Boris Toka Pelawi
Boris Toka Pelawi karyawan swasta

Nominator Kompasiana Awards 2017 Kategori Best in Specific Interest

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Saya Kecewa Joko Widodo Memilih KH Ma'ruf Amin sebagai Wakilnya pada Pilpres 2019

9 Agustus 2018   19:51 Diperbarui: 10 Agustus 2018   05:34 5144 31 67
Saya Kecewa Joko Widodo Memilih KH Ma'ruf Amin sebagai Wakilnya pada Pilpres 2019
KOMPAS/ALIF ICHWAN

Tanpa bertele-tele saya mau menyuarakan pendapat saya tentang dipilihnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin sebagai wakil presiden Joko Widodo pada pemilihan presiden tahun 2019.

Jujur saya sangat kecewa dengan Joko Widodo. Saya sebenarnya yakin bahwa Jokowi tahu Mahfud MD adalah sosok yang tepat untuk membantunya dalam pemerintahan.

Itulah alasan kenapa nama Mahfud MD muncul ke publik. Karena secara survei pun beliau memang unggul untuk menjadi wakil presiden. Dilihat dari segi integritas dan kapabilitas pun Mahfud MD layak untuk jadi wakil presiden.

Tapi ada benarnya juga, tampaknya Jokowi adalah seorang petugas partai. Begitu partai koalisi bergejolak saat nama Mahfud MD dipilih untuk jadi wakil presiden dia langsung keok.

Pengamat politik Rocky Gerung selalu menyerang Jokowi sebagai petugas partai, memang itulah yang dikatakan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. Saya malah melihat Jokowi saat ini begitu lemah, saya rindu sosok Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang tak bisa didikte oleh siapapun. Berani kalah demi kebenaran.

Saya bukan bermaksud merendahkan KH Ma'ruf Amin, apalagi saya beragama kristen, nanti malah disangka rasis pula.

Jujur saya melihat Jokowi seperti ketakutan terhadap isu yang dibangun oleh pihak oposisi, dalam hal ini partai Gerindra, Demokrat, hingga PKS dengan hashtag #2019gantipresiden. Padahal ada gap sekitar 10 persen suara antara dirinya dan calon presiden dari partai Gerindra Prabowo Subianto.Jokowi masih unggul jauh.

Kenapa saya kecewa? Bahkan kayaknya saya pasti golput.

Saya melihat sosok Mahfud MD adalah yang paling tepat untuk mendampingi Jokowi, selain pernah menjadi menteri, anggota DPR, hingga ketua mahkamah konstitusi beliau juga akademisi. Seorang guru besar yang sudah malang melintang dalam dunia pendidikan.

Nasionalismenya? Tak perlu diragukan. Argumennya tentang pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) selalu saya ingat. Mahfud MD tidak munafik seperti tokoh lainnya yang tahu bahayanya HTI tapi mengeluarkan argumen ambigu dengan harapan dibilang membela islam. Inilah yang saya kagumi dari Mahfud MD.

Bukankah Indonesia negara hukum? Sudah selayaknya dipimpin oleh orang berlatar belakang hukum. Tapi lagi-lagi Indonesia ini begitu kuat memainkan isu agama. Seolah kalau yang memimpin tokoh agama masalah beres. Apakah saya salah?

Saya melihat Jokowi keok di depan partai koalisi. Dengan usianya yang sudah tak lagi muda, apakah Jokowi hanya ingin menjadikan KH Ma'ruf Amin sebagai simbol atau penangkal isu semata?

Bukankah permasalahan kita saat ini adalah ekonomi dan hukum?

Saya gak ingin berkomentar apakah KH Ma'ruf Amin layak atau tidak. Saya cuman berpikir kalaupun bukan Mahfud MD, Indonesia masih punya sosok seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang jam terbangnya tak perlu diragukan lagi. 

Tapi inilah, di Indonesia ini isu agama bisa menggulingkan kekuasaan. Mantan gubernur DKI Jakarta adalah salah satu korbannya.

Seperti kita tahu selama ini ada isu bahwa Jokowi adalah seorang PKI bahkan dicap tidak pro islam, hal itu dicontohkan dengan adanya kriminalisasi pada ulama.

Saya setuju dengan analisa partai gerindra yang mengatakan bahwa Jokowi tidak percaya diri, makannya dia menggandeng KH Ma'ruf Amin sebagai wakilnya.

Padahal saya sudah berharap Mahfud MD akan dipilih Jokowi, karena memang Mahfud MD adalah orang yang ahli secara tata negara sehingga bisa membuat negara ini semakin kuat.

Saya malah jijik melihat partai koalisi Jokowi yang terlalu banyak mengintervensi pilihan Jokowi. Dan maaf-maaf aja nih, saya melihat Jokowi akan menang pada pilpres 2019 nanti, tapi saya gak melihat bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik. Entah itu secara hukum ataupun ekonomi.

Apa yang sudah dibangun saat ini bahkan bisa berantakan karena Jokowi disandera oleh organisasi keagamaan dan partai politik. Gejalanya sudah ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2