Mohon tunggu...
Boris Toka Pelawi
Boris Toka Pelawi Mohon Tunggu... Editor

Beli novel saya di playstore https://play.google.com/store/books/details?id=lgxeDwAAQBAJ ----------- Tulisan di luar politik klik link berikut www.kompasiana.com/tag/boristokapelawi

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Rakyat Kecil yang Menjadi Korban Prabowo

27 Mei 2019   16:35 Diperbarui: 27 Mei 2019   16:51 0 1 1 Mohon Tunggu...
Rakyat Kecil yang Menjadi Korban Prabowo
Tirto.ID

Andai Prabowo tak gemar menebar isu kecurangan dalam pilpres pasti Indonesia saat ini akan lebih teduh. Generalisasi akan suatu peristiwa hukum, yaitu kecurangan pemilu yang coba dipropagandakannya, jadi biang keladi pendukungnya melakukan aksi melawan hukum yaitu: makar.

Tiga tokoh terkenal yang sedang menghadapi proses hukum dan dua diantaranya sudah dijadikan tersangka antara lain, Eggi Sudjana, Kivlan Zen, dan Permadi.

(Baca juga: Kivlan, Eggi, Permadi Pion, Bidak Lain Siap Menyerang)

Kecurangan pemilu, dalam pengamatan saya sebenarnya minim sekali.Katakanlah ada di beberapa titik kesalahan data atau kecurangan, tapi itu bukanlah suatu usaha masif dan digerakkan oleh pemerintah.Sebab Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah lembaga independen.Lagian KPU juga diawasai oleh media, LSM, saksi dari kedua kubu, hingga masyarakat.

Saya katakan, penyelenggaraan pemilu kita sudah baik bahkan jadi percontohan dunia.Memang ada duka yang terselip atas meninggalnya petugas KPPS dengan jumlah yang tak sedikit.Tapi jangan pulalah kematian mereka dipolitisir, diracunlah, ditekanlah dll. Padahal kematian mereka adalah bukti agar terselenggaranya pemilu yang jujur, bersih dan adil.

Masalahnya sulit bagi Prabowo untuk menerima kekalahan. Orang di sekelilingnya pun bukan membesarkan hati Prabowo, kebanyakan malah menyesatkan dengan data yang tak jelas sumbernya. Sebenarnya orang di sekeliling Prabowo tak bisa berkutik saja. Sebab siapa berani melawan Prabowo? Sandiaga Uno yang berbeda sikap soal pendeklarasian diri saja konon ditampar haha.

Itu sebab Prabowo adalah tokoh utama yang harus bertanggung jawab atas semua sikap Badan Pemenangannya. Misalnya terhadap Eggi Sudjana, Permadi hingga Kivlan Zen yang menghadapi kasus makar. Demikian juga dengan wong cilik yang kini mendekap dibalik jeruji besi hingga menanti giliran masuk bui.

Sayangnya rakyat kecil, seperti si pengancam yang ingin memenggal kepala Jokowi. Sadarkah dia betapa meruginya sikapnya itu. Demikian juga dengan ratusan orang yang sudah ditangkap polisi karena jadi dalang kerusuhan 22 Mei kemarin, apa mereka tahu bahwa Prabowo berkata bahwa mereka semua itu bukan pendukungnya?

Saya tak habis pikir kenapa ada orang yang mengorbankan kehidupannya dan keluarganya untuk seseorang yang terlalu jauh untuk digapai. Prabowo bukan siapa-siapa kalian saudaraku. Di tengah kasus yang menimpa kalian adakah beliau mengirim bantuan hukum? Tidak bukan.

Kalau selama ini kita dinasehati agar tak datang ke Jakarta, atau ikut-ikutan berdemo anarkis, sesungguhnya itu untuk melindungi diri kita sendiri. Saya sedih juga membayangkan mereka yang ditangkap oleh polisi harus mendekam di penjara.

Bayangan saya, betapa rindunya anak isteri atau orang tua mereka. Demikian juga mereka, di momen ramadhan seperti ini siapa sih yang tidak rindu berkumpul dengan keluarga di rumah.Minimal untuk buka puasa bareng.

Saya juga bisa menebak bahwa hampir semua mereka menyesal atas tindakannya. Jika memungkinkan saya berharap mereka dilepaskan, namun setelah diberi pembelajaran atau ditatar dulu tentang pancasila atau NKRI.

Namun tentu tak semudah itu polisi melepaskan mereka. Kecuali jika Presiden Jokowi berbaik hati membantu mereka. Tapi itupun rasanya sulit. Sebab dalam pidatonya Jokowi dengan keras mengatakan bahwa tak ada tempat untuk para perusuh di negara ini. Aparat keamanan akan menindak mereka dengan tegas.

Miris tentu, tak ada apa-apa yang mereka dapat kini selain ancaman hukuman mendekap dibalik bui. Kebebasan terpenjara karena gegabah dalam perbuatan. Andai mereka diam di rumah, dan tak ikut-ikutan turun ke jalan, apalagi terlibat dalam membuat kerusuhan pasti kini tinggal menikmati indahnya ramadhan dalam kebersamaan.

Euh!