Mohon tunggu...
b
b Mohon Tunggu... Kompasianer

Terimakasih buat teman teman yang sudah membaca, vote, dan memberi komentar.Semoga banyak rezekinya ya

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Akhirnya Dia yang Meremehkan Pendidikan Itu Merana

1 Juli 2016   15:40 Diperbarui: 15 April 2019   13:48 2444 26 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Akhirnya Dia yang Meremehkan Pendidikan Itu Merana
sumber gambar:annadzir.or.id

Baru beberapa hari yang lalu seorang sahabat lama yang tinggal di pulau Sumatera, mengirim sebuah pesan kepada saya. Bunyinya kurang lebih begini, "Ris tolong carikan aku kerja di sanalah, biar nanti habis lebaran aku langsung ke Bandung." Tentu sebagai kawan saya harus tetap merespon positif, "oke aku usahain ya" jawab saya membalas pesannya.

Tapi dalam hati ini lah yang ingin saya katakan, "memangnya kau kira cari kerja itu gampang, seenak udel mu aja ngomong!" tapi kalimat itu tidak keluar, karena bagaimana pun dia adalah seorang kawan yang lagi membutuhkan bantuan.

Tanpa bermaksud menjelek-jelekan kawan saya tersebut, ada hal penting, yang sedikit banyak harus saya ceritakan. Jadi begini, kami sudah berteman lama sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Sedari kecil kami sudah tergolong anak yang malas di kelas, tapi malas nya saya masih tergolong tetap niat bersekolah.

Berbeda dengan kawan saya itu, dia memang tak peduli mau sekolah atau tidak, tapi karena waktu itu masih kanak-kanak, maka tugas orang tua dan guru lah untuk membimbingnya (termasuk saya) agar giat belajar dan bersekolah.

Kami pun masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan lulus bersama. Seperti kata orang bijak, banyak hal terjadi ketika kita belum cukup dewasa untuk memutuskanya. Oleh karena itu, saya tak ingin mengorek-ngorek masa-masa ini. 

Mungkin ketika itu kami memang masih labil dan kekanak-kanakan. Sampai tibalah kami memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada masa ini saya yakin kalau kami sudah memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab dan memilih jalan hidup sendiri. Karena pada usia ini, sekali pun mungkin belum bijak, tapi kami sudah memahami konsekuensi dari suatu pilihan.

Sebelumnya, orang tua kami (karena kami masih ada hubungan saudara) sudah sepakat akan menyekolahkan kami berdua ke Bandung setelah lulus SMP, karena katanya pendidikan di Bandung jauh lebih baik di bandingkan di Pekanbaru. 

Tapi naas bagi saya, karena ternyata saya gagal melanjutkan sekolah ke Bandung karena uang yang harusnya jadi biaya saya bersekolah malah harus menalangi kebutuhan dadakan yang memang di luar dugaan.

Dia pun sekolah di Bandung, meninggalkan saya yang harus melanjutkan SMA di Pekanbaru sambil menggerutu. Memang begitulah, saya yang sudah angan-anganya dapat cewek Bandung yang geulis-geulis jadi kesal karena gagal ke Bandung hahahahahaha.

Tapi di luar dugaan, belum sampai setahun kawan saya tersebut sudah kembali ke Pekanbaru, menurut info yang saya dapat dari ibu nya, dia malas dan tak betah di sana. (sekali lagi fokusnya adalah persoalan pendidikan bukan menjelek-jelekan siapapun)

Akhirnya dia pindah dan melanjutkan sekolah bersama dengan saya, bahkan kami satu kelas. Tapi apa hendak dikata, dia memang tak niat sekolah. Jadi dia banyak bolos, merokok di kelas, hingga tak sampai tiga bulan dia sudah keluar dari sekolah. Bukan karena di keluarkan tapi memang dia sendiri yang memutuskan untuk tidak datang lagi kesekolah. Akhirnya SMA pun dia tak tamat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x