Tonny E. Nubatonis
Tonny E. Nubatonis Proletariat

"Menulis, menulis dan menulis untuk mengabadikan suara hati dan buah pikiran melalui TULISAN". Email : tonnyeliaser@gmail.com_ WA/HP : 082247942122_ Facebook : Tonny E. N

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Jadilah Pemimpin yang Melayani Lebih Sungguh

17 Februari 2019   06:38 Diperbarui: 18 Februari 2019   11:03 103 5 3
Jadilah Pemimpin yang Melayani Lebih Sungguh
pemimpin yang melayani lebih sungguh (ilustrasi pemimpin : izwie.com) :

Hello Gaess and Ladess, tahukah anda, apa motto bank NTT? Yang tahu silahkan angkat kaki, eh angkat tangan maksudnya..hehehe...Pasti orang NTT akan angkat tangan lebih dulu untuk menjawab.

Mungkin ada yang berkata dalam hati "mana tahu? ke NTT saja saya belum pernah sama sekali..", atau ada yang mungkin berkata "saya sih pernah ke NTT tapi tidak pernah masuk ke Bank NTT, bahkan ke ATMnya saja tidak". 

Tapi mungkin ada yang pernah dengar dari orang lain, baca di internet atau sumber lainnya, walaupun tidak pernah ke NTT dan masuk ke ATM atau bank NTT.

motto bank NTT-melayani lebih sungguh (sumber:lintasntt.com)
motto bank NTT-melayani lebih sungguh (sumber:lintasntt.com)
Eittsss..para pria ganteng tolong fokus pada tulisan dalam gambar di atas, jangan fokus di Tellernya...boleh naksir Tellernya tapi jangan lebih dari itu yah..hehehe...

Oke deh, cukup basa basi dan canda tawanya. Sekarang fokus ke yang lebih penting.

"MELAYANI LEBIH SUNGGUH", ya, itulah motto dari Bank NTT. Motto tersebut terdengar sangat menarik dan menggugah hati. Ya, itu bagi saya khususnya, tapi mungkin saja tidak bagi orang lain. Tapi semoga Bank NTT mencetuskan motto tersebut tujuan utamanya bukan untuk memikat hati orang tanpa memberi dampak lebih dibaliknya. Semoga saja tidak.

Setiap motto yang dirancang tentu memiliki maknanya tersendiri yang dijadikan sebagai dasar atau landasan dan komitmen bagi pribadi seseorang, organisasi, kelompok tertentu, lembaga bahkan suatu negara.

Seperti Bank NTT dengan mottonya, dijadikan sebagai dasar, landasan dan komitmennya dalam memberi pelayanan kepada masyarakat.

Motto seorang pemimpin dan calon pemimpin

Bukan hanya bank NTT yang memiliki motto tersebut. Ada beberapa pemimpin bahkan sebagian besar calon pemimpin yang memiliki motto yang sama pula, baik saat dan sering diucapkan secara verbal maupun non verbal tertera dalam foto pada atribut kampanyenya.

Saya pernah bahkan cukup sering membacanya pada foto (spanduk dll) caleg yang ditempel atau dipasang di tempat-tempat tertentu (mungkin karena foto caleg yang sama..saya agak lupa..hehehe).

Tapi intinya bahwa motto "Melayani Lebih Sungguh" atau lainnya yang agak mirip dengan itu, bukan sesuatu yang asing lagi terdengar disampaikan baik secara verbal maupun non verbal tertulis pada atribut kampanye calon pemimpin atau oleh mereka yang telah berdiri sebagai pemimpin.

Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah motto tersebut hanya bagaikan penyedap rasa atau pemanis belaka dalam bentuk retorika untuk memikat hati kita dan orang lain? Entahlah, saya tidak bisa menilai. Biar waktu yang menjawabnya dan Tuhan yang menilainya. Aseekk, aseekkk...

Para calon pemimpin, mungkin atau bahkan pasti akan mengatakan ingin melayani lebih sungguh. Namun, apakah benar mereka akan sungguh-sungguh melakukannya? Atau para pemimpin yang dulu pernah berjanji ingin melayani lebih sungguh dan sekarang tengah memimpin, sudahkah telah sungguh-sungguh melayani dengan lebih sungguh?

Lalu bagaimana kita dapat melihat pemimpin yang telah melayani dengan lebih sungguh?

Pemimpin yang melayani lebih sungguh 

Bagi saya, seorang calon pemimpin dan pemimpin itu sendiri yang ingin melayani lebih sungguh, setidaknya harus atau sudah melakukan dua hal utama, yaitu (silahkan dikoreksi jika ada kekeliruan dan ditambah sendiri jika ada yang kurang),

Pertama, bekerja dan melayani tanpa diskriminasi atau tanpa memilih-milih dan membeda-bedakan tempat, orang dan lain-lain.

Pemimpin yang suka mendiskriminasi bukanlah pemimpin yang baik. Bahkan bagi saya, sang pemimpin tersebut "tidak layak" disebut sebagai seorang pemimpin. Sebab, seorang pemimpin akan berusaha melakukan apapun yang positif, berguna dan bermanfaat demi kesejahteraan, persatuan dan kesatuan.  

Diskriminasi merupakan musuh terbesar persatuan dan kesatuan. Sikap diskriminasi benar-benar hanya akan memecah belah persatuan dan kesatuan itu sendiri. Diskriminasi pula hanya akan membuat orang lain senang, bersuka, tertawa dan gembira ria, sedangkan membiarkan yang lainnya susah, tersakiti bahkan menangis atas penderitaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3