Mohon tunggu...
b
b Mohon Tunggu... Kompasianer

Terimakasih buat teman teman yang sudah membaca, vote, dan memberi komentar.Semoga banyak rezekinya ya

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

"Monster Besar" yang Tak Bisa Dikontrol Jokowi Jika Menjabat 3 Periode

21 Januari 2021   16:06 Diperbarui: 21 Januari 2021   16:09 398 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Monster Besar" yang Tak Bisa Dikontrol Jokowi Jika Menjabat 3 Periode
sumber gambar pikiran rakyat.com

Sebelumnya saya sudah menuliskan Bahaya kolusi korupsi dan nepotisme yang mengintai Jokowi jika dia menjabat selama tiga periode.Yang saya maksudkan disini bukanlah Jokowinya yang melakukan korupsi, tapi orang-orang yang menjadi lingkar kekuasaannyalah yang lebih berpotensi memanfaatkan kekuasaan Jokowi untuk keuntungan pribadi.

Yang saya maksudkan bukan tentang tiga periodenya, Tapi saat bapak-bapak demokrasi merancang dua periode kekuasaan dalam pemerintahan tentu itu adalah rancangan terbaik. para bapak-bapak yang melahirkan ide demokrasi tentu sudah memperhitungkan jika kekuasaan berlangsung terlalu lama maka akan ada penyalahgunaan dalam tubuh pemerintahan.

Bahaya selanjutnya dalam kekuasaan Jokowi Jika ia menjabat tiga periode adalah sejenis bola liar yang tak bisa Jokowi handdle. Belakangan Saya melihat bagaimana orang-orang yang pro pada pemerintahan menyerang argumen komedian Pandji pragiwaksono dengan cara yang biadab.

Bermodalkan membaca judul media online yang tidak jelas kredibilitasnya orang-orang seperti Denny Siregar, Ferdinand Hutahaean coba memblow up pernyataan Panji seperti orang yang tidak intelektual. Padahal Apa yang dinyatakan Pandji pun adalah pernyataan narasumber yang pernah diwawancarainya. Sebenarnya saya tidak ingin fokus pada isu Pandji karena menurut saya hanya orang berakal pendeklah yang mempermasalahkan pernyataan Pandji.

Yang saya maksud adalah Betapa menggelembungnya serangan-serangan terhadap mereka yang berusaha mengoreksi atau mengkritik kebijakan pemerintah. Mereka yang mempermasalahkan Front Pembela Islam sebagai organisasi radikal sesungguhnya kadang berlaku sama namun bedanya mereka melakukannya di ranah media sosial. Padahal sejatinya argumen harus bisa dibantah dengan argumen.

Apa yang menjadi gagasan dalam argumen itu bantahlah dengan gagasan, dengan data, dengan Analisa.Bukan menyerang profesinya. Dalam penyelenggaraan debat-debat resmi mereka yang menyerang pribadi bisa didiskualifikasi atau dikeluarkan ataupun poinnya dikurangi. Karena dalam aturan debat memang tidak boleh menyerang pribadi yang diserang habis-habisan adalah argumennya.

Gelembung pendukung pemerintah yang background-nya harus di kroscheck ulang inilah yang sangat berbahaya. Benarkah mereka buzzer yang dibayar. Masalahnya Mereka memiliki banyak pengikut dan Seiring berjalannya waktu sudah menjadi opinion leader yang argumennya dapat mencuci otak masyarakat.

Apalagi masyarakat Indonesia yang belum kritis dan tidak bisa diajak berbicara filosofis. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih terjebak dalam pembicaraan harfiah.Maka mereka yang background-nya harus dikroscek ini sangat berbahaya karena berusaha menggelembungkan dukungan dan menjatuhkan yang lain.

Saya yakin bukan ini cita-cita demokrasi.Sekarang mereka yang mengkritik pemerintah begitu mudah untuk dipolisikan.Saya setuju adanya penertiban argumen di media sosial Tapi semua harus di pilah-pilah.Jika dia sudah berbau hoax, fitnah, dan provokasi yang bisa menciptakan kerusuhan atau kekerasan baru ditindak.

Tapi kalau Sebuah kritik atau pernyataan yang jelas analisanya kok dipolisikan. Tentu Ini adalah sebuah kemunduran bagi peradaban bangsa Indonesia. Ini membunuh freedom of speech. Dan yang membunuh biasanya bukanlah penguasa tetapi sesama masyarakat yang begitu mudahnya melaporkan sesamanya ke polisi hanya karena perbedaan pendapat.

Dan semua ini tidak lepas dari kontribusi tokoh-tokoh seperti Denny Siregar dan teman-temannya. Saya tidak bilang semua hal yang mereka komentari salah banyak juga kok yang bagus. Tapi camkanlah hal ini, kamu jangan mengaku cinta Indonesia kalau isu yang kamu komentari bukanlah hal-hal fundamental dan signifikan pada keberlangsungan hidup Indonesia. Kalau hal yang kamu komentari hanya hal remeh maka kamu hidup dalam kesibukan olok-olok yang tak penting.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x