Mohon tunggu...
Tohir Markum
Tohir Markum Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan dan wiraswasta

Bergiat dalam perintisan pembenahan eschatologic spiritual qoutient afterlife oriented yang mempunyai ranah conscience suara hati, perasaan dan logika common sense.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Perbedaan awal Iedul Fitri dan Iedul Adha

18 September 2022   22:45 Diperbarui: 19 September 2022   04:11 113 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Berikut ini, insya Allah dapat memudahkan mencermati hisab, berdasarkan sejauh yg penulis tahu, yakni ttg imkanur rukyat,yang mana harus terlihat teleskop, hilalnya sekitar 3 •°derajat, dimana dngan mata telanjang adlh 4 derajat, juga wujudul hilal, yg berdasar hitungan ilmiah. Perrtamatama penulis kemukakan, tiga elemen hitungan hisabnya, baik dalam imkanur rukyat ataupun wujudul hilal, yakni azimuth, sudut elongasi dan umur bulan. Umur bulan, yaitu dari mulai konjungsi ijtimak bulan dan matahari berada dalam satu bujur ekliptik,__ sebagai tanda awal ganti hari, misalkan kuranglebih, ,  selama 8 _11 jam__, sampai dengan terbenamnya matahari sekaligus habisnya usia hilal, yg sekitar 4 menit s/d tigapuluhan menit. Matahari di saat konjungsi ini, jikalau trjadinya dinihari, malamhari, adalah tak nampak, adapun bulan, juga tak nampak jika terjadinya siang hari, seperti pada ijtimak awal romadhon tahun ini, 1443/ H, yakni sekitar pkl. 13. 00.. Yg kedua adalah , azimuth, ada yg menyamakannya dengan altitude_ktinggian bulan,dikarnakan untuk benda langit adlh sama hitungannya, yakni : azimuth adalh menentukan arah sudut mata angin dua titik di bumi, yg berdasar titik utara, berikut lengkapnya dari lembaga resmi, badan informasi geospasial RI : Azimuth merupakan sudut horizontal yang diukur searah jarum jam dari suatu garis dasar utara dalam sebuah lingkaran dengan nilai sudut dari 1 sampai 360 derajat. Utara yang dimaksud bisa saja utara sebenarnya (azimuth geodetik), utara magnetik (azimuth magnetik) maupun utara grid/peta (azimuth peta/sudut jurusan).2 Nov 2020.             Alhasil, ktika ada di titik A, ingin ke titik B, maka ditarik tegaklurus ke utara dengan titikpusatsudut A,lalu ke titikB, misal 40•° derajat, maka ke timur laut, ,___### brikut adlh sisipan ttg back azimuth, namun tak tuntas, sdikit hitungannya : azimuth plus 180 derajat, jika azimuthnya lebih dari 180, maka dikurang180 derajat. ### .                        Kembali ke topik, ketika membuat diagram yg umum dipakai, yg mana berasal dari hitungan  geosentris berpusat di bumi ,  yakni matahari dan bumi sejajar dari utara ke selatan, yg terlihat hanyalah ufuk barat di tengah, berikut matahari, yg juga di tengah , elongasi sudut antara matahari bulan dan bumi, adalah di kiri_barat dan timur_kanan, sebesar 3•derajat . Elongasi ini adalah sbagai pantulan terjelas  matahri di piringan bulan, yakni tadinya sebesar 4° derajat skarang 3°. derajat Adapun azimuth altitude ktinggian bulan dari ufuk bumi, adalah 2° derajat, yg berdasar metode altitude, adalah sudut antara utara, yakni titik sudut di pusatbumi ke matahari, lalu garis lurus  ke bulan   sebesar 2° drajat, samadengan ktika melihat mtahari 0° drajat, ktika di ufuk,ataupun, 90° drajat,,dan carasederhananya,sekepalan kranglebih 10° drajat ,tiga kepalan dari batas ufuk ke atas, adlh tigapuluh drajat, ataupun bulan,sejempolnya adlh setengah derajat,.Juga dengan  cara hitungan azimuth pun sama ,2° drajat, yakni ditarik dari titikpusat sudut yg ada di bumi utara, yakni di titik  pusat bumi, satu kaki sudutnya ke utara tgaklurus ke matahari, lalu yg satunya lagi, ke bulan, dimana kakisudut yg ke bulan,didapatkan dari perpotongan garis orbit bulan,dengan kakisudut, yg berdasar posisi bulan, yakni dari 0°_360 °drajat, kutub utara,  terus melingkar mlewati batas 270 °drajat, sampailah ke garis potongnya yg lurus ke bulan tadi, yakni di 2° drajat, disini tak perlu dihitung back azimuthnya seperti di bumi. Azimuth bulan ini, berubah2 setiap bulannya, sesuai posisi bulan_akibat revolusi bumi pada matahari dan bulan pada bumi, adapun rotasi bumi yg lebih cepat dari.bulan adalh mnyebabkn adanya fase penampakan bulan, dimulai dari sabit di sisi kanannya,dst__ , adapunn  besarnya azimuth sekitar 2° drajat, karna jarak bumi dan bulan yg dekat, semisal juga, tatkala ada asteroid di bawah bulan , maka azimuthnya pun kecil. Un ntuk kmungkinan trlihatnya hilal, dibawahnya elongasi 3° drajat, adalah takkan trlihat,, adapun  jikalau tak ada sampai ghurub, yakni hilangnya mega syafaq kemerahan, maka artinya bahwa terbenamnya bulan_ ke barat_dan menjadi terang_adlh sebelum trbenamnya matahari, alias blum bulan baru. Dalam hal besaran sudut elongasi  ini,  adalah jika kita bergerak ke muka pada satusisinya,misalnya sisi yg di bawah maka garis dari matahari ke bulannya_titik sudut, tentunya harus bergerak pula, shingga besarannya tetap. Adapun penentuan azimuth  3° drajat   itu, adlh mempertimbangkan adanya syafaq merah, yg lebih kuat, pengaruh venus,merkurius,cillar_bintang yg cerlang, dll, dikarnakan hilal itu sangat tipis , kndati memakai kamera digital perangkat lunak prossesing image, yakni menumpuk citra satelit dengan mengontraskannya. Kembali ke diagram yg sepengetahuan pnulis adlah satu2nya dipakai, dikarnakn memang memudahkn  yakni yg memuat sisi ufuk barat, skaligys matahari yg akan terbenam yg masih bercahaya, dan elongasi kiri kanan,3° drajat, ,  azimuth tegak lurus 2° drajat, nah, jikalau dibandingkan dengan yg sesuai  nyatanya, yakni membayangkan seperti melihat dari observatorium,teleskop, photosatelit, maka yg nyata tsb, adalah  matahari dan bumi membujur dari utara ke selatan, namun sekarang di diagram umum.ini, ditidurmiringkan, utara dan selatan menjadi melintang dari kiri ke kanan, ufuk barat di tengah mengganti utara,sekaligus berhimpit dngan matahari terbenam yg masih brcahaya, lalu ke atas_langit, maka ihwal ini adalah dikarnakan cahaya matahari itu melingkupi smua permukaan bumi yg bulat dan skitarnya, olehkarnanya, menjadi tak masalah jika dibolakbalik, yakni  barat sbagai titik pusatnya di bumi, menggantikan utara,dan elongasinya tentunya adlh antara titik matahari, titik pusat sudut di bulan,,dan titik bumi, yakni garis miring di diagram umum tsb, yg 3 °drajat, dan azimuth altitudenya seperti yg tegaklurus setinggi 2° drajat dari bumi. Adapun penentuan hilal itu harus memprtimbangkn: stelah terjadinyah ijtimak_bulan dan matahari sebujur ekliptik, yg berarti  matahari akan melewati bulan, dan mnjadi bulan baru, dimana konjungsi ijtimak ini bisa trjadi kapanpun, malam,dinihari,siang,, dan  umurnya setelah ijtimak sampai tenggelam_umur bulan,  ,minimal 8 jam. Adapun ttg hadits qudsi bahwa : shaum itu untukKu, jikalau dari sudut niyat, maka maknanya adalah " "unntuk mendapat ridho Ku",***,  alhasil, tentunya smua amalan adalah : ***""" bermotiv dasar lillah karnaNya dan bertujuan untukNya_, yakni untuk mendapat rahmat-ridhoNya tak hanya untuk kebaikan di dunia , namun harus termaktub dalam hatiqalbu_qullubuyyuqilun, bahwa ingin kebaikan akhirat"""***. dalam mana, tentunya khususnya shaum, adalah banyak faedahnya juga di dunia.                          Hal yg kedua,  ll adalah ttg. Umur bulan,  , yakni dihitung setelah ijtimak, yakni posisi_ konjungsi bulan dan matahari pada garis ekliptik lonjong sebujur. Adapun konfigurasi pda stelarium adlh untuk memudahkan_simulasi, yg mana scara nyatanya, dilihat teleskop,dsb, adalah sangat berbeda ,yakni bulan berlawanan tempat dngan matahari, dan  bumi ada diantaranya, alhasil, karna bumi berputar,revolusi dan rotasi ke kanan, maka diujung baratnya itu tersisa sedikit cahayamatahari, dan menyinari_dipantulkan oleh bulan,namun masih paling muda, yakni azimuthnya ,3° drajat, dan dapat dilihat teleskop_selebar cahaya hilal, yg artinya adalah selebar besaran piringan bulan yg terawal yg dapat dilihat . alhasil, tak seperti yg berurutan terbenam ke bawah, dikarenakan mataharinya adlh tentunya tetap di atas mnyinari bagian bumi lainnya, dan karna bumi yg berputarlah, maka seolah2 bulan dan matahari itu terbenam ke bawah, padahal, dikarnakan putaran itulah, maka bulan itu nampak sedikit demi sedikit, dan letaknya adalah di seberang matahari. Alhasil, setelah konjungsi ijtimak beradanya bulan dan  matahari yg sebujur, maka matahari itu menyalip bulan, dimana jikalau sebelum bulan baru, matahari akan terbenam belakangan, alias bulan terbenam duluan yg artinya lebih dahulu memantulkan cahyamathari, barulah matahari tenggelam. Dalam hal imkanur rukyat, maka termasuk hisab hakiki, sama perhitungannya dngan wujudul hilal, namun sama dngan rukyat, dalam hal menggenapkan, apabila tak nampak hilal, dan wujudul hilal dibandingkan rukyat,  bedanya adalah, dalam hal memutuskn awal shaum , yakni bahwa yg hisab adalah  baru akan shaum setelahnya tngal satu, sdangkan yg rukyat, setelahnya terlihat hilal scara teleskop, jikalau tak terhalang awan, dan digenapkn mnjadi30, mnakala tadinya29, dan tak ada yg 31 di qomariyah. Juga ada tambahan , sbb :  yakni ihwal elongasi yg scara nyata,  sambil membayangkannya, ataupun ktika mlihat ke langit malam, juga hikmahnya adlh mentadaburinya, serta sambil dzikir, adapun hitungan sudutnya pun akan lebih dipahami, yakni, dari matahari ke  ke titik sudut pusat di bulan, lalu ke titikbumi, adalah sebesar 3 °drajat atau 6,5 °drajat. Adapun elongasi 3° drajat ini, diambil sbagai patokan, dikarnakan hilal lebih lemah  daripada syafaq merah,venus, bintang cillar, merkurius, dll, ktika di bawah 3 °drajat adapun ktika di atas 3° drajat,   mataharinya keburu terbenam total, dikarenakan usia hilalnya pada 29 Sya'ban 1443 H, adalah 9 jam 49 detik. yakni hitungannya sbb. ,untuk 1° 2°  drajat, adlh tak nampak_ ktika matahari terbenam di 29 Syaban, Jumat 1 April, hilalnya di 2° drajat , yg sebelumnya tatkala mtahari masih bersinar ,kedudukanyaadalah di 1° derajat  lalu ktika bumi bergerak_berotasi ke kanan, maka bulannya menjadi berada di ketinggian elevasi_azimuth altitude yg bertambah, yakni 3° derajat, dst, namun mataharinya sudah terbenam,  adapun posisinya , bumi adalah di atas bulan , dan elevasi_altitudenya adlah ditarik tegaklurus ke bawah_ke bulan sesuai  sudut azimuthnya.,yakni 2° drajat.  Alhasil, hisab imkanur rukyat adalah sama dngan wujudul hilal, namun, berbeda di penentuan satu Romadhonnya, yakni berdasar nampaknya, dan imkanur ini sama dngan rukyat, namun lebih memakai alat canggih. Nah, yg rukyat ini, penetapannya adalah, sama di tgl. satu, dan hitunganyapun sama memakai hisab, namun lebih mengutamakan "melihat_menggenapkan" jadi 30 hari. Alhasil, shaumnya adalah di tgl dua, bukan sama2 di tgl satu_tak  ada tgl satu yg dua versi, lalu untuk Idul Adha, tahun 1443 H inipun, , adalah telah  di rukyat lagi, yakni di tgl 29_ berdasar revolusi bulan, bukan dihitung dari Romadhon yg digenapkan, yg mana tanggal "satunya" itu, sebenarnya adlah tanggal dua.  Bagi yg shaum Romadhon di  tgl satu, tentunya dikarnakan berdasar dalil di tgl satu, yakni akan terlewat sehari, namun jika merujuk ke "menggenapkan", maka, " sepertinya " akan lebaran, ktika yg lain masih shaum , alhasil, jikalau merujuk pada haramnya jikalau tak shaum, maka, ktika ingin menggabungkannya,,tentunya  shaumnya ditambah sehari, namun, disisi lainnya ada dalil, bahwa haram pula untuk shaum di hari raya, alhasil  tentunya diperlukan  ijtihad para akhlinya. Insya Allah maslahat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan