Boris Toka Pelawi
Boris Toka Pelawi karyawan swasta

Nominator Kompasiana Awards 2017 Kategori Best in Specific Interest . My Youtube Channel : https://www.youtube.com/channel/UCFJk69nv3ihkMYX_XDU7ZqA/videos?view_as=subscriber

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Musuh dari Hobi Itu Bernama Prestasi

14 September 2018   20:11 Diperbarui: 15 September 2018   18:54 1920 27 16
Musuh dari Hobi Itu Bernama Prestasi
Sumber Ilustrasi pixabay.com

"I don't have time for hobbies. At the end of the day, I treat my job as a hobby. It's something I love doing."David Beckham

Sebagai manusia tentu kita semua memiliki hobi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hobi adalah kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Namun pengertian ini mulai bergeser kala cukup banyak orang berhasil membuktikan bahwa melalui hobi mereka bisa menghidupi diri.

Merasa terinspirasi banyak orang berjuang agar mereka juga bisa hidup dari menjalani hobi. Masalahnya, tak mudah hidup dari hobi. 

Hobi kita tersebut harus bisa membawa kita masuk ke dalam sebuah industri. Misalnya Lionel Messi, hobinya bermain bola, tapi tanpa bergabung dengan barcelona tentu dia tak akan bisa hidup dari sekedar menendang bola.

Inilah yang membuat banyak orang berhenti menekuni sebuah hobi. Kita merasa tak ada gunanya melakukan kegiatan yang kita suka karena tak menghasilkan apa-apa.

Berapa banyak orang yang kecewa karena hobinya tak menghasilkan apa-apa, sementara orang yang memiliki kegemaran yang sama dengannya, bisa hidup dari hobinya.

Saya sendiri sempat berhenti menulis karena merasa menulis tak membawa saya kemana-mana. Juga saya tak mendapat sesuatu yang hebat untuk ditunjukkan ke orang-orang.

Saya juga berhenti bermain gitar karena merasa tak expert dan tak bisa main Fingerstyle untuk direkam, lalu diunggah ke Instagram. Biar jadi terkenal (hahaha).

Banyak orang berhenti menekuni hobinya karena merasa tak memperoleh apresiasi. Oleh karena itu saya menyimpulkan, bahwa prestasi adalah musuh utama dari hobi. Loh kok? Kok apa? Kok aku ganteng maksudnya? Hahaha.

Berapa banyak orang berhenti menekuni hobinya karena tak mendapatkan uang dari karyanya. Berapa banyak orang melupakan hobinya karena tak pernah dipuji, tak jadi tersohor, tak dapat penghargaan, dan lain sebagainya. Kita menuntut diri agar kita berprestasi melalui hobi. Bahkan kita menuntut diri untuk sukses dan kaya melalui hobi.

Tak salah sih, tapi kalaupun belum kesampaian, jangan pernah tinggalkan hobi untuk menjadi orang yang hidup tanpa kegiatan yang menyenangkan diri.

Baru-baru ini saya membaca topik seputar post power syndrome yang merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan ketidakmampuan individu melepaskan apa yang pernah dia dapatkan dari kekuasaannya terdahulu

Ada banyak kesaksian buruk tentang orang mengidap gejala ini. Misalnya ada orang yang baru resign dari pekerjaannya selama empat bulan saja, tapi sudah merasa jadi orang yang tak berguna (useless). Biasanya nyuruh-nyuruh di kantor tiba-tiba jadi ibu rumah tangga, biasanya hidup dalam keramaian kantor, sekarang harus sendiri menjaga dagangan.

Post power syndrome adalah perasaan tidak bisa menerima kondisi hidup yang tengah dijalani. Merasa asing dan tak berguna, sekaligus merasa putus asa, mudah kecewa dan semua yang dikerjakan terasa sia-sia.

Memahami tentang gejala ini, maka saya coba memaknai hobi bukan sekedar skill yang diusahakan untuk mencapai prestasi dan pengakuan. Karena saat hal tersebut tak tercapai, saya akan kecewa dan meninggalkan apa yang saya suka. Hobi buat saya adalah anugerah yang diberikan Tuhan untuk saya bersenang-senang.

Dengan menekuni hobi sembari terus mengembangkannya saya merasa berguna. Imbal hasilnya tak selalu berbentuk uang, barang ataupun penghargaan.

Saya merasa hidup, saya lupa waktu, dan saya merasa teraktualisasi. Maka sekalipun kelak hobi ini, seperti menulis misalnya, tak memberikan saya banyak pengakuan serta materi saya akan tetap menekuninya.

Mungkin kelak kita akan menulis di platform lain, mungkin juga nanti kita menemukan hobi baru. Tapi, yang perlu diingat adalah, hobi itu merupakan anugerah dari yang kuasa.

Jangan terlalu membebaninya dengan upah instan dari sekitar. Hobi harus tetap dijalani karena manfaatnya terlebih dulu merasuk ke dalam diri. Jikalau hobi itu kelak menghasilkan materi, ya syukur, kalau tidak ya.. jangan juga kecewa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2