data. 

Bila selama ini ada kisah ponsel sering hang karena software atau hardware Android mengalami kesalahan dalam pengoperasiannya, maka ponsel bisa benar-benar bengong alias tidak ada respon sama sekali saat layar atau tombol fisik disentuh, tapi akibat dari budaya meneruskan informasi yang bertubi-tubi, ponsel pun kepenuhan data dan hang pula.

Yang menyedihkan, masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, hingga kini pun belum teredukasi menyoal budaya meneruskan informasi yang bukan hanya bikin masalah pada ponsel, tetapi membikin masalah pada orang yang melakukan budaya meneruskan informasi di medsos.

Harus dipahami bahwa budaya meneruskan informasi di medsos, sangat rentan sekali berakibat orang yang melakukannya terjerat UU ITE. Pasalnya, banyak sekali warganet atau netizen yang hanya sekadar membaca judul informasi dalam berbagai bentuk, tak membaca, tak menonton, tak menyimak, dan tak memahami informasi secara utuh, lalu merasa bahwa informasi itu bagus dan penting sesuai judulnya, langsung saja berjiwa satria, bermaksud berbagi kebaikan dengan langsung meneruskan informasi ke keluarganya, temannya, hingga di grup-grup wa padahal dirinya saja belum memahami sepenuhnya dan tak melalukan kros chek apakah informasi itu benar, fakta, dan valid. Bukan hoaks.

Namun, lebih dari itu, seperti budaya copy paste, nyontek, bangga menjadi pemakai produk dan karya orang lain dan bangsa lain, tradisi meneruskan informasi di media sosial, juga setali tiga uang. Setali tiga uangnya adalah mencerminkan semakin kentalnya karakter pemalas di negeri ini. 

Bagi warganet terdidik, tentu meneruskan informasi di media sosial akan lebih dahulu memahami apa dan bagaiamana isi dan manfaat informasi itu. Baru, kemudian, sekiranya bermanfaat bagi keluarganya, tetangganya, masyarakat, dan bermaslahat bagi umat,  maka akan terlebih dahulu permisi dan santun numpang berbagi. Tidak asal slonong langsung meneruskan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x