Tomi Ardiansyah
Tomi Ardiansyah Mahasiswa

Mahasiswa Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB yang menjadi founder situs berita Forester Act! foresteract.com

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Kehati, Harga Mati Konservasi

11 Februari 2018   11:01 Diperbarui: 13 Februari 2018   16:03 1032 2 2
Kehati, Harga Mati Konservasi
Flora di hutan via pixabay.com

Kehati atau keanekaragaman hayati merupakan hal yang sangat penting dan investasi besar bagi siapapun yang dapat memanfaatkannya. Keanekaragaman hayati di Indonesia sendiri terbilang sangat tinggi bahkan negara tropis ini dijuluki sebagai Megabiodiversity Country.

Potensi plasma nutfah dan berbagai flora dan fauna di Indonesia merupakan aset berharga bangsa yang seharusnya diteliti dan dimanfaatkan, bukan hanya untuk sekedar dikonservasi. Paradigma inilah yang seharusnya dibangun di berbagai lembaga konservasi di Indonesia, tak terkecuali taman nasional.

Hal yang perlu disayangkan adalah penelitian-penelitian tentang flora dan fauna di Indonesia justru diteliti oleh para peneliti dari luar Indonesia. Sebut saja negara-negara seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan berbagai negara maju lainnya.

Konservasi dan Jalan Buntu

Konservasi saat ini seperti menemui jalan buntu, di mana kita hanya menjaga kekayaan alam tanpa adanya pengelolaan yang benar sehingga justru tidak menyejahterakan masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan. Sudah saatnya pemanfaatan terhadap hutan terutama hutan konservasi dilakukan untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang signifikan, setidaknya untuk masyarakat sekitar hutan.

Wisata alam pun merupakan salah satu alternatif dalam pemanfaatan hutan, terutama hutan konservasi. Sektor ini perlu digenjot dengan sokongan dana dan pengelolaan yang efektif. Grand planning harus segera dibuat, terutama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai motor utama. Penggandengan dengan lembaga pemberantas korupsi seperti KPK pun harus dilakukan untuk kebersihan dalam proyek.

Pemanfaatan hutan konservasi yang optimal bukan suatu hal yang tidak mungkin. Dengan teknologi yang ada pada dekade ini, sudah tentu pembangunan yang tetap berasaskan pelestarian makhluk hidup dapat tercapai. Coba bayangkan apabila Indonesia membuat suatu taman nasional dengan sistem seperti pada film Jurrasic Park? Bukannya sangat menarik dan pasti menghasilkan pundi-pundi ekonomi?

Tentunya hal ini tidak akan mudah diimplementasikan, namun bukan berarti tidak bisa. Kita harus berinovasi dari pengelolaan hutan masa jahiliyah menuju pengelolaan hutan yang berbasis ekotekno.

Kegiatan konservasi yang hanya mengawetkan sumber daya alam hayati merupakan suatu jalan buntu dan cenderung hanya menghabiskan anggaran rakyat, sudah saatnya untuk mengaplikasikan teknologi untuk pemanfaatan hutan konservasi.

Keanekaragaman hayati merupakan harga mati yang harus dimanfaatkan, jangan hanya dibiarkan.