Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat dan Praktisi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jadikan Kritik Sahabat Kehidupan, Bukan Musuh!

7 November 2020   00:31 Diperbarui: 7 November 2020   00:43 400
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: SupartonoJW


Orang yang rendah hati, luhur budi, biasanya cerdas intelegensi dan emosi, maka kritik menjadi sahabat dalam kehidupannya bukan menjadi musuhnya. (Supartono JW.07112020)

Demokrasi di Indonesia kini mati? Itulah fenomena yang kini mengemuka di Republik ini. Bahkan, pemimpin Indonesia, Presiden Jokowi dan DPR dianggap oleh mahasiswa di berbagai daerah nusantara telah mati hati nurani karena tak lagi mendengar aspirasi dan teriakan rakyat baik menyoal UU Cipta Kerja, UU KPK, dan UU lainnya yang tak memihak rakyat.

Saking kesalnya, malah ada ulama yang sampai menantang duel fisik kepada salah satu staf ahli di Istana Negara, karena terus mengumbar pernyataan yang menyakiti hati rakyat, diladeni secara cerdas intelektual sudah tak dapat meluluhkan pikiran dan mata hatinya yang sudah terkunci.

Bahkan, kebebasan berpendapat yang merupakan hak setiap individu di NKRI Negara Indonesia, sejak adanya UU ITE, sejumlah aktivis dan pihak yang dianggap menentang pemerintah ditangkap dengan tuduhan pelanggaran UU ITE.

Rasanya, kini pintu demokrasi memang hanya sekadar slogan, karena ketika rakyat beraspirasi melalui sebuah cara bernama kritik, hanya menjadi kata-kata yang numpang lewat. Bila kata-katanya salah atau melanggar ITE, maka jelas akan berurusan dengan yang menangkapi.

Pelajaran untuk rakyat

Mengapa kritik rakyat tak lagi didengar apa lagi dianggap oleh penguasa di negeri yang kini sedang diberikan amanah untuk memimpin karena dipilih oleh rakyat?

Di antara sebabnya, seperti yang sudah diungkap oleh berbagai kalangan, karena kepemimpinan di periode kedua Presiden Jokowi ini, sudah tak ada beban. Tak ada beban, mau rakyat masih mencintai atau membenci karena periode berikut sudah pasti tak menjadi Presiden. 

Jadi, inilah saatnya untuk membikin segala sesuatu berdasarkan "sesuatu" yang bukan aspirasi rakyat, karenanya meski dianggap telah mati hati nurani, tak masalah.

Bila kini rakyat benar-benar telah menjadi saksi dari fenomena demokrasi di Indonesia yang dianggap telah mati, rakyat harus tetap sadar dan mawas diri. Rakyat tetap harus hidup dan melanjutkan kehidupan meski pemerintah dianggap tak lagi berpihak kepada rakyat.

Pelajaran dari ini semua, siapa pun rakyat, di dalam segala tindak tanduk perikehidupannya, jangan sekali-kali anti kritik, anti saran dan masukan. Sebab, tak akan ada kehidupan manusia yang berhasil tanpa diiringi kritik, masukan, dan saran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun